Saya sedang banyak berhadapan dengan permasalahan rumput liar dan gulma. Butuh bekerja secara rutin untuk mengurus ini semua, belum lagi membersihkan daun kering yang harus dipungut satu persatu di atas batu. Baru sadar bahwa masalah halaman berbatu adalah sulitnya membersihkan daun karena tidak bisa disapu. Saya mulai mempertimbangkan membeli peniup daun berukuran kecil sehingga tidak terlalu kuat agar batu-batu kerikil tidak ikut tertiup.
Eniwei, saya mulai mencari informasi bagaimana caranya membunuh rumput liar dan gulma di internet. Asyiknya jaman sekarang, kita dapat menemukan jawaban apa saja di sana, dari masalah sepele hingga masalah kejiwaan hahaha.. Nah, saya menemukan ada sebuah resep yang dapat menggunakan semua barang yang ada di dapur, larutan cuka, sabun cuci piring dan garam. Ada takarannya di sana. Saya tidak bisa menerima begitu saja, sebab harus tahu juga dampaknya apa terhadap lingkungan. Cuka dan garam mungkin masih dapat diterima tapi sabun cuci piring itu bisa berdampak sesuatu.
Saya ingat ketika masih bekerja di CSU, di Fort Collins sana. Untuk membersihkan dapur saja kami perlu melihat larutan kimia apa yang ramah lingkungan. Penggunaan klorin juga sangat dibatasi sebab konon sangat mempengaruhi keseimbangan lingkungan, sabun cuci piring juga hanya jenis-jenis tertentu yang diijinkan. Nah, kebiasaan ini sepertinya masih melekat pada diri saya. Sabun cuci piring di Indonesia belum tentu pengawasannya seketat di negara maju, jadi saya harus berhati-hati. Memang seringkali solusi yang ramah lingkungan berarti saya harus mengeluarkan ekstra biaya, tapi daripada saya menjadi salah satu dari penyebab kerusakan lingkungan, dosanya lebih besar bagi generasi selanjutnya. Ya, sebisa mungkin saya mengurangi penggunaan benda-benda yang merusak.
Eniwei, saya mulai membaca komen-komen yang ada di sana. Lalu ada seseorang yang menulis begini, "Seharusnya jangan menggunakan garam di kebun sebab akan membunuh segala sesuatu. Tanaman tidak akan tumbuh selama bertahun-tahun. Itu membunuh serangga, burung, kupu-kupu. Sangat tidak baik digunakan di kebun." Nah, lalu ada yang menjawab begini: "Kamu seharusnya menyampaikan nasihat ini pada mereka yang menerima vaksin!" Nah, dari situ diskusi menjadi melebar.
Kadang kala saya tanpa sadar garuk-garuk kepala ketika berhadapan denga hal seperti ini. Bayangkan, gara-gara membahas larutan pembunuh rumput liar, kemudian merembet ke vaksin, kelompok anti vaksin lalu berakhir dengan saling menghujat antar pengikut partai politik. Sebegini rapuhnya kah manusia sehingga sangat sulit untuk tidak memojokkan orang lain? Memang benar bahwa mereka mencontoh pemimpin yang mereka "imani" karena dia adalah seorang perundung yang sangat suka memberikan nama ejekan pada orang-orang yang dia tidak suka. Tapi sebegitu mudahnya kah masyarakat mengesampingkan identitas dan karakter diri yang mulia demi melekatkan diri pada junjungannya? Bagi saya tidak masuk akal.
Contoh sederhana, ada beberapa aktor perfileman yang sangat saya sukai. Saya suka Sean Connery, Robert de Niro, Tom Hanks, Al Pacino dan banyak lagi. Tapi apakah lalu saya berusaha meniru mereka? Tidak! Mereka itu hanyalah aktor, dan tahu sendiri bukan bahwa aktor itu pekerjaannya berpura-pura. Belum tentu dalam kehidupan sehari-hari mereka semulia seperti ketika mereka berperan di filem. Demikian juga tokoh politik. Saya yakin diantara mereka banyak sekali yang hati nuraninya berkata lain dibandingkan dengan ucapan-ucapan mereka. Atau malah kebalikannya ada yang hati nuraninya buruk tapi mengumbar kata-kata bak puisi nan mendayu-dayu. Mereka semua hanyalah bermain peran. Apakah masyarakat tidak mengetahui ini?
Memang benar ada yang sungguh-sugguh menjalankan amanahnya sesuai dengan hati nurani dan kebajikan mereka. Itu patut kita junjung, tapi bukan berarti saya harus menjadi seperti dia. Tidak! Saya punya identitas unik tersendiri, saya bisa mengambil banyak hal yang bisa dijadikan contoh dalam bertindak, tapi tidak mati-matian ikut-ikutan mengatakan apapun yang tokoh yang saya kagumi itu.
Nah, urusan mencari tahu tentang larutan pembunuh tumbuhan liar ujung-ujungnya membahas urusan menyuntik badan dengan cairan pembersih, atau menolak diberi vaksin. Apa pula ini? Saya pusing, apapun yang saya cari di internet dan membaca komen, ujung-ujungnya banyak yang lari ke politik atau lebih parah lagi agama. Dunia menjadi sangat melelahkan.
Foto credit: pinterest.com