AES118 Asumsi
Sanya
Wednesday February 19 2025, 1:08 PM
AES118 Asumsi

Terpantik dari diskusi siang tadi, ada hal menarik yang ingin aku ulur lebih panjang lagi mengenai menulis. Menulis memang terasa berat dan membingungkan bayangkan saja berapa sering kita menulis esai atau mengarang pada pelajaran bahasa indonesia dibandingkan dengan menjawab soal matematika? Berapa banyak membaca buku novel atau komik dibandingkan dengan membaca buku cetak mata pelajaran? Mata pelajaran wajib matematika, kimia, fisika, biologi, bahasa indonesia dan bahasa inggris. Mata pelajaran mana yang dianaktirikan? Sejak dulu kita terbiasa melatih kemampuan berlogika tanpa menguatkan kemampuan menuangkan pikiran padahal keduanya harus berjalan selaras tanpa saling meninggalkan dan lebih superior.

Sampai sini apakah menyakitkan? Ya, aku merasakannya sendiri. Aku kesulitan membuat karya tulis ilmiah. Bagiku sulit menuangkan ide menjadi sebuah tulisan yang sesuai tanpa bias dan ambigu. Kesulitan yang kuhadapi menjadi pemicu untuk terus berlatih. Seperti kata mutiara sebuah buku tulis jamanku dulu, "Practice Makes Perfect".

Menulis karya ilmiah saja sudah memutar otak, serunya menulis lepas lebih memusingkan lagi. Banyak variabel penghalang yang dapat mematahkan keinginan untuk menulis. Variabel besarnya adalah cemas dan malu. Keduanya tidak muncul sebagai variabel pengganggu pada karya tulis ilmiah disana yang ada hanya variabel malas, lebih mudah. Mari kita breakdown satu persatu.

Cemas dan malu, paket hemat pembatas kreativitas.

Asumsi: orang akan men-judge tulisanku, aku takut memperlihatkan diriku pada orang-orang yang kukenal, aku tidak sepintar itu menulis, aku tidak bisa menulis.

Sebagai makhluk sosial sudah layaknya reka adegan yang otomatis terputar bahwa setiap perilaku kita akan dinilai orang lain. Itulah bias kognitif alias spotlight phenomenon. Sederhananya seperti memakai alas kaki yang berbeda pasang saat sedang jalan-jalan. Pasti semua orang terasa melihat kita dengan tatapan aneh dan kasihan. Perasaan tidak nyaman saat menjadi pusat perhatian. Kenyataannya tidak seseram itu, beberapa menit pertama orang akan mengingat kita sebagai orang yang konyol namun beberapa saat kemudian dia akan lupa karena sibuk dengan urusannya sendiri. Alas kaki yang berbeda bukan suatu hal penting yang akan diingat orang sedalam itu. Bagi mereka tidak penting, asumsi kitalah yang menelan segalanya.

Jika lebih banyak manfaatnya kenapa harus berhenti bahkan sebelum memulai karena narasi negatif yang kita buat sendiri. Biarkan orang men-judge bukan tugas kita mengklarifikasi tanggapannya terhadap kita. Tugas kita hanya menyaring narasi yang orang buat mengenai kita dan melanjutkan menulis narasi kita sendiri.

***

Kamu boleh men-judge aku berdasarkan tulisanku yang kamu baca, aku memang sedang berproses jika dalam prosesku tidak sesuai dengan sudut pandangmu tidak mengapa, kita punya 1001 cara pandang yang berbeda. Bisa jadi tulisanku hari ini pun tidak relevan lagi dengan penulisanku dimasa mendatang.

Jika dengan membaca tulisanku membuatmu tergerak ingin melakukan hal yang sama sepertiku, terima kasih sudah mau mencoba. Jika tidak dan malah membuatmu mundur untuk menulis juga tidak apa temukan saja kenyamananmu yang lain, tapi setidaknya kamu memiliki pandangan lain mengenai tulisan kan?

Andy Sutioso
@kak-andy   last year
Wah kontan jadi tulisan - hasil diskusi beberapa jam lalu. Hebat bener... Tapi sepakat banget dengan pemikiran Sanya. Terima kasih. β˜πŸΌπŸ€—πŸ™πŸΌ