Mudik, kata tersebut pasti akan sering dikatakan akhir-akhir ini. Mudik bukan sekedar kata tentang pulang, namun lebih dari itu, suatu prosesi wajib bagi yang mempunyai tempat pulang untuk bersilaturahmi dengan keluarganya, berkumpul bersama dan merayakan hari kemenangan. Awal mula istilah “mudik” muncul di Indonesia dapat ditelusuri kembali ke zaman kolonial Belanda. Istilah ini berasal dari bahasa Jawa, yakni “mulih dhisik” yang secara harfiah berarti “pulang ke desa”. Pada awalnya, istilah ini digunakan untuk menggambarkan pergerakan penduduk yang bekerja di kota-kota besar kembali ke kampung halaman mereka pada saat liburan, terutama pada waktu-waktu tertentu seperti Lebaran atau Idul Fitri. Dengan momentum yang sudah tercipta maka istilah mudik seringkali dipakai ketika waktu-waktu tertentu yah, contohnya ketika waktu lebaran dan bahkan berlebaran kaitannya erat sekali dengan mudik. Karena apabila kita pulang pada waktu biasa, maka hanya menjadi suatu pulang yang biasa saja, kita tidak pernah menyebut istilah mudik, bisa dikatakan jarang.
Untuk yang memiliki kampung halaman diluar pulau jawa, biasanya mereka harus mempersiapkan persiapan yang matang sebelum melaksanakan mudik, khususnya materil, maka tidak banyak orang yang kampung halamannya di luar pulau biasanya mereka melakukan aktivitas mudik tidak setahun sekali, biasanya lebih, karena pada akhirnya ada sebagian orang yang memang sudah terlanjur nyaman di tanah rantauannya.
Memaknai Mudik Dalam Sebuah Pementasan
Baru saja aku melaksanakan pementasan yang mungkin bisa termasuk performance art, tidak ada persiapan khusus, sutradara hanya menyampaikan point-point penting saja. Aku memiliki peran sebagai orang yang menunggu, dan mengucapkan dialog yang sarat akan makna seperti "Hendak kemana? Barang bawaanmu banyak sekali" lalu "Hendak pulang dan sembunyi lalu kau meninggalkan banyak nama-nama". Begitulah kiranya dialog yang aku ucapkan. Pementasannya sederhana diadakan di sebuah kafe di jalan Sangkuriang. Lalu setelahnya Mas Tutun sebagai MC membacakan narasi tentang arti pulang, tiba-tiba hujan pun turun dan kami mulain mengungsikan properti seperti bangku ke tempat yang teduh. Waktu sebelum berbuka, kultum pun dibacakan oleh Mas Fajar. Kami semua mendengarkan dengan begitu khidmat diiringi oleh suara hujan dan riuh dari pohon yang tertiup angin kencang.
Kultum pun selesai adzan magrib berkumandang, aku pun dengan teman-teman lain berbuka. Lalu dengan kesadaran penuh, aku menghampiri orang asing yang tidak aku kenal sama sekali untuk aku tanya pendapat mereka tentang arti mudik. Sebelumnya aku juga minta izin dan mereka bersedia untuk aku "wawancarai". Dari wawancara itu aku mendapatkan kesimpulan bahwa mudik bisa memudarkan rasa penat terhadap kota, dan segala urusan yang menumpuk, menjadi sebuah kelegaan yang amat tenang. Dan aku belajar banyak dari mereka, bersama-sama memaknai dari kata mudik.
Tak lama berselang, performer lain pun membacakan puisi dengan lantang, kata pulang dan mudik masih menjadi headline. Aku mendengarkan, berusaha memaknai puisi yang dibacakan.