Semester baru kembali berjalan, seperti biasa aku bertemu lagi dengan mahasiswa baru. Minggu ini adalah kali ketiga mereka menjalankan rutinitas baru sebagai mahasiswa dan kurasa semangat mereka cukup terbilang tinggi dari konsistennya mengejar asistensi meski sering diminta untuk mengulang memperbaiki kesalahan.
Sejak beberapa tahun ke belakang, aku perhatikan, ada kalimat yang aku hafal betul, sering dilontarkan anak-anak ini, "Rencananya saya mau buat begini, bu". Kemudian mereka menjelaskan lengkap dan detil.
Khusus untuk situasi seperti itu, aku berdiskusi dengan tim pengajar lainnya. Ketika mereka memiliki sebuah bayangan hasil akhirnya seperti apa, sebetulnya bukan pertanda bagus. Sebab, hal ini membuat mereka seakan terkunci untuk mengembangkan ide. Eksplorasi jadi terbatas dan sulit untuk diberi masukan. Sedangkan dalam tugas ini, tantangan sebenarnya adalah mereka berproses untuk menemukan titik-titik kunci sehingga dapat memahami elemen dan prinsip desain. Sebuah metode untuk memudahkan mereka dalam menyusun konsep nantinya.
Dalam setiap semester, kiranya ada sekitar 4 tugas dengan 4 material berbeda. Tujuan dari capaian belajar dengan keempat material adalah mereka memahami bahwa setiap material benda memiliki karakteristik berbeda. Sehingga mereka harus memperlakukan keempatnya dengan cara yang sesuai, tidak dieksploitasi dan dapat mengenal batasan dari setiap material tersebut. Kami menyadari, di setiap batasan itu akan ada banyak sekali sisi kreatif yang bisa terasah. Bukan dengan mengakali yang sifatnya merusak/memaksa tetapi melihat celah untuk mendapatkan sesuatu yang istimewa itu ada cara yang wajar. Serta mengasah rasa untuk memahami batasan sebagai akhir keputusan; dilanjutkan atau diselesaikan ketika ide semakin meliar. Gak dipungkiri, ketika terlalu banyak ide yang bermunculan seringkali kita lupa untuk menghentikan eksplorasi atau bahasa kami pada mereka, 'Di titik mana kamu harus berhenti' dan ini bukan sekedar ingin, tetapi dengan alasan dan pertimbangan yang mantap. Sederhana.
Namun, aku mendapat teguran yang membuatku berpikir ketika melontarkan kata, 'sederhana'. Sebab hal ini tidak dapat dijadikan tolak ukur di awal pertemuan. Dosen senior mengingatkanku, bahwa kata sederhana tidak bisa diterjemahkan semudah itu. Jelas bagi aku yang telah memiliki pengalaman bertahun-tahun serta pemahaman yang terus bertambah, membuat kemampuan menghadirkan solusi menjadi lebih enteng. Tidak dengan mereka, karena proses itulah yang dituju.
Aku kembali mengingat prosesku yang cukup panjang, kembali menarik ingatan di tahun pertamaku seperti mereka. Memang dimulai dari ketidakpamahan, aku hanya sekedar mengerjakan dan targetku hanya berada di titik aman dengan mengikuti poin-poin capaian pembelajaran. Terlepas hasil akhirnya menurutku memuaskan atau gak, sesuai harapan atau ngga, seperti yang dibayangkan atau ngga sudah tak lagi menjadi soal, yang penting buatku ketepatan waktu yang menjadi tolak ukurnya. Dan titik baliknya malah baru aku alami di semester tujuh, aku menyadari sekali apa yang menjadi tujuanku. Bayangkan, enam semester sebelumnya, jangankan punya tujuan, garis besar dari tugas semester pun hampir tidak kupahami. Ya, gimana bisa mandiri atuh? Mau bertanya berkali-kali pun tetap jadi teka-teki. Hahaha... wajar, dalam hati aku sering nanya, "Kemarin disuruh gini, sekarang disuruh gitu, maunya apa atulah?!" Setengah menggerutu aku kerjakan lagi dan lagi, setengah memahami aku kumpulkan lagi dan lagi.
Gak sangka, pengalaman dikala itu dan teguran kali ini bisa mengubah sudut pandangku. Setidaknya, aku jadi punya bekal untuk pertemuan-pertemuan berikutnya; di setiap kesulitan yang dihadapi anak didikku ada kewajiban untuk aku memiliki empati, hatiku harus netral segemas apapun aku melihat prosesnya, pikiranku tetap harus terjaga sebesar apapun keinginan aku untuk mengomentari cara mereka bekerja (apalagi berprasangka). Intinya, aku harus menemukan cara paling baik dan paling lembut untuk mengantarkan suatu maksud agar mudah dipahami, tanpa mengkerdilkan, tanpa menumbuhkan rasa takut untuk memulai.