Puasa hari kedua bagi saudara-saudaraku umat Islam. Saya mengeluarkan sepeda dan menjejak jalanan Bandung jam 6.30 pagi ini. Sejak bangun suasana terasa berbeda - seperti apa yg saya duga. Dan betul gowes pagi ini sangat berbeda. Keluar di jalan Pajajaran saya tidak menjumpai sesama pesepeda. Hanya saya sendiri. Melihat seorang (hanya seorang) yang sedang jogging. Beberapa tempat yang biasa digunakan aerobik warga juga sepi. Beberapa motor lalu lalang, tidak tergesa. Satu dua mobil berlalu...
Pagi ini udara terasa segar, sangat segar. Tidak heran karena sehari sebelumnya hujan, dan di hari-hari awal bulan puasa ini volume kendaraan bermotor berkurang drastis. Seperti pagi ini. Jalanan sepi. Dan ini sangat-sangat menyenangkan. Saya mengarahkan sepeda ke jalanan yang biasa saya lewati - sesampai di area Balai Kota, tidak banyak orang di sana. Gelora Saparua juga sama, lengang, saya menuju ke jalan Riau, suasana yang sama saya jumpai. Sampai saya berbelok ke arah taman Cilaki, sama juga... Luar biasa.
Tanpa disadari suasana yang lengang ini membuat saya memboseh sepeda dengan pelahan, menikmati suasana. Saya tidak sibuk menoleh ke kiri ke kanan untuk mengamati lalu lintas di sekeliling, saya merasa jauh lebih tenang dan pada saat yang sama saya malah bisa lebih aware terhadap hal-hal yang terjadi di luar kesibukan di jalanan. Ini keren banget. Di satu taman kota saya tidak bisa melawan keinginan untuk berhenti dan menikmati suasana. Hening. Enak banget. Saya duduk di salah satu bangku taman di sana - hanya ada saya di sana. Mengamati menikmati keheningan. Mengamati bagaimana sinar mentari pagi menerobos lembut rindangnya dedaunan yang menaungi tempat saya duduk. Ingatan saya kembali ke filem Perfect Days, tentang Hirayama-san dan Komorebi, tentang bahagia yang sederhana...
Ini kemewahan luar biasa. Cukup lama saya ada di sana, tidak tergesa - seperti biasanya. Hening yang juga membawa ketenangan - seakan memperlambat berjalannya waktu. Di beberapa titik saya berhenti lagi, menikmati hening yang ada, karena ini istimewa sekali. Sampai di titik henti biasanya, tempat jualan yang jadi langganan juga tutup. Saya berhenti duduk di kursi dan mulai mengetik tulisan ini. Tidak lama kedai kopi di sebelahnya mulai membuka. Jadilah secangkir kopi menemani saya menuliskan ini. Sama juga - sambil menikmati suasana (mohon maaf bagi yang beribadah puasa 🙏🏼)
Di tengah kehidupan yang semakin hiruk pikuk, keheningan dan kesegaran udara di tengah kota adalah kemewahan luar biasa. Dan saya sangat mensyukurinya. Mungkin tidak sering terulang, karenanya saya mencatatkannya di sini. Salam.