AES 1354 Rentan
joefelus
Saturday March 8 2025, 8:45 AM
AES 1354 Rentan

"Mau oat, almond atau fresh milk?" Tanya saya pada Nina sambil mengambil milk jug untuk memanaskan susu.

Dalam hati saya berpikir, duh jaman sekarang itu semua serba gaya. Jaman saya kecil dulu kalau orang mau minum kopi ya tinggal seduh dengan air panas, lalu tambahkan susu kental manis. Sepertinya dahulu juga orang tidak banyak ambil pusing dengn jenis susu. Sekarang banyak orang alergi dengan susu sapi, dan pindah ke non dairy milk seperti oat, soy, almond bahkan menggunakan coconut milk alias santan!

Manusia sekarang mulai rentan terhadap banyak hal. Namanya epipen sekarang banyak dibawa orang kemana-mana demi menjaga keselamatan dari reaksi alergi. Saya tidak mengenal apa itu epipen hingga 25 tahun terakhir ketika seorang anak sahabat saya hampir meninggal 2 kali karena reaksi alergi. Jaman saya dulu berkarir di bidang kuliner pernah melihat seorang anak laki-laki wajahnya membalon karena tanpa disadari dia makan es krim yang mengandung macadamia nuts padahal dia alergi kacang. Untung ayahnya punya epipen langsung ditancapkan ke kaki dan dia kembali bisa bernapas dan nyawanya terselamatkan.

Jika melihat fenomena-fenomena semacam ini mau tidak mau saya berkesimpulan bahwa manusia makin lama semakin vulnerable. Lihat saja jaman purba ketika tidak ada alat transportasi, bagaimana manusia bisa melakukan perjalanan jauh? Jalan kaki tentunya. Mereka semua kuat karena alam menuntut mereka untuk begitu. Sekarang ketika ada seorang bapak dan anak berniat berjalan kaki dari Cirebon menuju Mekah, semua orang geleng-geleng kepala dan tidak sedikit yang tertawa. Karena apa? Karena dianggap absurd!

Manusia itu mahluk yang paling mampu beradaptasi. Jaman dulu tubuh manusia kuat-kuat dan berumur panjang. Silakan membaca kitab suci, para nabi pada jaman itu berusia sangat panjang. Nabi Ibrahim konon meninggal di usia 175 tahun, Nabi Musa tercatat meninggal di usia 120 tahun. Jaman sekarang rata-rata usia manusia 70 tahun (life expectancy) sebelum meninggal. Itu perbedaan tahun yang sangat besar.

Usia merupakan salah satu hal yang dinilai. Belum hal-hal lain. Coba sekarang kita lihat penyakit. Sudah berapa kali dunia harus menghadapi pandemi? Banyak sekali, dari abad awal Masehi hingga sekarang. Silakan cari data berapa orang yang meninggal karena flu, lebih dari 100 juta orang sejak terjadi pandemi di awal tahu 1900-an.

Kalau bicara penyakit, kita bisa mengetahui bahwa daftarnya semakin panjang. Kita bahkan dengan mudah mendapat informasi penyakit apa saja yang merupakan penyebab kematian tertinggi. Penyakit jantung masih menduduki peringkat teratas, lalu Covid, kemudian penyakit-penyakit pernapasan dan paru-paru, diabetes, ginjal dan TBC. Kalau diperhatikan, tidak sedikit penyakit-penyakit itu disebabkan karena gaya hidup.

Apakah mungkin kemampuan kita yang hebat dalam beradaptasi juga merupakan salah satu penyebab kelemahan manusia? Bukannya adaptasi merupakan bagian dari survival mechanism? Sangat ironis dan kontradiksi ya? Apakah mungkin karena sekarang kita bisa pergi kemana-mana dengan menggunakan alat transportasi sehingga tubuh kita tidak terlatih seperti jaman dulu ketika manusia pergi ke semua tempat dengan berjalan kaki? Mungkin tidak sesederhana itu. Tapi saya yakin kemajun teknologi juga merupakan salah satu penyumbang penyebab manusia menuju kemusnahan. Memang saya tidak bisa dengan mudah jump into conclusion semacam itu. Tapi saya ada sedikit keyakinan bahwa kemudahan hidup merupakan penyebab kita menjadi semakin lemah.

Ini pengalaman yang saya rasakan. Semenjak kembali ke tanah air, saya merasa tubuh menjadi sangat rentan dan mudah sakit. selama sekian tahun saya hampir setiap hari berjalan kaki minimal 10 ribu langkah, sekarang paling banter 4 ribuan. Saya jalan kaki menutup gerbang kompleks sudah menggeh-menggeh, padahal dari depan rumah ke gerbang kompleks paling hanya 100 meter jauhnya, tapi memang menanjak sangat tinggi. Entah kemiringan sudut berapa, yang saya tahu dari gerbang ke depan rumah jika ditarik garis tegak lurus, ada hampir 12 meter. Ya saya merasa ripuh, padahal tahun lalu saya bisa jogging sejauh minimal 5km 3 kali seminggu, berenang selama 1 jam 3 kali seminggu dan juga ke gym membakar lebih dari 800 kalori beberapa kali seminggu. Saya merasa waktu itu sangat bugar. Sekarang karena berenang dan gym mahal, jogging tidak berani karena belum melihat ada area yang aman, saya hampir tidak pernah berolahraga. Saya kehilangan masa otot, kehilangan kebugaran dan mudah sakit. Sejak Agustus tahun lalu saya jatuh sakit hampir setiap bulan, lebih sering jika dibandingkan dengan 8 tahun di Colorado. Tubuh saya beradaptasi untuk hidup dengan kemudahan di Bandung, dan jadi lemah!

Foto credit: restoringbalancelancaster.com