Menerapkan kebijaksanaan pada tempat yang tepat, tidak sembarang seperti mencoreti tembok tiang jalan layang dengan semboyan. Memang menghibur sih rasa terlibat dalam perlawanan tanpa melawan, semenghibur mengkhayali kebijaksanaan alih-alih menghayatinya.
Menerapkan kebijaksanaan pada tempat yang tepat, salah satunya yaitu pada proses utilisasi suatu kebaruan. Kalau utilisasi yang tidak baru, itu namanya utilitarianisme. Alias, memanfaatkan semata tanpa menjadi manfaat. Menggunakan semata tanpa menjadi guna. Ya soalnya, mengulang hal yang itu-itu saja.
Perlu kebaruan untuk menjadikan manfaat sebagai manfaat dan guna sebagai guna. Sehingga menerapkan kebijaksanaan pada tempat yang tepat menghasilkan kebermanfaatan, bukan saling memanfaatkan. Menghasilkan kegunaan, bukan saling menggunakan. Pemberdayaan bukan pemerdayaan.
Memang bentuk utilisasinya akan sama, dari yang menerapkan kebijaksanaan dengan yang tidak. Bahkan bentuk keluarannya pun bisa sama. Oya, keluaran itu level output sedangkan hasil itu level outcome. Bedanya di kebaruan dan hasil saja. Yang menerapkan kebijaksanaan akan terasa baru, bermanfaat, dan berguna.