"Have a seat on the big chair and lean back!" Kata perawat.
Saya duduk di kursi atau sebetulnya lebih tepat tempat tidur tapi bisa dijadikan kursi. Warnanya biru dan dilapisi dengan kertas yang bila nanti sudah selesai memerika pasien, kertas penutup tersebut disobek dan dibuang. Saya perhatikan suster langsung mengeluarkan alat untuk memeriksa tekanan darah sementara jari tlunjuk saya dijepit sebuah alat kecil untuk mengukur kandungan oksigen. Suster juga memerika suhu tubuh saya di dahi. Setiap kali selesai dia menyebutkan angka sambil terus menerus berkata "very good, very good" Itu yang penting bagi saya. Toh nanti sesudah selesai pemerikasaan saya akan mendapat print out dari summary pemeriksaan.
Hari ini memang jadwal physical saya. Maksudnya periksa, check up rutin tahunan. Ini sangat penting karena biasanya dari periksa rutin tahunan kita tahu apa saja yang harus diperbaiki. Saya akan periksa darah untuk melihat thyroid, gula darah, kolesterol, prostat dan sebagainya. Saya tahu bahwa mengidap Hashimoto awal mulanya dari check up seperti ini. Bayangkan jika tidak, maka tidak akan pernah tahu hingga nanti sudah terlambat lalu penyakit ini akan merembet ke kerusakan organ-organ tubuh lainnya.
Sambil memperhatikan suster bekerja, saya ingat episode pertama dari film seri di Netflix, New Amsterdam. Pada saat itu dokter berusaha menemukan detak jantung bayi yang masih ada di rahim. Semua panik karena tidak dapat menemukan, namun ketika tiba-tiba terdengar bunyi detak jantung yang khas dari mesin ultra sound, semua menjadi lega dan tanpa sadar saya meneteskan air mata. Bukan karena film itu, tapi tiba-tiba teringat akan peristiwa belasan tahun yang lalu ketika Nina dan saya memeriksa Kano yang waktu itu masih di dalam kandungan. Entah mengapa, bunyi detak jantung itu begitu ajaib di telinga saya. Ini merupakan pengalaman pertama dan terakhir saya duduk memandang monitor ketika dokter menggunakan alat ultra sound di atas perut Nina yang sebelumnya diberi semacam vaseline. Di monitor yang hitam putih itu saya bisa melihat mahluk yang sangat mungil seperti silhouette yang bentuknya tidak terlalu jelas. Ini sebuah keajaiban yang sulit bisa diceritakan. Dada saya pada saat itu begitu penuh dengan perasaan hangat, excited, bahagia, dan entah apa lagi. Membayangkan ada seorang mahluk mungil tumbuh yang beberapa saat lagi akan hadir dalam kehidupan kami berdua, itu merupakan hal yang sangat luar biasa.
Untuk sesaat ucapan suster itu tidak terdengar karena saya larut dalam kenangan, apalagi bau rumah sakit biasanya mirip-mirip. Warna dinding dan seragamnya juga mirp karena walaupun beda kota yang jaraknya ribuan miles, tapi saya menggunakan pelayanan rumah sakit yang sama. Saya suka rumah sakit ini karena mereka selalu proaktif mengingatkan saya jika sudah saatnya check up dan sebagainya, bahkan untuk colon cancer screening saja mereka terus menerus mengingatkan hingga akhirnya saya jalani beberapa tahun yang lalu.
"You have to lose weight, at least 15 pounds! Do you exercise?" Tanya dokter Rodiguez, dokter favorit saya di Fort Collins ini.
"Regularly, doc. sometimes I work out 5 days a week." Jawab saya.
"Well, then you have to watch what you eat. Less carbs, more fibers and protein. Avoid sugar, alcohol, and cut back your cakes and snack." Katanya. Artinya saya harus mulai diet hahahah.. Dulu berat badan saya hampir sama dengan sekarang tapi tidak masalah karena proporsi tinggi badan dan sekarang ternyata tinggi badan saya semakin lama semakin menyusut. Bayangkan saja selama beberapa tahun terakhir tinggi saya berkurang hampir 3 inci! Itu banyak. Dan dokter menjelaskan bahwa itu hal yang wajar berkaitan dengan masalah usia. Ya begitulah, siapa yang mampu melawan alam?
Nah detak jantung yang dulu saya dengar itu sekarang sudah dianggap dewasa! Dia sudah mampu ntraktir saya makan lobster! Hahaha... tanpa sadar saya tersenyum dan dokter juga ikut-ikutan tersenyum sambil menjabat tangan saya serta mempersilakan saya pergi ke lab untuk periksa darah.
Foto Credit: CarlaNichiata, IStock. com