Saya memang tukang makan, dan selalu mencoba segala jenis makanan agar perbendaharaan makanan saya terus berkembang. Kalau dipikir-pikir hampir semua makanan dari 5 benua sudah pernah saya coba, walau tentu saja tidak semua jenis dari semua negara, tapi minimal jenis makanan-makanan tertentu yang dikenal dunia saya pernah. Masih ada sih beberapa hal yang antri ingin saya coba, tapi ini termasuk yang mahal, jadi masih menunggu waktu dan kesempatan yang tepat.
Liburan kemarin saya 2 kali makan malasadas, ini donut ala Portugis yang kelembutannya sangat khas serta sulit disamai donut-donut lainnya bahkan yang mahal sekalipun. Nah bagian ini saya sulit menjelaskan dan bagi mereka yang pernah mencoba, tentu mengerti mengapa saya sulit menjelaskannya dengan kata-kata. 2 kali selama liburan kemarin ternyata belum mampu menghapus rasa kangen saya pada malasadas. Baru minggu lalu ketika iseng saya pergi ke toko pastry asal Korea Selatan, Tous Les Jours, saya menemukan donut mereka mendekati rasa malasadas, sehingga saya bahagia sekali.
Ini bukan promosi, tapi Tous Les Jours memang enak sekali. Saya tidak terlalu menyukai pastries dan kue-kue Amerika karena rasanya terlalu manis, terlalu dry karena gaya Amerika tidak menggunakan emulsifier, sehingga minyak (mentega, dll) tidak teremulsi dengan sempurna sehingga menghasilkan tekstur yang kasar, tidak menyatu dan ambrol. Beda dengan kue-kue gaya Eropa. Pendek kata, karena kue-kue di Indonesia berkiblat Eropa, maka rasa dan teksturnya jauh lebih enak bagi saya. Nah, toko kue-kue ini, sesuai dengan namanya, mengadaptasi kue-kue Perancis. Jadi ya bisa dimaklumi mengapa saya menyukainya.
Untungnya saya tinggal di sini, sehingga harga kue-kue di toko ini masih masuk dalam budget saya. Toko ini ada banyak di Indonesia terutama di Jakarta dan harganya membuat saya meleletkan lidah, apalagi jika menghitung penghasilan di Indonesia, ya bukan level saya lah! Tidak mungkin khan belanja kue-kue sampai hampir 1 juta rupiah? Itu bisa buat makan selama berhari-hari jika saya belanjanya ke warung pak Ono di belakang rumah yang harga tempe waktu itu masih 1500 rupiah!
Eniwei, tadi pagi sepulang dari Gym, saya kangen makan donut itu lagi, jadi saya dengan seorang sahabat dan Nina berangkat ke luar kota. Butuh waktu sekitar 1 jam untuk ke toko kue itu di kota tetangga. Hanya untuk makan donut! Hahaha... Buat orang-orang yang tidak kenal saya, mungkin menganggap gila, mau-maunya nyupir selama 1 jam hanya untuk makan donut. Well, saya suka makan, dan kualitas makanan yang saya santap itu sangat penting! Hidup hanya sekali, jika ada kesempatan mengapa tidak dimanfaatkan? Apa bedanya dengan saya memesan Gudeg dari New Jersey seharga $20? Kenapa rela, sebab gudeg yang bisa saya beli dekat-dekat sini kualitasnya kalah jauh daripada yang saya pesan. Bahkan di freezer saya punya persediaan, demikian juga rendang jengkol ada di freezer, itu saya buat persediaan karena rendang ini buatan asli di Indonesia! Harganya sekantong kecil tidak murah, setara dengan makan 12oz (340gr) ribeye steak di salah satu restoran terkenal di sini!
Kalau sudah kangen memang sulit dibendung, bukan? Sahabat saya malah rela merogoh dompetnya $20 hanya untuk makan pisang molen Kartika Sari! Ini jajanan yang lumayan populer di kalangan orang Indonesia di Amerika oleh sebab itu banyak orang yang rela hand carry jajanan ini dari Bandung. Dengan keuntungan yang mereka peroleh hasil menjual pisang molen, bisa menutup liburan mereka ke Indonesia! Serius ini! Bisnis memanfaatkan kekangenan pada makanan kampung halaman itu sangat menguntungkan. Ada orang Indonesia yang sudah lama menetap di sini bisnisnya membuat kue lapis legit. Dia sangat terkenal dan digemari orang-orang Indonesia di seluruh Amerika. Setiap ada event besar seperti muktamar dan lain-lain dia selalu buka meja untuk berjualan. Di kota tetangga bahkan ada kenalan saya yang punya bisnis online di garasi. Yang dia jual adalah segala macam makanan dan minuman Indonesia. Laris seperti kacang goreng! Penghasilannya bisa untuk hidup dan mencicil rumah! Kalau saya cerita misalnya harga sukro rasa pedas cap Garuda, di sini dijual seharga $2.79, nah hitung sendiri berapa rupiah dan bandingkan dengan harga di toko Jogya! Atau sebagai pembanding, 1 kantong white koffie merk Luwak yang isinya ada 18 saset bisa dibeli di sini dengan harga $35.15! Kangen itu mahal Hahahaha... Jadi wajar bukan jika saya bersedia nyupir berlama-lama ke kota lain hanya sekedar membeli donut karena kangen malasadas yang di Hawaii! Demi kangen donut, saya relaaaa! Hahahaha...