AES#030 Algoritma Kehidupan
Murdeani
Friday October 24 2025, 8:25 PM
AES#030 Algoritma Kehidupan

Sebenarnya esai yang kupersiapkan untuk AES#030 bukan ini, tapi dalam prosesnya ternyata aku agak tersendat dan mungkin ada sesuatu yang perlu aku dalami dulu sebelum bisa kutuangkan dalam tulisan. Esai ini merespon tulisan terbaru dari kak Andy yang berjudul Tak Paham (Lagi) Media Sosial. Menurut kak Andy, media sosial saat ini menjadi ruang yang sangat tidak manusiawi. Dan memang fenomena itu nyata terlihat.

Dalam kasus Timmy, menurut Ibunya mereka yang berkomentar nirempati di WAG terkait kejadian Timmy adalah kebodohan sesaat layaknya netizen pada umumnya yang kerap kali mengomentari mindlessly terhadap orang yang tidak mereka kenal di dunia nyata (kalimat utuhnya tidak seperti ini, ini merupakan terjemahan dr apa yg kutangkap). Jadi hal-hal semacam ini sudah dianggap “biasa saja” seperti komen-komen di kolom komentar konten di media sosial yang memang seringkali nirempati.

Kehidupan rupanya memantulkan luka kolektif bangsa ini agar kita mau benar-benar melihat apa yang perlu kita sembuhkan. Lihatlah bagaimana mereka yang “membully” kemudian dibully juga ramai-ramai oleh netizen lain yang mungkin juga tidak tahu duduk persoalan yang sebenarnya—meski mereka merasa yang ini layak untuk dibully. Bukan aku membela mereka dan membenarkan tindakannya, tidak sama sekali, jika pun perlu tindakan hukum, itu bisa dilakukan. Hanya saja, kita tidak perlu melapisinya lagi dengan kebencian yang sama.

Perlu kita akui dan tidak tolak lagi bahwa ini adalah luka kolektif, tidak perlu lagi saling menyalahkan, mari kita tengok diri kita masing-masing. Luka apakah yang sedang dipantulkan oleh peristiwa ini? Apa yang terpantik dari dalamku? Apakah geram? Marah? Iba? Hopeless? Kecewa? Takut? Itu semua tidak salah, tidak perlu kita tolak. Justru mereka terpantik dan muncul ke permukaan untuk bisa kita sadari keberadaannya, dan kita terima. Penerimaan ini sebenarnya terjadi alamiah ketika kita benar-benar diam dan merasakan semua sensasi emosi dan rasa yang muncul. Mereka hanya butuh dirasakan, lalu pelan-pelan akan melarut ke kekosongan.

Luka tidak akan pernah bisa sembuh dengan tindakan yang juga berbasis luka juga. Ia hanya larut dalam cinta kasih. Karena Cinta itu sendirilah ruang yang memungkinkan semua pengalaman terjadi. Ini yang aku tangkap ketika menonton konten Youtube Denny Sumargo yang menghadirkan Ibu Saron, ibunda almarhum Timmy.

Kak Andy di esainya juga menyinggung soal algoritma media sosial yang didukung AI memungkinkan konten-konten yang cuma memicu reaksi emosional netizen beredar cepat dan luas, tak peduli apakah jujur atau tidak. Lebih banyaknya terdistorsi. Ini menarik, karena algoritma digital ini ada kemiripan dengan bagaimana algoritma kehidupan bekerja.

Algoritma media sosial bekerja dengan satu prinsip utama: ia menampilkan konten yang sering kita beri perhatian (baik yang kita sukai atau kita benci). Misalnya kita nggak suka seleb tertentu dan kita sering berkomentar buruk tentang dia di kolom komentar. Meski jelas kita tidak suka, tapi karena kita beri perhatian terus menerus maka konten serupa akan sering hadir di feed kita.

Kehidupan pun, pada lapisan yang lebih batin, terasa serupa. Apa yang kita beri energi, rasa, atau pikiran (apakah itu cinta, ketakutan, atau kemarahan), akan memantul kembali lewat pengalaman, pertemuan, atau situasi. Ini seolah semesta punya feed-nya sendiri yang dikurasi oleh kesadaran kita.

