AES014 Satuan Waktu Warga Bandung
firdabilqis
Tuesday March 31 2026, 9:52 AM
AES014 Satuan Waktu Warga Bandung

Ketika menulis judul blog ini jujur saya tersenyum kecil. Karena bisa jadi tidak semua orang setuju tapi rasanya warga Bandung akan relate. Saya sangat ingat bahasan mengenai waktu kerap menari-nari di kepala dan selalu lupa saya tulis. Kali ini saya tidak lupa.

Terpantik dari pertandingan basket yang tiga tahun ini sering saya tonton (bermula karena pekerjaan), saya jadi memperhatikan satuan waktu sampai ke persepuluh detik (misal 1.9 detik). Betapa 5 menit itu ternyata bisa terasa sangat lama, menegangkan, dan ngos-ngosan bagi saya yang menonton (apalagi bagi pemainnya). ternyata 2 menit atau bahkan 24 detik itu matters, karena begitu bola dipegang bergantian satu tim selama 24 detik tanpa shot attempt, peluit berbunyi, turnover, dan bola harus dipindahkan ke tangan lawan secara sukarela. 

Sementara saya sebagai wargi Bandung, dan sering bergaul dengan sesama warga Bandung, kerap kali menggunakan satuan waktu terkecil 15 menit. Hayo sadar atau tidak? Misal kalau janjian bertemu:
"Jam 8 yah", dan ketika ada ancang-ancang terlambat, sering diberi toleransi waktu 15 menit. "Maaf terlambat, perkiraan 15 menit lah sampe". Betul tidak? Hahahaha.

Hal ini saya sadari ketika mulai bekerja dengan banyak warga Jakarta. Ketika janji bertemu atau mengabari masih di jalan, salah satu teman saya memberi tahu, "ETA sampe situ 7 menit", atau ketika harus mengejar kereta 'pukul 7.43'. Angka-angka aneh yang saya jarang temui di Bandung selama ini. Biasanya orang minta ditunggu 30 menit, paling sedikit 15 menit. Belum pernah sebelumnya ada satuan waktu 3 atau 7 menit. Apalagi 24 detik. 

Saya coba cari tahu dari mana ya perbedaan satuan waktu itu. Kalau diperhatikan, warga Jakarta terbiasa mengejar transportasi umum yang frekuensi keberangkatannya per sekian menit, dengan durasi perjalanan yang bisa diestimasi. KRL, Trans Jakarta, LRT, MRT, yang terbaru, whoosh. Sementara di Bandung? KRL (atau dulu KRD) saja berangkatnya setiap 45 menit sekali. Bus Damri? hanya Allah dan supir bisnya yang tahu kapan akan tiba dan berangkat. Angkot? apalagiiiii.

Saya bisa bilang, di luar karier profesional sebagai data analyst, saya ini juga professional angkoters. Lebih dari 20 tahun bepergian dengan angkot sejak kelas 4 SD. Kalau ada sertifikasi penumpang angkot, saya pasti lulus di atas rata-rata. Bisa saya pastikan, untuk angkot rute yang sama, tidak akan punya jam keberangkatan, kedatangan dan durasi perjalanan yang sama. Kalaupun jam berangkat persis sama, dengan kondisi jalan yang benar-benar sama (sama-sama lancar misal), akan ada faktor X yang menyebabkan jam tiba dan durasi perjalanan menjadi berbeda.

Contohnya:
- jumlah penumpang yang naik/turun dan seberapa banyak barang bawaan
- seberapa lengkap uang pecahan supir menentukan durasi penumpang turun dan minta kembalian
- seberapa percaya supir pada Tuhan menentukan berapa lama dan berapa titik ia akan ngetem
- time manajemen & kemampuan mengelola uang setoran supir menentukan apakah ia akan isi bensin saat masih bawa penumpang?
hingga faktor super ajaib misal supir angkot tiba-tiba memutuskan beli pulsa di sebuah konter atau mampir beli cilok dulu meninggalkan penumpangnya dalam keadaan lapar dan bingung harus turun atau menunggu?

See? Warga Bandung tentu akan kesulitan menentukan durasi perjalanan dan estimasi tiba jika ia naik angkot. Bagaimana jika ia naik bis? Dan cukup beruntung karena langsung bisa naik di pool bis damrinya? Faktor selanjutnya adalah menunggu supirnya berangkat dan entah apa yang ia tunggu. Durasi perjalanan? cukup bergantung pada poin 1&2 di kasus angkot di atas, ditambah seberapa sering bertemu angkot yang menurunkan penumpang, atau berhenti untuk beli cilok. 

Jadi rasanya wajar ya kalau warga Bandung prefer satuan waktu yang 'lebih aman' yaitu 15 menit dan kelipatannya. Meski akhir-akhir ini pada beberapa kasus ditemui juga satuan waktu lebih kecil yaitu 5 menit. Good sign bahwa orang yang saya temui sekarang ini kebanyakan on time, kalaupun telat ya hanya sekitar 5 menitan saja hihihi. Meski dalam dunia kerja bersama warga Bandung masih sangat selow dan waktu 15 menit terasa 'cuma-cuma', semoga ke depannya satuan waktu ini bisa seragam sampai ke menit-detik ya, meski cara orang memaknainya tentu akan berbeda-beda.

You May Also Like