AES 1171 Seru?
joefelus
Wednesday August 14 2024, 10:24 AM
AES 1171 Seru?

Saya sudah berusaha menulis selama 3 hari, bahkan sejak awal perjalanan pulang saya. Hingga hari ini belum bisa menyelesaikannya karena tubuh renta ini (hahahaha) masih membutuhkan banyak penyesuaian, terutama kelelahan fisik karena perjalanan yang luar biasa menguras enerji karena banyak kejadian yang akan saya ceritakan di bawah ini. Saya ingin segera menyelesaikannya agar tidak terlupakan, apalagi selama beberapa hari terakhir ini saya sudah banyak mengalami kejadian-kejadian yang sangat perlu dicatat. Semoga dalam beberapa menit mendatang saya dapat mulai menyelesaikan cerita yang sudah saya mulai beberapa hari yang lalu.

Kami duduk menunggu di gate 69. Boarding bridge masih tampak belum terpasang karena pesawat belum tiba. Seharusnya kami boarding 2 jam yang lalu, sekarang sudah pukul 7 dan belum ada tanda-tanda pesawat datang. Seorang petugas memberi pengumuman bahwa komputer mereka "down" dan akan menghubungi seseorang untuk memperbaikinya, lalu petugas itu menghilang.

Aplikasi maskapai penerbangan yang saya gunakan tiba-tiba memberikan notifikasi, sekarang waktu keberangkatan menjadi pukul 7:40. Jika penerbangan menuju San Fransisco memakan waktu sekitar 2 jam 30 menit maka saya masih punya waktu hampir 1 jam untuk mendarat dan pindah terminal untuk naik pesawat berikutnya. Nina kemudian mengubungi petugas. Bukan yang tadi, yang tadi menghilang tidak kembali lagi, tapi ini yang lain lagi. Nina akan minta pelayanan kursi roda. Alasannya jika nanti dibutuhkan untuk jalan kaki cepat, sudah pasti Nina tidak akan mampu, apalagi membawa koper dan ransel.

Saya lupa akhirnya kami dapat boarding jam berapa. Nina dan saya duduk terpisah. Kami memutuskan untuk tidak membeli tempat duduk karena itu akan menelan biaya hampir $90 per orang. Jika hanya untuk dapat duduk berdampingan selama 2 jam 30 menit, sepertinya tidak sepadan. Kami membiarkan maskapai yang menentukan tempat duduk kami. Nina duduk di belakang saya di dekat jendela, sementara saya duduk di tengah persis di barisan di depan Nina. Tak apa!

"We're not gonna make it to the next flight!" Kata Nina berbisik sambil mencondongkan kepalanya ke saya.

Kalau dihitung begitu saja dari saat keberangkatan yaitu pukul 8:30 ditambah 1 jam 30 menit, maka akan tiba di San Fransisco pukul 11 malam. Nina lupa bahwa Denver dan San Fransisco ada perbedaan zona waktu 1 jam. Seperti WIB dan WITA.

"Don't forget, we have 1 hour time difference." Kata saya.

Itu artinya kita masih memiliki setidak-tidaknya 1 jam. Hanya saja saya tidak tahu berapa jauh perjalanan dari terminal G ke terminal F tempat keberangkatan pesawat berikutnya.

Pesawatpun berangkat, seingat saya sudah lewat pukul 8 malam. Saya hitung kami akan masih memiliki sekitar 40 menit untuk pundah terminal. "Masih mungkin, apalagi Nina sudah minta kursi roda" pikir saya tenang.

Tidak banyak cerita di dalam penebangan singkat ini kecuali berusaha bergumul dengan perasaan sesudah terpisah dari Kano. Ini akan jadi cerita saya yang lain karena saat ini sangat lelah untuk "bermain" dengan hati. Penerbangan seperti yang direncanakan 2 jam 30 menit. Kami sudah mengatakan pada pramugari bahwa ada penerbangan lanjutan dan waktu sangat terbatas untuk pindah terminal. Lalu memang diumumkan bahwa kami diminta diberikan priotitas oleh penumpang lain untuk diberi keleluasaan untuk keluar lebih dulu.

Kami berdiri dan berusaha menurunkan barang bawaan. Tentu saja penumpang bisnis dan kelas 1 di depan tidak peduli mereka juga berdiri. Dan pintu pesawat tidak dapat dibuka karena ada masalah teknis dengan boarding bridge (garbarata?)  Kami mulai panik. 5 menit berlalu, pilot mengumumkan bahwa ada peralatan yang harus dicari. 10 menit lewat, kami semakin tidak sabar dan khawatir. Akhirnya pintu terbuka dan orang-orang di depan kami mulai keluar. Dengan 10 menit tersisa kami bergegas keluar. "Ada kursi roda!" hibur diri saya. Masih bisa!

Di luar saya tidak melihat kursi roda, biasanya ada petugas yang siap menunggu dengan kursi roda, kali ini tidak. Saya semakin panik dan berusaha berbicara dengan petugas maskapai penerbangan. Akhirnya seseorang mengangkat telepon dan beberapa saat kemudian kursi roda datang. Nina langsung naik, memeluk koper dan petugas menaruh koper yang lebih besar di kolong. Saya memohon kepada salah seorang petugas untuk menginformasikan pada penerbangan berikutnya agar menunggu kami. Kami langsung bergegas. Saya berusaha berlari sebisa mungkin.

