Bagi mereka yang sedang atau telah lama mengenal ranah spiritual, pasti sudah familiar dengan istilah “kesadaran”. Meskipun kadang masih ada saja miskom tentang istilah ini, namun rata2 paham apa yang ditunjuk olehnya. Namun bagi yang masih awam sama sekali, atau tidak tertarik dengan ranah spiritual, istilah yang sudah sederhana ini pun masih terdengar sebagai sesuatu yang perlu dicapai, punya “tingkat tertentu”, filosofis, dan “tinggi”. Diam-diam akan tercipta jarak. Orang bisa merasa “ini nggak cocok untukku”. Padahal kesadaran sejatinya adalah alaminya semua manusia, baik mereka yang mencari maupun yang tidak. Dan setelah mengenalinya, hidup akan terasa lebih hidup. Mengenalinya adalah bukan akhir pencarian, malah dalam banyak pengalaman, pencarian adalah salah satu yang menghalangi kesadaran ini dikenali.
Dulu aku mengira untuk sadar itu aku perlu mengerti dan paham konsep-konsep spiritual dulu. Aku baca banyak buku, belajar dari banyak guru, mengikuti banyak podcast dan konten terkait kesadaran agar benar2 paham. Semakin aku banyak tahu, diam-diam ada ego baru terbentuk: “aku yang paham spiritualitas”. Tapi tubuh ngga pernah bohong. Aku masih merasa roller coaster emosi dalam mengasuh Kido, setelah itu diikuti dengan rasa menyesal dan menghakimi diriku sendiri yang kuanggap harusnya aku sudah bisa lebih ajeg dalam soal ini. Siklus itu pun berulang. Aku pun mulai mencari-cari, apa yang salah dalam cara pengasuhanku. Rasanya semua sudah kuikuti sesuai idealnya.
Untungnya Kido sungguh gigih dalam memantik emosiku 😆, karena justru dari dialah aku banyak belajar dan berlatih, hingga menyadari satu kuncian yang penting dalam mengenali kesadaran: kondisi sistem saraf. Ini juga yang membuat orang-orang merasa kesulitan belajar teknik kesadaran (padahal kesadaran bukan teknik, tapi teknik adalah salah satu cara untuk menemukan pintunya).
Kesadaran menjadi lebih mudah dikenali secara effortless ketika tubuh kita merasa aman, ketika sistem saraf tidak sedang berjaga, baik dari ketegangan kasar dan terutama ketegangan halus (ini yg sering tidak kita sadari). Kesadaran tanpa turun ke tubuh akan cuma jadi konsep di kepala. Makanya akhirnya cuma banyak muter2 konsep di kepala, fasih membahas tentang kesadaran, tapi tubuhnya masih tegang, masih suka menyesali ketika “tidak sadar”, masih menghafal “posisi benar/seharusnya”. Agar tubuh merasa aman, kita perlu lebih sering menghuni tubuh, benar-benar tinggal di dalamnya, bukan cuma menggunakannya.
Dalam keseharian, kita sebagai manusia modern sering hidup di kepala (mikir, berencana, mengolah narasi, overthinking), melompat dari tugas ke tugas, bergerak cepat, time is money, tapi jarang merasakan tubuh secara sadar. Akibatnya ketika ada trigger (anak rewel, capek, konflik dsb), tubuh tidak punya basis aman, langsung masuk mode darurat. Bukan semata karena situasinya atau pemicunya, tapi karena tubuh jarang ditemani sebelumnya.
Menghuni tubuh itu seperti apa sih? Sebenarnya sederhana banget, tapi cukup radikal. Contohnya: merasakan telapak kaki saat berdiri, menyadari napas saat bicara, merasakan bahu saat tegang. Tidak ada yang perlu diperbaiki, tidak ada yang perlu ditenangkan, hanya menemani tubuh dari dalam dan membiarkan semua sensasinya diketahui. Dan ini dilakukan dalam keseharian terutama saat tenang, saat aman, bukan saat ada lonjakan emosi. Karena ketika sudah masuk krisis, sistem saraf biasanya sudah terlalu overload. Dan menghuni tubuh akan jadi sebuah upaya keras, malah semakin menambah ketegangan. Namun jika dalam keseharian sudah terbiasa menghuni tubuh, ketika krisis datang tubuh sudah biasa ditemani, dan kita akan lebih bisa hadir secara effortless.
Jadi kehadiran adalah kesadaran yang turun ke tubuh. Semakin sering kita menghuni tubuh, semakin tubuh belajar bahwa ia aman. Ketika tubuh aman, kesadaran akan mudah dikenali tanpa usaha. Dan sebagai orang tua, pengasuhan sehari-hari justru menjadi medan praktik kehadiran yang sangat optimal 🙂.
Apakah itu termasuk spiritualitas? Kalau dilepas dari istilah-istilah langit, spiritualitas itu artinya mengenali kehidupan berlangsung sebagaimana adanya sebelum ditafsirkan pikiran. Dan hidup selalu hadir lewat sensasi, rasa, getaran, yang bisa dirasakan lewat tubuh. Menghuni tubuh bukan mengganti spiritualitas dengan psikologi, tetapi membuat spiritualitas bisa dialami, bukan hanya dipikirkan.