Hmm, tetiba terlintas untuk menulis tentang ini. Gegara Sabtu lalu saya menghadiri pernikahan anak teman SMA saya. Upacaranya bagus banget, khidmat, khotbahnya menarik dan banyak mengajak refleksi diri terhadap proses saya berkeluarga selama ini. Khidmat, sakral, itu yang terasa, didukung oleh lagu-lagu dan musik yang dibawakan chamber orchestra yang bagus sekali memainkan lagu-lagu di sepanjang upacara.
Di perjalanan pulang, satu hal muncul di benak saya tentang yang sakral tadi. Menyadari bahwa ruang sakral di kehidupan modern sudah sangat sempit. Sepertinya tinggal tersisa di rumah-rumah ibadat dan di tempat-tempat tertentu. Di kehidupan sehari-hari, kesakralan hilang, hidup mekanistis saja, pragmatis, untuk cari uang dan menjalankan aktivitas sehari-hari. Di awal hari, menjelang tidur kita berdoa, umat muslim menjalankan salat lima waktu. Di luar itu kehidupan berjalan sangat banal. Rutin, nirmakna, otomatis, mekanistis dan sepertinya dijalankan tidak berkesadaran. Inilah dampak peradaban modern yang berjalan semakin cepat dan semakin terkotak-kotak. Tidak ada waktu untuk diam, untuk hening, untuk berjeda, untuk merenung dan menemukan makna dari setiap ketukan waktu yang kita jalani...
Ruang kehidupan yang sakral sudah nyaris hilang, menyempit. Hanya sedikit kesempatan kita hadir di suasana yang sakral dan sarat makna. Di luar itu semua berjalan begitu saja.
Kehidupan leluhur kita - yang sekarang disebut kuno atau jadul punya dinamika kehidupan yang jauh lebih sakral dibandingkan kita saat ini. Saya kira ini sebabnya kehidupan orang-orang dulu itu lebih spiritual - lebih berkesadaran. Mereka mau menebang pohon ada upacaranya, awal musim tanam ada upacaranya, panen ada upacaranya. Setiap tahun mereka punya ritus untuk mensyukuri siklus kehidupan yang ditandai perputaran musim - yang juga menentukan musim tanam. Mereka menyadari ketergantungan kehidupan mereka terhadap udara, air, tanah yang sehat subur dan bisa menyokong kehidupan. Segala sesuatu di sekitar mereka sakral jadinya. Mereka punya rasa ketergantungan yang besar terhadap lingkungan di luar diri mereka untuk bisa menjalankan kehidupan mereka.
Sekarang semuanya berbeda, semua urusan uang. Untuk makan, untuk minum, untuk segala hal urusannya adalah uang... Uang jadi dewa dan serba dikejar-kejar - karena saat ini kehidupan manusia modern dikendalikan oleh sistem ekonomi yang demikian... Video di atas saya tempatkan di sini karena ikut memantik kesadaran saya tentang apa yang saya tuliskan di sini. Di Semi Palar, berbagai hal kita coba tempatkan lebih bermakna - melalui ritus-ritus sederhana yang menempatkan simbolisasi terhadap pentingnya, sakralnya berbagai hal. Kita perlu kembali ke kearifan leluhur kita supaya kita bisa menyeimbangkan kehidupan modern, teknologi dan berbagai halnya dengan kesadaran bahwa kita adalah bagian, kepingan dari semesta yang begitu besar dan begitu penuh keajaiban. Mari ingat kembali dan mulai kembalikan berbagai ritus kesadaran ke dalam proses kehidupan hari ini agar hidup kita kembali bermakna, kembali sakral, kembali spiritual. Salam.
Photo by THÁI NHÀN: https://www.pexels.com/photo/monk-holding-prayer-beads-across-mountain-2730217/