"Dad, can you help me to print stuff? I will send it to you sometime soon." Tiba-tiba saya menerima pesan dari Kano.
"Sure." Jawab saya
Kami memang tidak memiliki printer di rumah. Sebelumnya memang ada, tapi setelah dipikir-pikir catridge tinta ternyata tidak murah sedangkan saya bisa ngeprint kapan saja di kantor, jadi ya akhirnya printer kami ditaruh di give away shelf. Tempat ditaruhnya barang-barang yang tidak diinginkan sehingga orang lain yang membutuhkan bisa memanfaatkan dan kami kebanyakan ngeprint di kantor, walau sebetulnya sangat jarang melakukan itu sebab jaman sekarang kebanyakan menggunakan email, dan sebagainya.
"It's my resignation letter. I think it's pretty good for a letter I whipped up in 5 minutes." Kata Kano lagi.
"Yes, it's not bad at all." Kata saya ketika menerima email dan membaca lampiran surat yang harus saya cetak. Terlihat sangat profesional dengan kepala surat yang tepat. Jaman sekarang banyak sekali orang yang tidak bisa menulis surat, menulis email saja seringkali hanya sebaris kalimat tanpa tanda baca yang tepat. Itu sering saya lihat karena kebetulan pekerjaan saya berkaitan dengan administrasi.
"How did the general manager take it when you told him this morning?" Tanya saya penasaran.
"He was sad. He and the CC were planning to promote me to an opening manager. LOL" Jawab Kano.
"What??? Wow! That's something!" Jawab saya terkaget-kaget sekaligus bangga.
Seperti kak Andy katakan. Hidup kami di awal tahun ini seperti roller coaster. Sejak awal tahun kami didera banyak berita menyedihkan. Sahabat kami, lebih dari 1 malah, meninggal dunia. Yang paling parah justru yang terakhir karena menjadi korban kejahatan. Sahabat ini sangat dekat dengan kami, pernah bersama-sama bekerja di Honolulu selama berbulan-bulan, sangat dekat seperti keluarga sendiri. Bagi saya dia seperti adik sendiri, bahkan mendiang putrinya teman bermain Kano. Ya saya menyaksikan sebuah kehidupan yang sangat tragis. Cukup sulit saya menerima kondisi ini, butuh banyak permenungan, doa, dan juga dukungan. Seperti saya ceritakan di tulisan sebelumnya, kebetulan banyak rekan-rekan kami yang sekarang tinggal di berbagai sudut dunia yang pernah bersentuhan dengan sahabat ini, sehingga kami dapat sama-sama saling mendukung satu sama lain untuk melewati saat-saat yang sulit ini.
Nah, pada saat yang bersamaan pula beberapa peristiwa penting terjadi dalam hidup kami. Seperti misalnya Nina yang sudah berhasil melewati tahap-tahap akhir program studynya. Lalu Kano yang mulai terlihat sangat serius berusaha memulai karir dan membangun masa depan disamping menyiapkan jalan untuk melanjutkan pendidikan. Peristiwa-peristiwa ini bagi saya sangat membanggakan.
Tidak sampai 2 minggu di awal tahun banyak kondisi maupun pengalaman yang sangat emosional harus saya hadapi. Membayangkan sahabat-sahabat saya yang jauh lebih muda sudah kembali ke keabadian, bukan hal yang mudah saya hadapi. Mungkin ini juga semacam latihan karena semakin bertambah umur, semakin sering saya harus menghadapi hal-hal semacam ini. Lalu saya juga harus mulai bersiap-siap melepas Kano ke tahapan baru dalam hidupnya. Ini juga menjadi sebuah pengalaman yang luar biasa. Dari mulai dengan kekhawatiran sebab saya tidak tahu apakah semuanya bisa berjalan dengan mulus, hingga kemudian sedikit demi sedikit titik cerah mulai terkuak dan ternyata ini menjadi proses yang cukup menyenangkan untuk dialami, walau nanti saya yakin akan sangat berat jika tiba saatnya harus benar-benar melepaskan dia dan berpisah. Ini akan butuh penyesuaian yang tidak mudah.
Begitulah hidup, seringkali kita tidak bisa menebak apa yang akan terjadi kelak. Kadang kita berada di bawah dan serentak situasi berubah. Kebahagiaan tidak dapat dirasakan secara maksimal jika tidak pernah mengalami penderitaan. Sama seperti makanan, pernah tahu bahwa kudapan yang manis rasanya akan terasa jauh lebih sedap jika sedikit diberi garam ketika membuatnya? Ya, garam dapat meng-enhance rasa manis! Begitu juga hidup, penderitaan akan dapat memaksimalkan kebahagiaan. Hanya saja hidup tidak selalu begitu, ada kalanya penderitaan diikuti dengan penderitaan yang lain lalu berakhir dengan bencana. Ada yang begitu dan saya menyaksikan sendiri. Kenapa begitu? Saya tidak punya jawabannya, saya hanya bisa men-justifikasi, agar bisa melihatnya dengan lebih positif. Tapi itulah realita kehidupan yang penuh dengan mistery. Jawabannya sendiri mungkin baru akan muncul bertahun-tahun kemudian atau tidak pernah sama sekali. Hanya semesta yang memiliki jawabannya.
Foto credit: Google Play