Yang tampak adalah segalanya, tiada kedalaman. Yang ada ya ada, yang gak ada ya gak ada. Jadi teringat kata Warhol, “I am a deeply superficial person.”
Apa yang terlihat, itulah semuanya. Jadi apa yang hendak diketahui dari yang tampak, tidak perlu menggali lebih dalam itu sudah. Karena tiada kedalaman, yang tampak adalah segalanya.
Caranya berjalan, caranya menjalankan tanggung jawab. Caranya berbicara, caranya berpikir. Caranya berpikir, caranya merasa. Caranya merasa, caranya membentuk tubuhnya.
Makanya, yang perlu menjadi fokus bukan pada yang kelihatan. Justru adalah pada melihat. Karena yang tampak adalah segalanya, yang kelihatan adalah segalanya. Kalau tidak mampu melihat, kesegalaan pun tidak tampak.
Dengan belajar melihat, tidak perlu menggali karena semua yang kelihatan sudah semuanya. Kelihatan bentuknya, terlihat caranya, melihat kemungkinan, peluang, sebab akibat.
Makanya, langkah pertama selalu adalah melihat. Semampu apa melihat, semampu apa meluaskan penglihatan, semampu apa melihat tanpa perlu melihat, semampu apa melihat diri sendiri melihat.
Barulah langkah selanjutnya menindak lanjuti, yang kelihatan. Urutannya mulai dari belakang urutan di paragraf ketiga tadi. Badan, rasa, pikir, bicara, jalan. Mudahnya, meningkatkan kualitas tanggung jawab ya dengan meningkatkan kualitas kebugaran badan.
Di sisi lain, jadi kelihatan juga. Apa yang ditindak lanjuti seseorang, baik itu melalui komentar atau permintaan atau penawaran atau bahkan inisiatif tindakan. Adalah apa yang kelihatan oleh seseorang itu. Seluas apa penglihatannya. Setelah terukur, balik lagi ke paragraf enam. Kalau mau mengikuti rekomendasi di paragraf lima.