Tidak ada yang tiba-tiba, kita saja yang kurang peka. Sudah melihat dari awal, sudah mendengar selama perjalanan, sudah menduga akibat akhirnya seperti apa. Masih saja menghabiskan waktu untuk menunggu pohon jeruk berbuah pepaya.
Tidak ada yang tiba-tiba, kita saja yang terlalu sensitif. Sudah melihat dari awal, sudah mendengar selama perjalanan, sudah mencium kemungkinan akhirnya seperti apa. Masih saja membuang waktu untuk menanti daun pandan berbunga mawar.
Tidak ada yang tiba-tiba, kita saja yang menutup hidung. Sudah menghirup aromanya dari awal, sudah merasa selama perjalanan, sudah melihat peluang akhirnya seperti apa. Masih saja menggunakan waktu untuk memoles daun daripada menggemburkan tanah.
Tidak ada yang tiba-tiba dari kebosanan dari terlalu sering menunggu pohon jeruk berbuah pepaya. Tidak ada yang tiba-tiba dari kemalasan untuk menanti daun pandan berbunga mawar. Tidak ada yang tiba-tiba dari kebuntuan oleh memoles daun satu persatu, pohonnya kaktus pula.
Tidak ada yang tiba-tiba dari pencerahan yang seketika. Dari awal sudah bertemu dengan kisah Sisipus, Prometeus, dan Ikarus. Tiga dari beratus-ratus pertanda sudah cukup menyiapkan diri menerima cahaya pemahaman yang terang sedetik barusan.
Kalau nambah sedetik lagi, mungkin perlu tau kisah Aesklipus, Minerva, dan Herkules. Nambah sedetik lagi biar tiga detik terangnya, bisa jadi perlu tahu kisah Sokrates, Diogenes, dan Pitagoras. Barat semua? Ada sih Zhuang Zi, Lao Zi, Kong Zi yang bisa nambah tiga detik sekaligus.
Hanya, ya itu tadi. Tidak ada yang tiba-tiba. Perlu perjalanan dulu baru bisa tiba. Bagaimana tiba, kalau berangkat saja tidak. Kalau, tiba-tiba adalah hasil akumulasi dari yang sudah-sudah. Akumulasi dari yang belum-belum, hasilnya apa ya?