Bedanya, algoritma medsos tentu saja buatan manusia yang punya tujuan komersial tertentu, sedangkan algoritma kehidupan adalah orkestrasi yang sempurna dari Realitas Tertinggi untuk mengenali diriNya sendiri. Algoritma medsos hanya bisa membaca jejak luar dari perhatian kita. Dia tidak bisa tahu why-nya dari tindakan kita. Apa yang kita beri atensi, itulah yang diberi terus. Algoritma kehidupan bisa membaca getaran di balik niat dan tindakan, rasa batin yang mendasari tindakan luar kita. Misalnya, dua orang sama-sama kehilangan sesuatu. Orang yang satu terjebak dalam mental victim story, orang yang satunya lagi menyadari emosi yang terpendam, dan menerima peristiwa tersebut. Algoritma kehidupan merespons arah niat itu, bukan peristiwanya. Maka feed kehidupan dua orang itu bisa sangat berbeda. Hidup selalu bergerak ke kesadaran yang lebih luas, meski kadang lewat jalan yang tampak berliku, bahkan menyakitkan menurut sudut pandang manusia. Setiap kejadian, setiap orang yang hadir dalam kehidupan kita, seolah diatur oleh semesta agar kita bisa sedikit demi sedikit mengingat kembali Diri Sejati kita.

Jadi jika kita merasa feed kehidupan menampilkan pengalaman yang berulang (looping), artinya ada yang perlu kita sadari dan lihat ke dalam diri kita. Algoritma kehidupan akan berubah ketika feed yang berulang tersebut sudah bisa kita sadari dan terima, karena energi di balik pengalaman tersebut sudah selesai tugasnya.

Menilik ini, rasanya teknologi pun seakan sedang belajar meniru kesadaran ya. Apakah ini mutlak buruk? Tidak juga. Karena sebaik apapun teknologi berkembang, satu yang tidak bisa tergantikan adalah kesadaran itu sendiri. Medsos, AI, semuanya adalah tools, alat. Penggunaannya akan bergantung pada kesadaran si penggunanya. Kita tidak menghilangkan pisau dari kehidupan hanya karena dia bisa digunakan untuk menyakiti orang kan? Kita gunakan pisau untuk memotong bahan makanan, berkarya, dsb. Jika kita melihat dari ruang kesadaran yang melampaui dualitas, semua adalah netral. Media sosial bisa menghancurkan, namun ia juga tetap memiliki potensi mempercepat kebangkitan spiritual, menyembuhkan luka kolektif, menebarkan damai dan cinta kasih.

Memilih untuk aktif ataupun tidak di medsos sama-sama valid. Buat yang masih aktif bermain medsos, coba deh jika bertemu konten yang memantik emosi, jangan langsung reaktif. Berhenti dulu, sadari diri yang ketrigger, rasakan sensasi emosi dan rasa di tubuh. Apakah dada terasa sempit, ada rasa ingin segera berkomentar, baik lisan maupun ketikan? Tenggorokan tercekat? Ada gelombang energi yg menghantam dada? Perhatikan dan rasakan secara utuh. Jika ada pikiran yang berkomentar macam-macam, cukup sadari, “Oh ada pikiran ini”. Tidak perlu larut dalam cerita di kepala dan tidak perlu ditolak juga. Kembali saja merasakan sensasi energi itu di tubuh. Ingat, mereka muncul ke permukaan untuk dikenali, disadari, dirasakan, diterima. Ini berlaku untuk setiap peristiwa yang kita hadapi sehari-hari. Algoritma medsos mungkin masih akan tetap menampilkan feed yang sama (atau mungkin juga tidak jika kita berhenti memberi atensi), tapi pelan-pelan feed kehidupan kita akan berubah. ❤️

---

Post berikutnya: https://ririungan.semipalar.sch.id/murdeani/blog/7969/aes031-kepatuhan-vs-kesadaran

Post sebelumnya: https://ririungan.semipalar.sch.id/murdeani/blog/7945/aes029-telur-setengah-matang