Saya membaca postingan menarik hari ini, tidak cuma satu tapi tiga, eh malah empat!, yaitu tentang marah. Ini seru juga sebab selama ini di Atomic Essay Smipa kebanyakan menayangkan hal-hal yang positif atau paling banter hanya mengumbar kekecewaan atau sesuatu yang "mengganggu", mangkanya begitu membaca sesuatu yang berbau agak provokatif (hehehehe) saya jadi tertarik. Kebetulan sekali beberapa hari yang lalu memang saya betul-betul marah di tempat kerja, jadi tertarik juga untuk berbagi.
Sebelum saya urun pendapat soal marah, saya mau cerita dulu kenapa saya marah. Minggu ini saya marah karena kekecewaan dan ketidaksabaran. Tidak sabar karena ada manager yang seharusnya melaksanakan tugas tapi tidak dia lakukan sehingga pekerjaan saya tertunda dan saya bukan tipe orang yang suka terlambat. Terlambat bagi saya menentang prinsip dan tidak menjalankan prinsip adalah sesuatu yang big deal! Berbagai cara saya lakukan agar setiap manager yang bertanggung jawab melaksanakan tugasnya tepat waktu, dari mulai mengirimkan email beberapa hari sebelumnya untuk mengingatkan hingga mencantumkan deadline. Still did not work, especially for a certain person! Dan ini sangat mengecewakan serta sangat mengganggu sehingga saya marah.
Yang kedua, yang membuat saya meledak dan sedikit (atau mungkin "lebih") berteriak dengan mengeluarkan sumpah serapah juga karena ketidak-profesional-an dan kapabilitas seseorang dan ini membuat saya jengkel karena saya sudah berusaha untuk intervensi tapi yang bersangkutan memang belet walau yang saya minta dia serahkan agar saya dapat membantu adalah sesuatu yang sederhana sehingga istilahnya anak kecil pun bisa lakukan.
Katanya ketika kita marah detak jantung meningkat, produksi testoteron juga meningkat sehingga hormon cortisol menurun dan bagian otak kiri kita terstimuli. Gejala ini sebetulnya mudah sekali disadari dan jika kita benar-benar mindful, sebelum berakhir dengan ekpresi kemaran kita bisa melakukan sesuatu.
Saya biasanya bisa melakukan itu terutama di tempat kerja karena sebisa mungkin saya mengesampingkan segala bentuk emosi. Saya memiliki banyak pengalaman berhadapan dengan individu-individu yang sulit dan berkali-kali akhirnya saya terkena imbasnya karena saya bereaksi. Sesudah menghadapi berkali-kali akhirnya saya mempunyai cara tersendiri untuk menanggulanginya. Saya mampu men-suppress segala bentuk kekecewaan dan kemarahan dengan tindakan yang produktif, yang dibutuhkan adalah sebentuk kesadaran dan pengenalan terhadap gejala kemarahan. Seingat saya dulu pernah mengikuti semacam workshop di Bandung yang melatih masalah ini. Itu saya terapkan dan di tempat kerja hampir selalu berhasil.
Disamping suppression, saya selalu berusaha menenangkan diri, menghitung 1-2-3 serta mengambil napas dalam-dalam sebelum bertindak sebagai bentuk menunda reaksi seringkali juga berhasil menenangkan semua "otot-otot leher" dan dapat menanggulangi kemarahan. Menunda seringkali memberikan kesempatan untuk berpikir sebelum bertindak sehingga dapat mengindari reaksi yang berlebihan atau bahkan sesuatu yang kemudian akan disesali.
Yang terakhir, melawan hormon-hormon negatif dengan memproduksi sebanyak mungkin hormon bahagia, yaitu olahraga! Beberapa waktu yang lalu saya terganggu karena petugas bank, sorenya saya hajar hormon negatif itu dengan olahraga dan menimbun sebanyak-banyaknya hormon endorphin dan saya pulang tanpa membawa kerenyit di dahi tapi justru dengan senyuman.
Tapi ada satu hal yang ingin saya tambahkan; melampiaskan kemarahan itu ternyata juga memberikan kepuasan! Hanya saja sesudahnya saya merasa malu karena lepas kontrol walaupun sekeliling saya mengetahui mengapa saya melakukan itu dan memaklumi rasa frustrasi yang saya alami. Yang akhirnya saya harus lakukan adalah berdamai dengan diri sendiri dan "memaafkan" diri sendiri bahwa memang kadangkala saya perlu juga mengeluarkan unek-unek, tentunyta sejauh itu masih dalam taraf sehat 
Foto: oneclickroot.com
Waaa asik nih Pak Jo, ada bocoran teknik terapi olah rasa marah 😂
Hahahah.. teknik abal2.. tapi lumayan lah sekali2 bisa berhasil hahaha