"Jo boarding is over." kata Nina di belakang saya yang berlari. Nina didorong oleh petugas yang sudah berumur sehingga tidak terlalu cepat.

"How long does it take to terminal F?" Tanya saya ke petugas.

"At least 10 minutes if you are fast." Katanya

"Aku lari duluan ya biar kasih tahu mereka supaya menunggu." Kata saya yang dibalas dengan anggukan Nina.

10 menit? Saya lirik jam tangan dan saya hanya memiliki waktu 6 menit. Antara putus harapan, penasaran, rasa kecewa, rasa khawatir dan segala macam perasaan lainnya bercampur aduk. Saya tahu waktu dulu memesan tiket perjalanan ini masih banyak pesawat yang akan terbang tapi akan tiba di tanah air tengah malam, Itu alasannya mengapa saya memesan perjalanan ini. Saya berusaha menghilangkan segala bentuk pikiran negatif yang ada dalam kepala dan berusaha berlari dengan ransel yang sangat berat dan menarik tas carry on yang tidak kalah beratnya. Keringat mengucur, napas terengah-engah, rasa sakit di siku sebelah kanan yang terkena tennis elbow tidak saya hiraukan, pundak yang sakit karena tertekan beban berat dan tergesek-gesek tali ransel juga saya abaikan. Saya terus berlari, Nina dan kursi rodanya entah sudah sangat jauh tertinggal.

"Gate 4.. gate 4" Kata saya pada diri sendiri. "Excuse meeee.. excuse me!" Teriak saya pada orang-orang yang menghalangi lari saya.

Saya lihat gate 4 di depan dan ada escalator untuk turun. saya langsung berlari ke sana. Tiba di sana ruangan sangat sepi, pintu ke arah pesawat sudah ditutup dan ada 2 petugas yang sedang berbicara dengan customer. Saya dengan tidak sabar menunggu, sementara seorang ibu yang ada di depan saya berlama-lama berbicara dan terdengar percakapan yang sangat tidak penting. Di display saya lihat tertulis di sana nama pernerbangan tapi tujuan Auckland. Seluruh tubuh saya lemas. Yang saya tuju adalah Singapura, bukan Auckland. Tapi saya tidak menyerah begitu saja, saya tunggu si ibu yang banyak bicara itu selesai untuk minta tolong petugas untuk mengijikan saya boarding. Telepon saya berdering, saya angkat.

"Hey Jo where are you?" Sura Nina dari seberang sana.

"Gate 4!" Jawab saya cepat.

"Nooo.. get here, Gate1. They are waiting for us!" Kata Nina

Saya balik kanan dan langsung berlari. Gate 1 tidak terlalu jauh, paling 150 meter saja. Saya begitu lega karena tahu pesawat akan menunggu. Saat itu sudah 15 menit lewat dari waktu keberangkatan. Seharusnya kami sudah ditinggal, tapi saya tahu, mereka harus menunggu karena keterlambatan ini adalah kesalahan maskapai, seharusnya saya memiliki 3 jam untuk transit.

"Where have you been?" tanya petugas.

"It says gate 4 on the app I have." Kata saya

"Oh yes, we changed it to gate 1. No worries, we are waiting for you. Passport, please!" Lata petugas sangat ramah.

Sebelumnya memang sudah ada beberapa petugas yang menunggu saya, di dekat escalator ada petugas wanita berseragam. "Singapore?" Tanyanya. "Yes." Jawab saya singkat. "No rush, we will wait for you" katanya ramah.

Ketika saya turun dengan escalator seorang pria berteriak dari atas. "Singapore?" yang langssung saya jawab "yes!" "Keep going we'll wait." Katanya lagi

Tubuh saya basah dengan keringat ketika akhirnya duduk di kursi yang nyaman. Ini pengalaman pertama kali dari puluhan kali saya berpergian dengan pesawat. Ini pengalaman sangat intense, rasa khawatir dan takut saya hampir menyamai pengalaman ketika terjebak di padang pasir hampir kehabisan bahan bakar! Dua-duanya pengalaman yang tidak ingin saya ulang.

Ini penerbangan terpanjang yang pernah saya alami. 16 jam non stop dari San Fransico menuju Singapura. Saya sempat tertidur beberapa kali dan terbangun karena kaki pegal-pegal. Agak sulit untuk meluruskan kaki karena saya tidak duduk di dekat lorong melainkan di tengah-tengah. Biasanya kami berpergian bertiga dengan Kano, sehingga Nina di jendela, Kano di tengah dan saya dibagian lorong sehingga saya bisa bebas berdiri atau berjalan-jalan jika kaki saya pegal. Kali ini saya hanya dapat menggigit bibir menahan rasa sakit karena pria tinggi besar duduk di sebelah saya tidur terus menerus.

