AES 704 Pho
joefelus
Friday April 28 2023, 12:00 AM
AES 704 Pho

" Aku kok pengen makan Pho." Kata saya tadi sepulang kerja.

" Ya ke Young's Cafe." Jawab Nina

" Ga ah, kalah sama yang di Broomfield." Kata saya.

" Ayo, sekalian ke Asian Market." Sambut Nina

Hari sudah sore, sudah hampir jam 6 walau matahari masih tinggi karena baru terbenam nanti hampir jam 8. Kano juga sudah pulang kerja. Broomfield adalah kota tetangga yang jaraknya sekitar 55 miles atau hampir 90 Km dari kota tempat saya tinggal. Butuh waktu sekitar 45 menit jika melalui highway dengan kecepatan antara 65 hingga 75 mph (100-120km/jam) jadi memang agak ngebut. Untuk menikmati sup Vietnam yang merupakan salah satu menu kegemaran saya, jarak segitu tidak seberapa hahaha.. Seriusan! Dulu saya pernah mengemudi dari Wilmington, nama sebuah kota di pinggir state of Philadelphia ke Delaware, juga hanya semata-mata ingin makan Pho yang sangat enak. Di kota saya sekarang ini memang ada setidak-tidaknya 3 tempat yang menyajikan menu ini, satu yang Nina sebutkan tadi, memang cukup enak tapi saya merasa ada beberapa kekurangan.

Pho bagi saya yang menyenangkan harus lengkap isinya, jadi harus yang seperti makanan kaki lima (hahaha.. itu dugaan saya, sebab saya belum pernah ke Vietnam. Suatu hari nanti... ini salah satu tempat tujuan wisata saya yang masih dalam angan-angan). Yang dimaksud dengan makanan kaki lima menurut saya harus ada tendon-nya (urat/kikil yang dimasak hingga menjadi sangat empuk dan lembut), potongan tipis daging rare ribeye atau sirloin yang masih merah dan harus terlihat segar, ada potongan daging flank steak, beef shank atau brisket, ini jenis potongan daging yang kualitas biasa saja tapi karena sudah dimasak sekian lama menjadi sangat empuk, babat (tripe) yang berwarna putih dan sangat empuk serta halus, dan juga potongan baso. Nah bagi saya ini baru lengkap ditambah kuahnya yang sedap dan harus masih panas. Lalu pelangkapnya harus ada thai basil, toge segar, irisan cabe jalapeno, irisan daun bawang, irisan bawang tipis-tipis dan jeruk nipis! Itu belum selesai, harus ada saus hoisin, saus cabe sriracha dan chili oil! Nah ini baru yang dinamakan pho yang lengkap! Sebetulnya masih ada sejenis daun lain, tapi saya jarang menemukannya di dataran benua Amerika sini kecuali di daerah-daerah tertentu.

Di Indonesia saya sering membuat sendiri. Saya bahkan menanam thai basil khusus untuk ini sebab di banyak tempat yang saya datangi, mereka menggantinya dengan daun kemangi atau Italian basil, itu bagi saya tidak cocok. Thai basil mempunyai aroma yang berbeda, batangnya agak keunguan walau daunnya mirip-mirip dengan Italian basil. Di indonesia bahkan ada yang menggantinya dengan daun kemangi! Ini malah menjadi tidak enak sebab kemangi aroma dan rasanya jauh berbeda sama sekali. Mereka semua memang dalam keluarga basil, tapi memiliki kekhasan masing-masing dan bagi saya yang agak purist dan selalu "kaku" untuk urusan keaslian dan otentisitas makanan, perbedaan bahan makanan menjadi masalah besar. Buat saya, kalau tidak otentik, lebih baik tidak menikmatinya sama sekali. Nah karena itu saya membuat sendiri.

