Di hari ini, kami berangkat ke Taman Pintar, yang berada di jalan Panembahan Senopati no. 1-3, tidak jauh dari jalan Malioboro. Ini adalah tempat rekreasi edukasi yang keren, disini tempatnya sangat besar dan luas. Taman Pintar terbagi ke beberapa bagian, ada planetarium, wahana bahari, zona pengolahan sampah, science theater, playground, perpustakaan, kampung kerajinan, gedung oval, dll. Tempat ini sudah dibangun dari tahun 90-an, dan dinamakan “Taman Pintar” karena disinilah tempat nantinya para siswa-siswi, dari prasekolah sampai sekolah menengah bisa dengan leluasa memperdalam pemahaman soal materi-materi pelajaran yang telah dipelajari di sekolah dan sekaligus berekreasi. Untukku tempat ini sangatlah unik, bisa dilihat dari benda-benda yang ada disini. Sebenarnya aku sudah pernah kesini pada tahun 2018, keunikan taman pintar inilah yang membuatku ingin datang kembali kesini.
Pada saat masuk, kami disambut dengan deretan air mancur, dan semburan airnya melewati kepala kita sehingga membentuk sebuah lorong yang sangat menarik untuk dilewati. Uniknya kepala kita tidak akan basah walaupun melewatinya, karena tekanan airnya yang cukup kencang. Di sebelah kanan, ada area playground yang lumayan luas, disana ada banyak permainan yang unik dan mendidik. Permainan yang paling menarik perhatianku adalah Parabola Berbisik dan Dinding Berdendang. Bentuk dari Parabola Berbisik ini pernah kulihat di Puspa Iptek Sundial, Kota Baru Parahyangan. Bentuknya berupa dua cekungan besi seperti wajan yang diberdirikan dan ada sebuah lingkaran kecil yang berfungsi sebagai media untuk berbicara. Sedangkan Dinding Berdendang itu berupa sebuah dinding yang ditempelkan beberapa tambur kecil. Kalau dipukul, tambur-tambur ini akan mengeluarkan nada yang berbeda-beda. Namun sayangnya Parabola Berbisik tidak berfungsi dan untuk Dinding Berdendang beberapa tamburnya sudah berlubang.
Pertama-tama kami masuk ke gedung oval yang berada di tengah-tengah area dan merupakan gedung yang paling besar disana. Saat masuk, kami disambut dengan terowongan kaca pendek, ternyata di baliknya ada aquarium air tawar yang berisi berbagai ikan besar dan kecil. Terowongan ini mengantarkan kami ke Zona Kehidupan Purba, tapi hanya ada patung dinosaurus yang bisa bergerak dan berbunyi. Suasana di area disitu sangat terasa, seperti sedang berada di dalam gua yang besar dan bertemu dengan dinosaurus yang tinggi. Setelah Zona Kehidupan Purba ini, kami memasuki Dome Area, sebuah tempat besar yang berbentuk lingkaran dan dikelilingi oleh beberapa benda ilustrasi. Salah satu benda di Dome Area ini adalah rel udara, ini adalah sebuah rel berbentuk pipa dengan kereta diatasnya, udara dipompakan ke dalam rel dan keluar melalui lubang-lubang kecil di sepanjang permukaannya, sehingga terbentuklah lapisan udara tipis di antara rel dan kereta yang membuatnya mengambang. Setelah itu kami lanjut ke lantai 2 melalui tangga yang melingkar di Dome Area, dan di dinding sepanjang tangga ada beberapa foto dari orang-orang hebat, ilmuwan jenius, dan terkenal. Di lantai 2, kami masuk ke zona cuaca iklim dan gempa bumi. Ternyata zona ini baru hadir di Taman pintar, dan disini ada simulator gempa seperti di Museum Geologi Bandung.
Disini terdapat banyak alat peraga yang sangat unik dan aku hampir mencoba semuanya. Ada juga hal yang baru kulihat disini, yaitu rumah terbalik, zona Dino Adventure dan Teater 4D. Sebenarnya rumah terbalik hanya tempat untuk berfoto-foto yang tempatnya dipasang terbalik di langit-langit ruangan. Zona Dino Adventure dan Teater 4D itu wahana yang lumayan menarik, kedua wahana ini dibuat oleh Taman pintar yang bekerja bersama dengan pihak luar. Di wahana Dino Adventure kita hanya menaiki kereta dan mengelilingi sebuah ruangan dengan beberapa replika dinosaurus seperti di dalam hutan. Sedangkan Teater 4D hanya menampilkan film anak-anak dengan teknologi 4D, hingga penonton bisa merasakan apa yang terjadi di dalam film.
