AES 1425 No Longer The Same
joefelus
Wednesday June 4 2025, 11:27 PM
AES 1425 No Longer The Same

Hari ini sebenarnya adalah hari spesial. Kano hari ini tepat berusia 20 tahun. Luar biasa sekali bahwa waktu bergerak begitu cepat sehingga tanpa sadar, yang selama 19 tahun yang lalu saya dan Nina selalu berada bersama dia ketika berulang tahun, hari ini untuk pertama kalinya dia merayakan hari jadinya tanpa kami. Sesuatu yang membuat saya merenung.

Saya memang menyibukkan diri seharian. Pagi hari berolahraga bersama para tetangga kompleks lalu berkebun dilanjutkan dengan membuat roti. Kabetulan hari mulai mendung sejak siang, jadi saya mencoba mencari kegiatan di dalam rumah seperti memasang handle kabinet di dapur yang sudah cukup lama tertunda, tapi begitu semua selesai mau tidak mau saya kembali merenung. Ada sebuah perasaan yang memang harus saya hadapi dan saya olah karena selama ini membuat banyak kebingungan.

Ada yang mengatakan sebagai post parental syndrome, ada yang menyebutnya sebagai empty nest syndrome jika akibatnya sangat berlebihan bisa menjadi masalah klinis. Saya tidak separah itu. Tapi adalah suatu yang wajar jika seorang tua merasa kehilangan anaknya yang sudah menjadi seorang dewasa, apalagi jika dia adalah anak semata wayang. Mungkin itu yang dulu sering dikatakan teman-teman: "Kasih adik dong, kasihan nanti dia sendirian." Kebetulan Kano tidak kepingin adik dan bagi Nina dan saya sudah terlalu terlambat untuk itu. Mungkin akan lebih mudah jika memiliki lebih dari satu anak, tidak tahu juga karena saya tidak mengalami itu. Tapi saya pikir walau punya anak 12 sekalipun ketika anak bungsu beranjak dewasa dan meninggalkan rumahnya, orang tua pasti akan mengalami hal yang sama. Mungkin loh karena lagi-lagi saya tidak mengalami itu.

Membesarkan anak bukan hal sepele. Perjalanan dan petualangan sebagai orang tua juga merupakan masa-masa yang sangat luar biasa. Kami selalu bertiga, membentuk team yang kompak dan senang melakukan banyak hal sama-sama, hingga saat masuk sekolah, Itu pengalaman pertama "berpisah". Dari hanya beberapa jam sehari menjadi setengah hari hingga akhirnya hampir sepanjang hari. Itu sepertinya merupakan masa-masa latihan, lalu mulai rentang waktu yang lebih panjang. Hal semacam itu tidak akan pernah terhindarkan, cepat atau lambat akan terjadi dimana seorang anak pergi meninggalkan orang tuanya. Apakah saya siap? Tadinya merasa begitu hingga pada saat dimana kami benar-benar berpisah. Ini sebuah pengalaman baru yang sulit bisa diungkapkan.

"Happy birthday, Kano!" Kata saya sambil mengangkat sebuah botol bir dingin tinggi-tinggi.

Tidak ada perayaan, tidak ada hadiah, bahkan yang bersangkutan saat ini ada di tempat kerja. Siang tadi kami berusaha menelepon dia untuk mengucapkan selamat, tidak ada jawaban. Dia mungkin sudah terlelap karena harus masuk kerja pagi. Barusan dia berkata belum ada kesempatan untuk menelepon, mungkin nanti seusai jam kerja, katanya. Saya meneguk isi botol sedikit, hanya sekedar menandai bahwa hari ini adalah hari istimewa walau pada kenyataannya biasa-biasa saja.

Penelitian mengatakan bahwa banyak hal yang dapat mengakibatkan masalah ketika berpisah dengan anak. Perubahan seringkali membuat orang menjadi tertekan. Kondisi yang sangat menantang, apalagi jika tinggal sangat berjauhan seperti yang kami alami. Butuh usaha yang keras untuk dapat menyesuaikan diri. Ini adalah pengalaman yang sangat emosional. Seperti yang pernah saya ungkapkan dalam obrolan-obrolan terdahulu, saya sempat merasa tersesat dan kehilangan tujuan hidup. Yang selama ini terfokus pada tugas seorang ayah, tiba-tiba terengut begitu saja. Pada saat yang bersamaan saya juga harus pindah tempat tinggal, pensiun dari pekerjaan dan dihadapkan pada penyesuaian kembali dengan kehidupan yang sudah sekian lama tidak dialami. Itu pengalaman yang luar biasa berat.

Perasaan kehilangan bukan sesuatu yang mudah dihadapi. Saya kehilangan banyak hal. Kehilangan peran sebagai ayah, kehilangan profesi, kehilangan peran sebagai orang yang dibutuhkan, kehilangan perasaan sebagai orang yang memiliki tanggung jawab akan banyak hal, dan lain sebagainya. Tidak lagi penting, tidak lagi dibutuhkan, tidak lagi dicari-cari, tidak lagi terus menerus dimintai tolong, bukan lagi siapa-siapa. Nah sampai di sini saya bertanya-tanya, apakah setiap orang yang memasuki saat pensiun merasa juga demikian? Bisa saja. Tapi katanya ada orang yang merasa bebas.

Memang ada sukanya ketika saya tidak lagi harus tidur awal dan bangun pagi-pagi karena harus ngantor. Saya tidak perlu lagi jengkel karena banyak manager yang malas sehingga pekerjaan saya terganggu. Memang benar, tapi juga tidak sepenuhnya begitu. Segala bentuk tantangan yang dulu saya hadapi sebetulnya secara tidak langsung merupakan semacam pertanda bahwa saya memiliki peran, memiliki tanggungjawab dan ada sense of purpose, ada perasaan being useful atau being needed. Semuanya itu menjadikan hidup begitu meaningful. Ketika semuanya tidak ada lagi, hidup jadi mulai dipertanyakan!

Ini masa peralihan. Semua predikat memang pada saatnya harus mulai dilepaskan satu persatu. Seperti halnya kemampuan tubuh juga mulai menghilang sedikit demi sedikit. Begitulah hidup. Semuanya harus bisa dirangkul dan disyukuri walaupun sekarang mungkin sudah tidak lagi dimiliki karena pada dasarnya kita kehilangan karena pernah memiliki. Kita tidak pernah bisa menghargai yang kita miliki jika tidak pernah merasa kehilangan, demikian juga sebaliknya.

Foto credit: Wikipedia