AES080 pH dan Napas #6
yulitjahyadi
Thursday November 18 2021, 9:51 PM
AES080 pH dan Napas #6

Kelegaan napas adalah perubahan yang jelas kurasakan. Ketika bangun tidur, kini aku bisa bernapas dengan kedua lubang hidung. Sebelumnya hal itu sangat jarang terjadi, lebih sering mampet salah satu. Namun sekarang kebalikannya, saat hidung mampet itu adalah pertanda tubuhku kurang sehat. 

Dulu, tak hanya mampet, setiap bangun tidur selalu bersin-bersin tak henti. Tak jarang sampai seharian bersin jika sedang tidak fit, atau jika terpapar alergen seperti debu, atau perubahan suhu ekstrim seperti berpindah-pjndah antara ruangan ber-AC dan luar ruangan yang berangin. Bersin tiada henti itu melelahkan, juga bagi orang yang mendengar bersinku. 

Berawal dari kelelahan itu aku mencari tahu dan menjadi tahu. Semakin tahu maka semakin mengerti. Ooh, ternyata aku ini tipe udara yang bisa menjadi tidak seimbang saat terkena angin atau cuaca dingin. Ooh.. ternyata tipeku perlu memperhatikan paru-paru juga napasnya. 

Berangkat dari kelemahanku itu maka kugali semua hal tentang napas, tubuhku menjadi sarana belajarku. Banyak hal yang baru benar-benar kumengerti setelah melewati proses itu. 

Bahwa ternyata napas yang terengah-engah adalah sinyal tubuh yang sedang memberi tahu kita untuk berhenti membuang karbondioksida. Padahal yang teryakini selama ini, hal itu adalah sinyal tubuh yang butuh menghirup lebih banyak oksigen. 

Contoh lainnya adalah tentang kesalahpahaman terhadap karbondioksida. Barangkali masih sedikit yang paham fungsi karbondioksida dalam darah. Pelajaran di sekolah yang menerangkan bahwa CO2 adalah zat sisa dari sistem pernapasan telah membuat kesan bahwa CO2 tidak berguna dan sampah belaka. 

Saat pertama kali membaca semua teori tentang oksigen dan karbondioksida pada pernapasan, terasa membingungkan karena hubungan keduanya yang kompleks, namun perlahan bisa dipahami bahwa sesungguhnya tidak rumit. Sederhana saja, bahwa keduanya penting dan keduanya saling membutuhkan satu sama lain dan saling memberi pengaruh satu sama lain. 

Oksigen yang kita hirup, perlu mencapai sel tubuh agar bermanfaat bagi tubuh lewat perannya pada proses pembentukan energi. Jadi O2 ini harus bertemu zat makanan di dalam sel agar bisa menjadi energi. 

Cara O2 mencapai sel adalah dengan bantuan darah dan sistem sirkulasi jantung. O2 yang terhirup masuk oleh paru-paru akan diresapkan dalam darah oleh alveoli. Proses peresapan oksigen dalam darah ini membutuhkan keberadaan CO2 dalam darah. Tanpa keberadaan CO2, O2 yang kita hirup tidak bisa diresapkan dalam darah sehingga tubuh terutama otak bisa kekurangan oksigen dan hal itu akan membuat kerja sistem tubuh dan otak menjadi terhambat. 

Lalu apa yang berpengaruh terhadap keberadaan CO2 dalam darah? Jawabannya adalah cara bernapas. Saat napas terjadi dengan cepat dan terburu-buru, tubuh jadi terlalu cepat melepaskan CO2 ke udara sehingga kadar CO2 dalam darah menjadi minim. Sementara jika melatih agar napas jadi lebih lambat dan lembut, maka selain CO2 tidak terlalu cepat meninggalkan tubuh, tubuh juga terlatih untuk menyimpan CO2 lebih lama. 

Kemampuan tubuh menahan CO2 ini bisa diketahui kadarnya lewat tes menahan napas. Berapa lama mampu menahan napas dengan memencet hidung setelah mengembus napas, bisa jadi indikator kebugaran seseorang. Jika seseorang mampu melakukan CO2 Hold ini sekurangnya 30 detik maka ia memiliki pola pernapasan yang efisien. 

Kualitas pernapasan orang dari zaman ke zaman memang terbukti kian menurun. Jika di tahun 1900 rata-rata orang bernapas 6-9 kali per menit, maka di tahun 2019 rata-ratanya menjadi 12-15 kali per menit. 

Jika mau mencari tahu apakah penyebabnya, salah satunya adalah makanan. Makanan berpengaruh signifikan terhadap pernapasan. Jenis makanan yang memiliki pH rendah atau bersifat asam, akan menyebabkan darah juga menjadi bersifat asam. Hal itu akan menyebabkan tubuh bernapas secara berlebihan. 

Selain karena faktor makanan, keasaman darah juga dapat disebabkan oleh keberadaan karbondioksida. Karbondioksida memberi sifat asam. Saat darah terlalu asam, tubuh akan bernapas secara berlebihan sebagai responnya, karena tubuh mencoba membuang kelebihan karbondioksida untuk memperbaiki keseimbangan. 

Keseimbangan tubuh ditentukan juga lewat pH darah, dan pH darah yang normal yaitu di kisaran 7,35-7,45, sangat penting bagi berlangsungnya kerja seluruh sistem tubuh. Perubahan pH berarti gangguan terhadap kerja sistem tubuh yang efeknya akan jadi domino bagi seluruh sistem tubuh yang saling terhubung itu. 

Sementara itu oksigen membawa sifat basa. Saat darah sangat basa, pernapasan akan berkurang agar jumlah karbondioksida dalam darah meningkat dan pH kembali normal.

Jika meninjau sisi asam basa makanan maka terpahami mengapa makanan pembentuk basa baik bagi kesehatan tubuh. Setelah mengetahui pengaruh O2 dan CO2 pada pH darah, maka kian jelas bahwa melakukan satu hal saja belum cukup. Mengatur pola makan tanpa melatih napas atau sebaliknya melatih napas tanpa mengatur pola makan tidak akan memberi hasil yang signifikan seperti jika melakukan  keduanya.

Orang-orang yang melatih kebiasaan bernapasnya akan mulai meningkatkan kadar oksigen dalam darahnya, sekaligus akan menekan nafsu makannya dan mendorong pemrosesan makanan menjadi lebih efisien juga. 

Satu hal lagi, bagi orang-orang yang memiliki asma, melambatkan napas dan berlatih menahan napas adalah cara terbaik untuk mengatasi asma. Jika ingat cara membantu orang yang kesulitan bernapas dengan membuatnya bernapas dengan mulut yang ditutupi kantong, itu adalah upaya mengembalikan CO2 yang terlepas ke udara agar terhirup ke dalam tubuh sehingga tubuh kembali bisa meresapkan O2 dalam darah dan sistem tubuh kembali normal.