Laut adalah bagian dari hidup saya. Sejak kecil di kampung hingga lepas SMA laut dan sungai hampir menjadi keseharian saya. Memancing dan belajar mendayung serta mengemudikan perahu sering saya lakukan. Kebetulan ayah saya sangat piawai dalam hal mengemudikan perahu, saya belajar dari beliau walau entah apakah sekarang masih bisa, karena mengemudikan perahu itu ternyata sama sekali tidak mudah. Pertama kali saya belajar kalau tidak salah ketika masih SD. Berkali-kali perahu saya menabrak pohon bakau karena sulit mengarahkan perahu sambil mendayung pada saat yang bersamaan, gerak putaran dayung yang salah akan memelencengkan arah perahu.
setelah saya pindah Ke Bandung, laut manjadi hilang dari keseharian saya, berubah menjadi bukit dan gunung. Sesekali dalam setahun saya pergi mengunjungi ayah saya yang masih tetap tinggal di kampung dan di sana saya akan pergi menyapa laut dan juga berdoa untuk mendiang ibu dan kakak saya yang abunya ditabur di laut. Pindah ke Fort Collins yang berada ditengah-tengah Amerika sama sekali tidak membantu keinginan saya menyapa laut. Beberapa hari terakhir ini kembali laut menjadi keseharian saya!
Pagi-pagi di akhir kegiatan lari pagi, selalu saya sudahi dengan duduk memandang laut. Debur ombak yang sangat mistis buat saya begitu menenangkan jiwa. Memandang ujung laut yang seolah-olah bersentuhan dengan langit buat saya adalah pemandangan yang luar biasa. Di sini saya merasa sebagai mahluk hidup yang sangat kecil tidak berarti apa-apa dibandingkan dengan kemegahan ciptaan Tuhan yang melebihi segala sesuatu. Tiba-tiba relung jiwa yang sengaja saya usahakan kosong, tanpa ada pemikiran dipenuhi dengan perasaan yang sulit saya gambarkan. Yang saya rasakan hanyalah kedamaian dan kekaguman akan keindahan semesta.
Warna oranye karena matahari mulai naik menandakan bahwa kegelapan malam sekarang dikuasai oleh cahaya. Hari berganti, istirahat digantikan dengan aktifitas, hari baru menyambut dan petualangan menunggu. Kemarin menjadi kenangan dan yang akan datang menghadirkan harapan. Hitam menjadi biru serta aneka warna dan keindahan mulai terasa menguasai alam.
Pagi hari di Waikiki masih belum banyak kegiatan. Orang-orang yang berlari dan berolah raga seperti saya memang banyak. Para pengunjung masih sibuk dengan mencari kopi atau sarapan, mereka belum ramai mengunjungi laut, kecuali mereka yang ingin segera menyapa ombak dengan papan selancar mereka. Dulu saya sering menggunakan body board, berbeda dengan surf board. Yang terakhir bisa berdiri dan meliuk-liuk ketika ombak membawa kita ke tepi pantai, tapi dengan body board kita hanya meluncur sambil telungkup menunggangi ombak yang meluncur kadang dengan kecepatan lumayan tinggi menuju pantai. Sesudah kekuatan ombak habis, saya kembali berbalik ke tengah, mengayuh dengan kedua tangan sampai tiba di tempat dimana ombak mulai terbentuk dan berusaha berada di puncaknya agar ikut terbawa meluncur. Begitu seterusnya. Tapi hati-hati, jangan melakukan ini dengan telanjang dada, sebab permukaan body board kadang kasar, badan tergesek-gesek permukaan papan luncur, ditambah air garam maka dada kita berubah merah lalu mulai luka-luka dan rasanya sakit bukan main. Pakai kaus olahraga, sebaiknya yang lekat dengan tubuh, kalau punya yang berbahan spandex akan lebih baik, disamping melindungi kulit juga melindungi suhu tubuh. Ini olahraga yang seru!
Hari ini Nina, Kano dan Saya akan mengelilingi pulau. Dulu bisa diselesaikan sekitar 3 hingga 4 jam. Tergantung dengan apa, kalau bus kota dan melakukan beberapa perhentian bisa menghabiskan 1 hari. Berkendaraan pribadi bisa 1 hari juga tapi lebih leluasa mengambil perhentian. Banyak pantai yang indah yang dapat dikunjungi, dan yang terpenting, makan siang garlic shrimp yang dijual di food truck di pantai utara yang bernama Geovanni, lalu es serut di Matsumoto di Haleiwa. Tapi cerita soal ini akan saya tulis besok ditambah ngobrol soal pantai-pantai yang akan kami kunjungi. Salam!***