Pada hari Senin, 11 November, pagi itu terasa biasa saja, tiba-tiba Dea bercanda berkata bahwa hujan dan badai akan datang. jadi kami bertiga memutuskan untuk membuat shelter atau tempat berteduh di dalam basecamp. Kami menyusun kursi-kursi, menambahkan alas duduk warna hitam, serta beberapa sarung dan selimut yang bisa dipakai kalau-kalau badai datang lebih cepat dari perkiraan. Waktu berjalan begitu cepat, dan tiba-tiba saja, sekitar pukul setengah 12 siang, langit di sekitar Semipa mulai gelap. Mendungnya semakin pekat, dan tak lama setelah itu, hujan turun dengan deras, disertai angin kencang. Seperti yang Dea katakan, badai memang datang(bisa jadi dia berasal dari dukun family)
Air mulai menggenang di setiap sudut bangunan, dan dalam sekejap, area di sekitar semipa terlebih area teater terendam banjir. Kita bertiga saling menatap, bingung, cemas, dan entah kenapa, sedikit tertawa kecil karena kami harus memikirkan cara untuk pulang karena biasanya, kami pulang dengan naik Gojek, karena aku dan dea sama sekali tidak memiliki persiapan apapun.
Tiba-tiba Ara teringat sesuatu. “Aku bawa payung dan satu jas hujan,” katanya. Kami langsung memutuskan untuk berjalan ke Alfamart yang tak jauh dari sekolah, untuk membeli jas hujan cadangan dan darurat jika terjadi lagi kejadian seperti ini. kita tidak bisa diam saja, harus ada persediaan kalau cuaca begini lagi. Jadi, aku dan Ara berdua berbagi satu payung, sementara Dea memakai jas hujan yang ada. Kita berangkat meskipun cuaca di luar semakin buruk.
YWD SIH SEGITU AJA AES AKU MAAF KALO UDH LAMA BGT AKU GA NULIS/CERITA DI AES KARENA AKU TUH MENGUNGKAPKAN EMOSI/CERITA BUKAN KE TULISAN TAPI LEBIH KE NGOBROL DAN CURHAT 