D1 Singapura hampir 17 jam berikutnya saya habiskan dengan makan di airport. Saya pernah menulis di klab masak Smipa bahwa Singapura terkenal dengan chicken and rice. Kesempatan ini tidak saya sia-siakan. Nina memilih dimsum. Kami makan 4 macam makanan dengan sangat lahap. Makanan di pesawat tidak enak. Kami terlalu lelah sehingga memutuskan untuk tidak pergi ke Jewel yang terkenal. Suatu waktu nanti kata saya dalam hati karena saya sudah terlalu lelah secara fisik maupun emosional dari pengalaman perjalanan yang aneh ini.

6 jam lewat higga akhirnya saya dan Nina dapat duduk di dalam pesawat Singapore Airlines yang katanya maskapai terbaik ke-2 di dunia. Pesawatnya sangat nyaman tapi saya merasa ada yang janggal sebab di dalam terasa tidak sejuk, bahkan terasa panas. Beberapa orang protes ke pramugari yang kemudian diyakinkan bahwa suhu akan menjadi sejuk ketika take off. Banyak wajah-wajah yang tidak puas bahkan marah. Saya menyabarkan Nina untuk bisa menerima kondisi yang ada karena para pramugari tidak akan dapat melakukan apa-apa.

Pesawat take off, udara masih terasa panas. Orang-orang mulai kembali ngomel, terutama para turis yang jika memperhatikan bahasanya ada yang dari Perancis dan Belanda. Saya merasa kasihan pada para pramugari. Bukan apa-apa, udara panas dan tahu sendiri seragam Singapore Airlines sangat tidak bersahabat dalam udara panas. Baru take off sekitar 20- menit dari perjalanan selama 1 jam lebih, pra pramugari mulai membagikan makan ringan dan air. Udara masih tetap panas. Pilot memberikan pengumuman: "Flight attendants, get ready for landing!"

Saya melongo karena kami baru terbang selama 20 menit dan masih tersisa lebih dari 50 menit lagi untuk tiba di jakarta. Saya lihat para pramugari berhenti membagikan makan langsung mendorong kereta makanan kembali ke dapur setengah berlari. Mereka kemudian mengambil nampan-nampan tempat makanan yang diberikan pada mereka yang memesan juga sambil berlari. Wajah mereka tampak sangat khawatir. Saya dapat melihat keteganggan di wajah mereka. Pesawat mulai sering bergoncang-goncang. Sementara para pria bule tidak henti-hentinya ngomel-ngomel karena suhu yang panas di dalam pesawat. Dalam hati saya mulai bertanya-tanya apakah mereka ini aware bahwa situasi jauh lebih berbahaya daripada hanya masalah AC.

Saya begitu tegang dan khawatir, terus menerus memperhatikan jam dan di mana pesawat saat itu terbang. 10 menit terasa begitu lama, sementara di peta perjalanan kami masih di sekitar Sumatra, Jakarta masih ratusan kilometer lagi. Para pramugari semua duduk begitu selesai menjalankan tugasnya, wajah mereka terlihat sangat tegang.

"We are goig to land in Jakarta, everything is under control. If anybody need to use lavatory, please feel free to do so." Suara pilot terdengar tenang. Para pramugari berdiri dan mulai membagikan air dalam botol-botol kecil. Saya yang tadi begitu tegang langsung meminta 2 dan minum sekenyang-kenyangnya. tenggorokan saya begitu kering karena ketegangan. Hingga saat itu saya belum tahu situasi apa yang sedang dihadapi. Terdengar lagi suara Pilot yang mengatakan bahwa segala sesuatu sudah tertangani, AC masih tetap mati. Saya menengok keluar jika ada asap dari mesin atau hal-hal lain. Tidak ada. Hanya pesawat yang sering bergetar karena turbulence dan udara yang panas. Saya lirik jam tangan, masih ada 15 menit sebelum mendarat. Yang saya inginkan adalah menapakkan kaki di darat. Berbagai pikiran yang muncul berusaha saya bunuh karena saya tidak mau terjebak dengan berandai-andai.

Hingga kemudian pesawat mendarat, kami tidak mendapat penjelasan apapun. Saya akhirnya memberanikan diri bertanya pada salah seorang pramugari senior. Dia mengatakan tidak ada penjelasan yang jelas, katanya pesawat kehilangan pressure yang menurut saya tidak benar, jika kehilangan pressure seharusnya pesawat menjadi dingin bahkan dinding pesawat dapat berlubang dan semua benda bahkan penumpang akan tersedot keluar. Itu kondisi yang paling berbahaya. Saya tidak mau berpanjang lebar dan segera bergegas keluar serta bersyukur bahwa semua sudah lewat. Masalah baru yang akan segera saya hadapi, yaitu berurusan dengan bea cukai karena saya membawa lebih dari 13 koper dan duffle bags. Belum lagi saya tahu akan ngotot-ngototan soal telepon genggam. Teman-teman saya ada yang harus membayar jutaan rupiah. Untuk masyarakat yang pindah seperti kami seharusnya semuanya dapat diloloskan tanpa harus membayar apa-apa. Kita lihat saja nanti sebab itu cerita lain :)

Foto credit: antaranews.com

You May Also Like