Wuku, Pangan, MBG, Flora & Fauna, serta Orang-Orang yang Percaya, bukanlah judul yang menggiring orang untuk pada pembacaan wuku. Meskipun kalau mau percaya juga boleh saja. Ini cerita menarik tentang apa yang hilang, secara perlahan, tanpa disadari, bahkan tak sempat untuk kita rindukan. Sedangkan bagi generasi setelah kita, jangankan rindu, tahu pun tidak. Mungkin terdengar "baik", kehilangan" tanpa merasa ada yang hilang, sehingga tak perlu repot-repot mengobati "luka" atas apa yang hilang. Bisa dikatakan ini adalah hal yang pelan-pelan terjadi, kehilangan demi kehilangan terjadi begitu saja pada kita, tanpa kita tahu apa dan bagaimana semua itu hilang (atau dihilangkan).
Yang pertama, ialah anak-anak dengan wajah berseri dan binar-binar pada berpasang-pasang mata itu, mengucapkan, "Kak, Indonesia ternyata kaya banget, ya. Aku cinta banget sama bunga anggrek, dia cantik banget." Terucap setelah anak-anak mencari dan mengenal flora dan fauna endemik, salah satunya ialah berbagai spesies anggrek. Setelahnya, "Ooohh, bunga itu, ada di rumah aku, kak. Tapi nggak tahu itu anggrek apa." maupun ujaran, "Kak, aku mau nanem anggrek di rumah." Tak hanya anggrek, berbagai flora dan fauna lain pun dibahas. "Waahh, burungnya bagus banget. Di rumah temanku ada, kak. Tapi udah mati, udah kering, jadi hiasan. Kasian, sih. Harusnya biarin aja cendrawasihnya hidup di hutan atau di alam."
Kedua, beberapa minggu terakhir di RT 2 dan 3 sedang gencar pembacaan dan pembahasan wuku. Di mana dalam setiap jenis wuku itu terdapat pohon atau burung yang menyertai. Burung melambangkan jiwa, ambisi, cara seseorang mengejar rezeki, serta pembawaan dalam bersosialisasi. Sementara pohon sebagai perlambang karakter dasar, kekuatan batin, serta bagaimana seseorang memberikan manfaat atau dampak kepada lingkungannya. Ironisnya, setiap kali wuku baru dibacakan, kami, Kakak-kakak seringkali kurang tahu dengan jenis pohon atau burung pada wukunya. Seperti, burung branjangan, pohon trengguli, dan lain sebagainya yang malah terasa asing. Padahal masyarakat membuat pawukon (primbon penanggalan tradisional) ini berdasar segala (flora dan fauna) yang ada di sekitar mereka dahulu. Sekarang mulai hilang, kita kehilangan, tanpa sadar.
Contoh gambar dari wuku sinta:
Ketiga, yang terakhir, Pangan, MBG, dan orang-orang yang percaya yang dimaksud di sini ialah, apakah kita menyadari bahwa flora dan fauna yang mulai punah dan hilang juga membuat meja makan kita menjadi seragam? Bahwa, apakah kita menyadari bahwa penyeragaman isi meja makan juga adalah bentuk penindasan, penjajahan? Entahlah, siapa percaya dan siapa menyadarinya.