Ada sesuatu yang begitu istimewa rasanya, saat orang-orang berkumpul bersama untuk menonton sebuah lomba: sedih dan senang, bersama-sama. Rasa solidaritas dan kebanggaan yang tidak bisa direplikasi, tidak bisa dirasakan jika kita tidak berada dalam momen itu. Sebuah keteguhan bahwa, kalah atau menang, kita tetap akan memegang kuat dukungan kita terhadap tim kita. Rasa ini tetap sama, baik saat duduk di pinggir lapangan rumput saat lomba 17an, maupun menonton lewat layar pertandingan di olimpiade.
Bulan ini, bulan DBL, aku mengalami rasanya menonton sebagai pihak netral. DBL menjadi pusat anak-anak SMA di Bandung, baik yang ikut bertanding maupun tidak: pembicaraan teman-temanku di mana-mana selalu berputar balik ke topik DBL. Beli tiket di mana, nonton yang jam berapa, siapa tim yang terlihat menjanjikan. Aku sebelumnya tidak pernah begitu tertarik menonton pertandingan basket. Tapi, di sini, ada aspek perasaan semangat dan kebanggaan itu.
Di tengah lautan seragam sekolah, semboyan, sorakan, spanduk; kami tampak menonjol dan asing. Kami tidak punya kebanggaan yang sama, tidak punya satu sisi yang akan kami dukung habis-habisan. Kami hanya ada di situ karena diajak teman, misalnya, atau ingin ikut menyaksikan.
Meski begitu, seiring dengan memuncaknya pertandingan, keasingan itu serasa memudar di latar belakang. Di manapun kami duduk, tim manapun yang awalnya kami dukung, semuanya terasa seperti hidup. Ternyata, ‘rasa yang tak bisa direplikasi’ itu punya banyak nuansa, bahkan bagi seseorang yang asing tak berpihak. Untuk beberapa detik, dunia terasa begitu bergetar, begitu bergelora. Deretan penonton, dengan mata berbinar yang memantulkan cahaya lampu, sorak-sorai bergema berbarengan. Aku jadi mengerti mengapa orang begitu senang menonton pertandingan. Euforianya memang sulit ditiru, dan bisa dinikmati dalam berbagai cara.
kalau yang di lapangan, rasanya gimana ya..