Kemarin aku datang ke Kebun Belakang. Alasannya sih profesional, mau wawancara soal tanaman karena proyekku berhubungan dengan itu. Tapi jujur aja, dalam hati aku juga sekalian refreshing. Ada sesuatu yang menyenangkan dari melihat kebun hijau, tanah basah, dan tanaman yang tumbuh subur.
Kadang aku kepikiran, enak kali ya punya halaman sendiri yang isinya tanaman semua. Bukan cuma buat estetika, tapi ada sesuatu yang menenangkan dari melihat sesuatu tumbuh karena dirawat dengan tangan sendiri.
Di sana aku lihat berbagai macam tanaman, dari yang kecil dan lucu sampai yang tinggi dan rimbun. Ada daun yang segar berkilau, ada juga yang mulai layu. Aku jadi sadar, tanaman itu seperti kehidupan butuh waktu, perawatan, dan kesabaran.
Bayangin aja, menanam itu nggak instan. Hari ini disiram, belum tentu besok langsung tumbuh. Kadang butuh minggu, bulan, bahkan tahun sampai akhirnya kita bisa lihat hasilnya. Sama seperti hidup, kadang kita udah usaha sekuat tenaga, tapi hasilnya nggak langsung kelihatan. Kadang kita harus sabar, percaya kalau semua proses ini ada gunanya.
Aku ngobrol panjang lebar dan mereka cerita gimana berkebun itu bukan cuma soal tanam-menanam, tapi soal memahami alam. Mereka paham kapan tanaman butuh lebih banyak air, kapan harus dipangkas, kapan harus dibiarkan sendiri. Dan aku berpikir, mungkin kita juga harus belajar begitu dalam hidup mengerti kapan harus maju, kapan harus istirahat, dan kapan harus melepaskan.
Sore itu aku pulang dengan pikiran yang lebih ringan. Mungkin aku belum punya halaman penuh tanaman seperti yang aku inginkan, tapi aku tahu bahwa setiap mimpi, setiap usaha, setiap harapan itu seperti benih. Selama kita rawat dengan baik, suatu hari nanti pasti akan tumbuh.
Keren ini esainya. βπΌπ€ππΌ
Nuhun kak udah baca π