Setelah bersenang-senang di Taman pintar, kami jalan kembali ke Jalan Malioboro. Saat di tengah-tengah perjalanan, kami melewati istana Presiden di Jalan Ahmad Yani. Untuk sekedar info, istana kepresidenan Yogyakarta ini telah dibangun dari tahun 1824. Namun pada tahun 1825-1830, pembangunan gedung ini diberhentikan sementara karena pecahnya perang Diponegoro. 2 tahun kemudian, pembangunan pun dilanjutkan kembali, sampai pada 10 Juni 1967, Yogyakarta dilanda gempa bumi 2 kali dalam hari yang sama. Karena gempa itu, gedung ini pun ambruk dan harus diperbaiki lagi sampai selesai pada tahun 1869. Pada saat kami melewati gedung ini, tempatnya sangat sepi dan terlihat tidak ada siapa-siapa di dalamnya.
Setelah melewati Istana Kepresidenan Yogyakarta, kami jalan kembali ke Jalan Malioboro untuk membeli oleh-oleh berupa batik, kerajinan tangan, dan souvenir di Hamzah Batik. Saat ini Hamzah Batik dipegang oleh Hamzah Sulaeman (72 tahun), ia adalah generasi ke-2 dari keluarga Grup Mirota. Pada tahun 1975, Ia mulai mengelola Hamzah Batik sejak usia 25 tahun, ketika itu ayahnya, Hendro Sutikno meninggal. Pada awalnya nama toko itu adalah Mirota Batik. Awalnya Hamzah merasa terpaksa harus mengelola Mirota Batik. Namun pada akhirnya ia bahu-membahu bersama kakaknya untuk membesarkan toko tersebut.
Pada saat kami masuk Hamzah Batik, di pintu masuk terdengar ada suara ramai. Ternyata ada penampilan sekelompok orang-orang yang sedang menari, dan ada beberapa penonton juga ikutan menari bersama mereka. Namun tidak lama kemudian acara tersebut selesai, dan kami mulai mengelilingi toko ini. Hal yang paling kusukai dari benda-benda disini adalah miniatur kendaraan, seperti sepeda, becak, delman, mobil, dan lain-lain. Di lantai ke-2 ada tempat kecil untuk belajar menggambar diatas kain menggunakan canting, dan ada juga penjual jamu disini. Kami membeli 2 jenis jamu kunyit asam dan beras kencur, rasanya enak dan manis walaupun ada pahitnya.
Setelah dari Hamzah Batik, kami pulang ke hotel. Pada saat perjalanan pulang, kami
membeli nasi goreng yang berada di pinggir jalan. Papa sudah kenal dengan orang yang berjualan nasi goreng itu. Papa aku menyebutnya Nasi goreng halo-halo, karena cara dia memanggil pembeli dengan kata “halo-halo” ketika menyajikan makanan. Sebenarnya nama dari nasgor ini adalah Bakmi Jawa Pak Roso. Tapi sayangnya kita tidak bertemu dengan orang itu. Nasi goreng ini adalah nasi goreng yang berciri khas Yogyakarta, dimasak menggunakan kompor arang. Disini menu nasi yang dicampur dengan mie disebut dengan nama Magelangan, biasanya di Bandung disebut dengan nama Mawut. Rasanya enak, uniknya disini terdapat sayur kol dan seledri, kalau mau bisa ditambah dengan tulang ayam. Kami membelinya dengan cara dibungkus dan dimakan di hotel. Malamnya kami beristirahat untuk melanjutkan perjalanan esok hari ke Gunung Merapi dan Tugu Yogya.
Foto-foto :
Taman pintar : --> Air mancur di pintu masuk.
--> Parabola berbisik
--> Dinding Berdendang
--> Pintu masuk gedung oval
--> Zona kehiduoan purba
--> Dome Area
--> Rumah terbalik
--> Dino Advanture
Istana Presiden Yogyakarta : --> Tampak depan gedung
--> Bagian dalam pagar yang dihalangi
Hamzah Batik : --> Sekelompok orang yang sedang menari
--> Miniatur sepeda
--> Patung dari Hamzah Sulaeman
--> Membeli jamu
Bakmi Jawa Pak Roso : --> Warung
--> Tampilan dari nasgor-nya