Ketika hidup kita sedang di atas, sangat mudah sekali untuk bersyukur. Kita bersyukur bahwa hidup kita penuh dengan kenikmatan, penuh keberuntungan, keberhasilan dan hal-hal yang baik lainnya. Tapi bagaimana jika kita sedang terkena musibah, ketika sedang dalam kesulitan? Mungkin pada saat itu bersyukur merupakan hal yang terakhir yang kita lakukan! Tidak ada yang berkata,"Thank God I am losing my job!" Betul khan? Tapi katanya, menurut ahli psikologi, rasa syukur dapat membantu mengatasi masa-masa krisis!
Grateful attitude katanya tidak hanya sangat membantu, tetapi juga sangat esensial. Memproses pengalaman hidup dalam kaca mata rasa syukur bukan berarti menolak kondisi negatif melainkan merupakan penyadaran akan kekuatan dalam diri yang dimiliki dalam mengubah segala rintangan menjadi sebuah kesempatan, mengubah hal negatif menjadi sesuatu yang positif. Contoh sederhana, kebiasaan di Jawa untuk merasa beruntung dalam sebuah musibah. Misalnya dalam sebuah kecelakaan, mobil hancur tidak dapat diperbaiki lagi, orang di Jawa masih bisa berkata,"Untung tidak ada korban jiwa!" Atau jika kecopetan, untung uangnya tidak banyak, untung KTP dan Sim tidak ada di dalam dompet, dan sebagainya.
Jadi memang krisis dapat menjadikan kita lebih bersyukur. Penelitian membuktikan bahwa rasa syukur dapat membantu mengatasi krisis. Jika dengan sadar membangun rasa syukur, secara psikologis katanya dapat menjadi semacam imun system yang menjadi pelindung ketika jatuh.
Ada beberapa anjuran yang bisa dicoba jika kita sedang menghadapi musibah. Salah satunya adalah mengingat kembali masa-masa paling menderita di dalam hidup yang pernah dialami. Mengingat bagaimana kita mampu melepaskan diri dari kondisi yang paling sulit, berhasil survive dalam krisis terberat dalam hidup dan lain sebagainya dapat menjadi penyemangat! Apalagi kemudian kita membandingkan dengan kondisi kita sekarang ini. Sekali lagi mengubah hal negatif menjadi seuatu yang positif.
Memang bersyukur dalam kondisi sulit bukan hal yang mudah. Tidak ada seorangpun yang merasa bersyukur ketika kehilangan pekerjaan. Kita tidak memiliki total kontrol terhadap emosi kita. Dalam kondisi sulit sangat jelas sekali bahwa kondisi emosi kita ter-compromised! Kita tidak bisa mengubah perasaan khawatir menjadi perasaan bahagia seperti membalikkan telapak tangan. Perasaan berjalanan beriringan dengan bagaimana kita melihat dunia, seiring dengan pikiran kita terhadap situasi saat ini, seiring dengan bagaimana seharusnya sebuah situasi terjadi. Ada dua kutub yang berseberangan antara 2 perasaan itu.
Tapi coba cara ini. Pikirkan sebuah peristiwa yang paling menyedihkan dalam hidup, peristiwa yang paling sulit dalam hidup, lalu bandingkan dengan kondisi sekarang ini. Pikirkan betapa hidup sekarang ternyata jauh lebih baik dibandingkan dengan saat itu, walaupun seandainya sekarang juga sedang menghadapi masa sulit, tapi jika dibandingkan dengan saat itu ya tidak terlalu buruk. Kita akan dengan lebih mudah merasa bersyukur, bukan?
Saya menulis ini karena beberapa saat yang lalu mendapat berita dari sekolah Kano. Salah seorang murid di sekolah meninggal dunia karena bunuh diri. Saya membaca berita itu ketika berada di dalam kendaraan sedang menunggu Kano pulang sekolah. Ini sebuah berita yang membuat saya susah hati. Membayangkan bagaimana sebagai orang tua jika menghadapi situasi ini membuat saya sulit bernapas. Ini bukan hal yang mudah saya cerna tapi tanpa mengurangi rasa prihatin terhadap keluarga yang terkena musibah, saya begitu bersyukur bahwa ada ikatan emosi yang sehat dan sangat kuat dalam keluarga saya.
"Hey Kano, I had news from school about one of your friends who died recently. If you want to talk, I am here for you. Your parents are here with you." Kata saya.
"I'm cool, daddy. I do not know him at all, never been in the same class and I don't even remember I have ever met him. We have hundreds of students at school so it's not possible to know everybody." Jawab Kano
"So you are okay with the news?" Tanya saya meyakinkan.
"Well, it's devastating news, but yeah bad things happen. But I'm cool!" Katanya.
Kami berdiam diri ketika kendaraan bergerak. Pikiran saya masih berkecamuk antara rasa sedih, rasa tercekam tapi juga dipenuhi rasa syukur karena, (maaf, saya agak merasa berdosa dalam hal ini), bahwa bukan saya yang mengalaminya.
"Let's get your favorite chicken at Raising Cane's" Kata saya
"Let's go!" Kata kano sambil tersenyum kesenangan. Dan kendaraanpun meluncur di jalan raya yang tidak begitu ramai.***
Baru sempat baca esai ini... Thank you Jo for sharing.