AES#005 Lima Lapis Kesadaran (1)
Murdeani
Monday May 12 2025, 7:00 AM
AES#005 Lima Lapis Kesadaran (1)

Sejak kecil, aku seringkali mempertanyakan tentang banyak hal, tentang realitas kehidupan dan kematian dan semua di antaranya, tentang bumi dan langit, tentang kotak-kotak agama, tentang Tuhan.. dan banyak hal lain dan jawaban yg kudapatkan dari orang dewasa seringkali gak memuaskanku, karena kembali lagi ke doktrin (saat itu aku jelas gak tau apa itu doktrin, tapi ada bagian dari diriku yang ngga kerasa nyaman untuk menerimanya bulat-bulat).

Maka tumbuh menjadi orang dewasa dan membentuk keluarga sendiri jadi terasa sangat membebaskan untukku. Finally aku bisa jadi diriku sendiri. And I will do it my way.

Lalu pertanyaan2nya terjawab ngga? Malah makin banyak hahaha… Dan itu melewati fase-fase penuh pergolakan emosi. Untungnya suamiku juga sama-sama seeker, jadi sefrekuensi, meski kadang cara kita beda. Dari awal kami menikah, kami menyebutnya partner belajar dan bertumbuh seumur hidup.

Pertanyaan-pertanyaan yang kusimpan selama ini memang jadi pemantik perjalanan spiritualku, namun ternyata perjalanan ini bukanlah berupa sebuah garis linier, tapi melingkar atau spiral. Dan tak ada kata selesai karena memang selalu ada lapisan baru yang aku kupas. Namun paradoksnya, dari awal ternyata kita sudah di garis finish. Yang kita lakukan ternyata bukanlah mencapai sesuatu, tapi justru turun ke bawah, untuk pulang, untuk menyadari bahwa sejak awal kita sudah sadar. Dan untuk itu, kita gak perlu jadi apa-apa, kita gak perlu tahu apa-apa.

Upayaku dalam mencari tahu selama ini lebih banyak memenuhi kepalaku dengan konsep-konsep dan label-label. Aku berusaha keluar dari kotak yang satu tapi terjebak masuk ke kotak lain. Merasa sudah lebih tahu, tapi ternyata masih ilusi. Dan tak jarang, malah bikin hidupku makin ruwet, bukannya damai. Bikin aku judgmental tapi berusaha engga. Tapi itu semua nggak salah kok. Itu bagian dari perjalanan. Begitu kita sadar bahwa kita terjebak dalam konsep semata, kita akan terus bergerak. Mereka harus dilihat lebih sebagai pintu gerbang untuk mengalami sesuatu yang lebih besar dari diri kita, bukan sekadar upaya untuk memecahkan teka-teki kehidupan melalui pikiran. Karena pada akhirnya, yang kita butuhkan adalah pengalaman. Ngajadi.

Bersambung ke bagian 2 besok-besok.

---

Post berikutnya: https://ririungan.semipalar.sch.id/murdeani/blog/7673/aes006-lima-lapis-kesadaran-2

Post sebelumnya: https://ririungan.semipalar.sch.id/murdeani/blog/7666/aes004-benang-luka-benang-cinta