Membuat Pho butuh kesabaran. Jika menggunakan tulang untuk kaldu, maka juga harus benar-benar membuatnya dengan kesabaran, jika tidak maka akan menghasilkan kuah yang keruh. Bumbu-bumbu seperti kayu manis, star anise (kembang lawang), kapulaga, cengkeh dan lain-lain harus disangrai agar menciptakan aroma khas. Jahe dan bawang juga harus dibakar. Untuk membuat kaldu butuh ber-jam-jam. Ini bagi saya sangat menyenangkan sebab seluruh rumah menjadi sangat aromatik! Tulang biasanya saya cuci lebih dahulu, lalu direbus sebentar hingga kelur semua kotorannya lalu saya buang air rebusannya dan tulang saya cuci lagi. Demikian juga jika menggunakan potongan daging yang kualitas kurang baik untuk membuat kaldu. Air rebusan pertama saya buang dan daging saya cuci bersih. Lalu mulai merebus lagi. Dengan cara demikian maka akan memperoleh kaldu yang jernih. Dalam memasak sesuatu yang otentik, jalan pintas tidak pernah saya anjurkan. Memang untuk kepraktisan banyak orang-orang yang mengambil jalan pintas. Saya masih bisa menerima penggunakan blender untuk menghaluskan atau food processor untuk membuat mayonnaise, misalya. Itu saya masih ok. Bayangkan membuat mayonaise dengan menggunakan whisk hahaha.. Sekolah-sekolah kuliner biasanya mengajarkan semua siswanya menggunakan cara ini. Tapi sekarang kebanyakan menggunakan food processor atau blender atau malah membeli yang sudah siap pakai. Itu sah-sah saja. Tapi jika membuat kaldu, jalan pintas tidak akan menghasilkan kualitas yang baik. Kedua, kepuasan bagi saya penting sekali karena proses memasak bagi saya mempunyai efek meditatif hahahaha..

Anyway, akhirnya Nina dan saya berangkat ke Broomfield. Kano tidak mau ikut sebab makanan Vietnam bukan di urutan utama dalam daftar makanan kegemarannya. Jadi kami berangkat berdua. Nina dan saya kalau urusan makanan memang suka agak "gila". Saya ingat dulu kami nyupir ke Jakarta dari Bandung hanya untuk makan bagels karena di Bandung bagelnya kurang otentik, bahkan rela nyupir sekitar 75 miles atau 120 Km Bandung ke Jakarta hanya untuk menikmati butter croissants yang enak dengan secangkir kopi. Bedanya, berpergian dengan kendaraan di Indonesia sangat melelahkan. Padahal jika dibandingkan hanya 30 Km atau kurang dari 19 mile perbedaannya dengan jarak antara Fort Collins ke Broomfield, tapi begitu kembali di rumah di Bandung tubuh saya pegal-pegal dan rasa penatnya kadang sangat terasa. Beda dengan di Fort Collins, lihat saja, jam 6 sore saya dan Nina tidak keberatan untuk berangkat, padahal baru pulang kerja.

Hampir tidak ada kemacetan yang berarti. Memang I-25, highway yang kami lalui sedang banyak pembangunan pelebaran jalan, itu sudah terjadi setidak-tidaknya 5 tahun terakhir ini, tapi itu tidak menghapus keinginan kami untuk makan pho! 45 menit kemudian kami sudah mulai belanja. Ada beberapa kebutuhan dapur yang harus dibeli seperti sereh, toge dan sambal, di kota saya ada sereh tapi harganya bukan main, sebatang harganya $3.99, sementara jika di toko Asia seikat bisa lebih murah dari itu! Toge juga sama, sebungkus kecil di kota saya harganya hampir $4, sementara sekantong besar di toko Asia hanya setengah harganya. Belanja sebentar lalu tidak lebih dari 30 menit kemudian kami sudah bisa duduk menunggu pho disiapkan sambil menikmati spring roll yang berisi udang, daun selada dan irisan daging yang dibungkus dengan rice paper lalu disantap dengan mencelupkan ke saus kacang!

Perjalanan pulang sama sekali tidak melelahkan. Kami bisa ngobrol sambil menikmati musik. Tidak ada kemacetan dan mengemudi merupakan kenikmatan sendiri, apalagi dengan rasa puas karena sudah menikmati pho yang diidam-idamkan. Seperti saya katakan tadi, tiba di rumah tanpa ada rasa lelah, bahkan tidak terasa sudah mengemudi hampir 200 Km pulang pergi. Saya bisa melanjutkan aktifitas di sisa hari dengan baik karena saya masih merasa segar tanpa rasa jengkel karena lalulintas yang buruk atau pengemudi lain yang tidak taat peraturan lalulintas. Ini akan menjadi satu kehilangan jika nanti saya kembali ke Bandung. Jadi ya saya nikmati semaksimal mungkin.

Photo credit: runawayrice.com