Nyaho can tangtu ngarti, ngarti can tangtu bisa, bisa can tangtu Tuman, tuman can tangtu ngajadi
Pasti kalau di Smipa sering terlontarkan, ucapan seorang Aki Muhidin ini. Berdasarkan pengamatanku sendiri selama beberapa tahun di Smipa, ada quote ini yang terlampir pada surat akhir itu, yang namanya panjang euy hehehe. Pokoknya, ini merupakan hal yang sangat random, yang muncul di kepalaku sendiri. Setelah dipikirin lagi, ehh lho kok sangat bermakna dan sangat menyangkut kehidupan sehari-hari ya? Ya sudah, saya tulis aja di sini kenapa tidak.
Memang benar, kalau kita tau kita belum tentu ngerti. Kalo ngerti, ya sudah pasti tahu lah. Misalnya, tentang dunia arsitektur. Kalo saya sendiri, jelas tahu tapi tidak begitu mengerti. Apalagi kalau sampai proses-proses berikutnya, yaitu bisa, tuman, ngajadi.
Itu semua adalah proses ya, dari semula tidak tahu, jadi tahu, sampai akhirnya jadi terbiasa ya. Kalau di sekolah/rumah belajar juga begitu pastinya. Apa materi yang disampaikan oleh ahli, mentor, kakak, narasumber semua itu pada akhir sesi kita bakal tahu. Apakah kita bakal ngerti? Belum tentu, kalau kita nggak fokus dan hanya melamun, hal apa yang bisa dimengerti? Meskipun mungkin kita tahu, tapi kita tidak benar-benar mengerti. Aku sendiri merasakan hal itu, dimana saat masa SMP, sempat beberapa kali hanya melamun saat mendengar Kakak ngoceh, lama dan bosan. Tapi akhirnya rugi sendiri, karena tidak begitu menyimak dan harus menanyakan kepada teman, "ntar ngapain emang?"
Karena saat itu aku ga niat, maka hanya sekedar tahu saja tidak mengerti. Dalam proses kehidupan, kalau nggak niat itu sama saja nggak ngapa-ngapain, muter-muter bingung arahnya kemana. Coba saja kalau ada arahan, mulai dari pengen tau, pengen ngerti, ingin bisa, ingin membiasakan diri dan akhirnya menguasai/ngajadi.
Saat orang bertanya dan atau memberi tahu kita tentang sesuatu, jangan deh bilang 'aku udah tahu kok!': jangan pernah. Memang kita sudah tahu, tetapi kata itu muncul dari alam bawah sadar secara responsif dan kita tidak benar-benar peka, malah kadang bosan mendengarnya sampai bilang seperti itu. Ingat, tahu kan belum tentu mengerti, selama kita sendiri belum benar-benar mengerti, kita harus belajar dan mendengar lebih lanjut.
Pokoknya kalau belajar jangan merasa cukup deh. Taruh ekspektasi yang tinggi, selama belum tercapai jangan merasa bangga dan hebat sudah melewati prosesnya, selesaikan dulu. Saat sudah mencapai akhir, baru bisa melihat proses ke belakang dan tersenyum.
Halo Haegen, tulisan ini telah terpilih untuk dibukukan, mohon izin tulisan ini diterbitkan di buku 5 Atomic Essay Smipa Pecah Telor [AES001], semoga berkenan ya. Terima kasih. 🙏🏻