AES 07 Hari-hari Isolasi
ratrikendra
Saturday February 12 2022, 4:33 PM
AES 07 Hari-hari Isolasi

Mengisi hari-hari isolasi, saya mencoba mengisi waktu dengan mengisi diri. Mengalihkan sejenak rasa sedih dari  keterpisahan dengan keluarga. Beribadah, duduk hening, hingga bernyanyi sambil main gitar, membaca buku-buku lama, membuka benda-benda penuh kenangan, termasuk melihat satu persatu video yang selama ini tertunda. Salah satunya adalah dialog antara Habib Husein Ja'far dan Sabrang , terkait Overthinking dan Masalah Hidup. 

Menarik melihat Mas Sabrang menelaah fenomena ini dari beberapa sudut pandang sekaligus. Kadang ia pakai kacamata sains-logika, kadang dibawa ke kajian sosiologi-budaya, kadang dikembalikan lagi dengan tinjauan agama. Ada fenomena menarik yang disampaikan. Orang masa kini, dengan diliputi begtu banyak kemudahan, berakibat memiliki banyak 'ruang' di otak. Dengan kemudahan yang dialami, kadang lupa bersyukur atas segala hal yang dinikmati sehari-hari, karena dianggap sudah sewajarnya demikian. Prioritas manusia pun jadi bergeser, ke arah popularitas. Modernitas, penuh dengan distraksi. Dopamine trick. Hmm.. menarik untuk dikaji lanjut.  

Dari dialog tersebut, saya belajar banyak, tentang kapasitas sekaligus keterbatasan manusia. Tentang peran agama, dan bagaimana sebaiknya kita menghayati kitab suci sebagai pegangan hidup. 

"Ketidakmampuan memahami komprehensi agama, bukan datang dari limitasi agama, melainkan dari limitasi pemahaman kita atas agama."

"Agama adalah modal paradigma untuk melihat jagad di luar saya. Komprehensi paradigma, untuk melihat dunia apa adanya."

"Bagaimana menerjemahkan bentuk Qur'an dalam alam semesta?"

Lalu pertanyaan selanjutnya: Dari mana Mas Sabrang mendapatkan pemahaman yang begitu luas sekaligus mendalam?

Ternyata jawabannya sederhana, dari Bapak dan Ibunya. Bapak (Cak Nun) senantiasa menemaninya, saat ia begitu penasaran, misalnya bagaimana tubuh cacing yang lembut bisa masuk ke tanah yang keras. Lalu ketika Ibunya spontan turun, ikut mendorong becak yang dinaikinya saat melewati sebuah tanjakan. 

Lalu saya pernah mendengar satu kajian lain, tentang peran orangtua dalam menghantarkan nilai-nilai keagamaan kepada anaknya. Bahwa yang dibutuhkan, bukanlah wejangan semata, namun lebih kepada tauladan dan kehadiran seutuhnya. Bukan hanya tentang ayat-ayat yang dihafalkan, tapi sejauh mana mendamping anak untuk mengamalkan dalam keseharian. Kembali kepada koneksi. 

Dari sekian banyak cerita dalam kajian tersebut, saya bersyukur bisa mengalami momen-momen spiritual bersama orangtua. Sesederhana berjalan sore tanpa alas kaki bersama Bapak, melihat matahari terbenam di ujung lapangan, sambil bicara tentang kehidupan. Atau momen bicara dari hati ke hati dengan Ibu, tentang perjuangan dan keikhlasannya menjalani ujian.

Terima kasih Tuhan, nan Maha Baik, Maha Pengasih, Maha Penyayang.