AES170 Kecanduan Buku
carloslos
Tuesday November 25 2025, 8:51 PM
AES170 Kecanduan Buku

Halo, teman-teman yang budiman. Ada satu pengakuan yang sejak lama berusaha saya simpan, mungkin karena terdengar sepele atau mungkin juga karena takut ditertawakan. Tapi tak apa biarlah hari ini ia keluar ke udara, seperti selembar kertas yang akhirnya lepas dari genggaman angin.

Saya… kecanduan buku.

Bukan kecanduan membaca, tapi kecanduan membeli buku. Begitu kaki saya menginjak toko buku atau bahkan baru melihat sampul-sampul bergelantungan di toko daring, ada sesuatu yang bergetar pelan di dada. Seolah-olah ada panggilan samar dari tumpukan kertas itu. Mereka yang berbaris rapi, menunggu disentuh, menunggu dibawa pulang terkadang saya merasa mereka seperti anak-anak yatim piatu yang memohon diadopsi.

Dan saya tanpa daya, selalu luluh. Sekarang di kamar saya berdiri rak yang mungkin lebih setia daripada kursi kerja, ia tak pernah marah meski saya terus menambah bebannya. Di sana sekitar 65 buku sudah saya kumpulkan mulai dari novel dan nonfiksi, komik? Ah komik itu urusan lain biarlah tetap tak terhitung seperti kenangan masa kecil.

Namun masalahnya begini tidak semua buku itu selesai saya baca. Sampai hari ini, baru 41 buku yang benar-benar rampung saya selami. Yang lain? Mereka menunggu, diam dengan kesabaran yang kadang membuat saya merasa bersalah. Ada buku yang hanya saya baca sampai bab dua, ada yang saya jadikan hiasan selama berbulan-bulan sebelum saya jamah lagi, ada pula yang sengaja saya biarkan utuh karena anehnya memiliki buku sering membuat saya lebih bahagia daripada membacanya.

Dan bukankah itu terdengar seperti candu? Kalau kata Pram "Manusia kadang seperti perahu ingin terus berangkat, terus singgah ke pelabuhan baru meski muatan di lambungnya sudah hampir membuat ia karam". Saya pun begitu, keinginan menambah buku selalu lebih cepat daripada kemampuan saya menghabiskannya. Pada akhirnya saya mulai belajar berhenti, meski pelan. Mengurangi porsi membeli buku dan mencoba menyelesaikan apa yang sudah ada, dan juga memberi jeda agar dompet saya bisa bernapas seperti manusia biasa. Saya mulai mengenal rasa rindu terhadap buku baru, dan rupanya rindu itu lebih nikmat ketika tidak terus-menerus dituruti.

Toh buku itu tak lari ke mana, mereka selalu menunggu. Mungkin di antara tumpukan halaman yang masih terikat rapi itu, ada cerita yang kelak memanggil saya lagi. Dan saat waktunya tiba, saya akan menyambutnya seperti kawan lama: tanpa tergesa-gesa, tanpa rasa bersalah, tanpa dompet yang merintih. Untuk sekarang biarlah saya menuntaskan satu demi satu karena kecanduan pun perlu diolah agar ia tidak menjadi tuan, tapi sekadar sahabat yang nakal.

You May Also Like