Pake S di belakang biar banyak tanpa perlu ngulang kata, ekslusif-ekslusif. Kan emang penekanannya di banyaknya, bukan di eksklusifnya. Intinya, kalau mau jadi inklusif pertama-tama adalah jadilah ekslusif terlebih dahulu. One must disconnect in order to connect.
Kalau pake hukum cara berpikir sistem, ini tuh bunyinya yang easy way out often leads back in. Dalam konteks kita memang perlu repot kalau mau menyelesaikan persoalan secara holistik, dan kerepotannya adalah mengurusi hal partikular dengan cara spesifik.
Jadi semacam, kalau mau memasukan baut ke kayu pakai obeng. Kalau mau memasukan paku ke kayu pakai palu. Kalau mau memasukan baut ke tembok bor dahulu, kalau mau memasukan paku ke tembok pilih paku beton. Bisa sih saling bertukar, easy way out. Nah, leads back in nya apa?
Memakan waktu lebih lama, padahal niatnya ingin mempercepat. Ingin cepat memaku tembok, malas cari paku beton, adanya paku kayu, ah sama-sama paku, lalu pukul paku kayu ke tembok pakai kapak karena palunya jauh, males ambil. Tembok pecah, kapak retak, lantai berantakan.
Lahirlah tiga kerjaan baru yang lebih memakan waktu. Ini memang ada hubungan dengan laws of systems thinking yang keenam, faster is slower. Ya, namanya juga sistem kan saling berkaitan. Baik secara causation atau secara correlation, bisa juga keduanya.
Sip! Balik ke kita perlu jadi eksklusif untuk jadi inklusif. Seperti ekslusivitas masing-masing alat pertukangan, paku palu obeng baut bor tang gunting tali dst. Saat masing-masing eksklusivitas ini diikat oleh satu nilai bersama, jadilah pisau serbaguna victorinox yang inklusif.
Seperti membangun kesadaran ramah lingkungan untuk mengurangi risiko bencana di pemukiman padat penduduk sisi sungai. Inklusivitas yang kita perlu lakukan adalah merangkai eksklusivitas grup ibu-ibu. Grup bapak-bapak. Grup anak-anak. Dalam focus group discussion.
Kalau yang kita miliki hanya inklusivitas, bukankah itu hanyalah ekslusivitas yang areanya besar. Mau besar mau kecil, ekslusif ya eksklusif. Bahkan jebakan terbesar adalah dengan tidak sadarnya kita mengekslusifkan diri sebagai seorang atau kelompok yang inklusif. Wakwaaww..!!
Nyambung lagi dengan hukum cara berpikir sistem keempat yang mengarahkan area pemanfaatan ke sisi evolusi (baca: perubahan ke arah yang lebih baik), dengan alasan bahwa pola sistem adalah easy way out often leads back in, cara kerja yang perlu kita lakukan adalah set diverse set of tool.
Strateginya sih merangkai satu set inklusivitas yang terdiri dari ekslusivitas-eksklusivitas yang terikat satu nilai bersama. Taktisnya, stop waiting until the very last minute. Start, now! Temukan satu ekslusivitas, partikular, spesifik, yang bisa dikerjakan dengan tuntas dan berkelanjutan.
Contoh nyatanya yaa.. atomic essay ini. Seribu lima ratus eksklusivitas terangkai satu nilai refleksi. Kebayang, saat nanti ini terangkai jadi semacam pisau lipat sejuta fungsi. Sepertinya membongkar diri untuk memahaminya kemudian merangkai kembali untuk men-jadi-kannya, jadi lebih mudah