Lagi-lagi kejebak macet di luar tol Pasteur gara-gara ada perbaikan jalan. Ini sudah perbaikan jalan yang ke-7 kali—atau mungkin yang ke-8, saya lupa—dalam 3 bulan belakangan. Anak saya masuk sekolah pukul 07:45 WIB, kira-kira 15 menitan lagi, dan mobil kami baru masuk barisan paling belakang dalam antrean sepanjang 500 meter. Kondisi seperti ini biasanya terjadi di hari Senin. Tapi sekarang bukan hari Senin, dan kami terpaksa menjalani 4 kali Senin dalam seminggu ini.
Tol Pasteur di saat macet memang selalu menjadi momen ujian kesabaran dan stabilitas mood. Sebetulnya tersedia 9 sampai 10 lajur mobil begitu Anda keluar dari gerbang tol. Tapi jalan yang melebar itu perlahan mengerucut, yang awalnya 9 lajur mengecil jadi 6 lajur, lalu menyempit lagi jadi 4 lajur sampai ke perempatan lampu lalu-lintas. Oleh karena itu, rebutan lajur bisa jadi ajang peperangan tersendiri. Anda harus pandai-pandai mengatur arah maju mobil: kapan harus tetap lurus dalam barisan, kapan harus belok masuk ke barisan lain, kapan harus menyalip mobil di samping Anda, kapan harus mengalah disalip mobil lain (apalagi yang nomor platnya dari luar kota), dan kapan harus diam di tempat saat pengemudi lain mulai injak gas (karena Anda butuh jeda sebentar untuk sekadar mengembuskan napas ikhlas).
Dalam situasi seperti itu terkadang siaran radio bisa sedikit membantu melemaskan otot-otot emosi. Saat mobil berhenti saya lebih suka mendengarkan obrolan para penyiar di radio. Saya lebih tertarik menyimak topik-topik remeh seperti cocokologi cuaca Bandung dengan skor Persib nanti sore, analisis perbedaan rentang umur antara orang-orang yang padel pagi dan malam, atau bahas makanan apa saja yang cocok dikasih topping sukro. Tapi sayangnya saya nggak bisa lama-lama mendengar percakapan ngalor-ngidul di radio karena anak saya pasti minta ganti ke saluran lain yang memutar lagu-lagu populer; lagu-lagu yang justru tidak terlalu “ramah” di telinga saya.
Hiburan lainnya adalah membaca tulisan-tulisan atau stiker-stiker yang tertempel di belakang mobil — biasanya terlihat di belakang truk barang, dan lebih sering berupa potongan curhat kehidupan daripada jokes garing. Satu yang sempat saya lihat dan masih saya ingat adalah stiker kecil bertuliskan “Tara Balik” di pintu belakang sebuah truk boks warna kuning dari luar kota. Singkat, padat, agak miris.
Nah, kalau kebetulan jalanan sedang sepi truk, tulisan-tulisan di papan billboard juga bisa jadi hiburan bagi kami. Pagi tadi ada sebuah billboard berisi ucapan sambutan selamat datang kepada ST Burhanuddin, Jaksa Agung dari Kejaksaan Agung Republik Indonesia, yang fotonya bersanding dengan foto Menteri Keuangan Purbaya. Melihat itu anak saya yang masih kelas 2 SD terpantik untuk bertanya ke ibunya yang duduk di kursi penumpang depan, “Bun, masa ada orang namanya Burhanuddin?” Dia tertarik dengan sempilan nama “Burhan” di sana karena Burhan adalah nama boneka burung hantu kesayangannya. Waktu usianya masih balita, dia sendiri yang memberi nama Burhan untuk bonekanya itu, kependekan langsung dari burung hantu. Sesimpel itu. Dia tidak tahu kalau Burhan adalah nama yang cukup akrab untuk orang Indonesia, setidaknya di angkatan Baby Boomers.
Otomatis saya dan istri tertawa lepas mendengar pertanyaan polos tadi. Anak saya pun ikut-ikutan ketawa, mungkin karena dia mendengar kami ketawa, dan dia melanjutkan lagi dengan muka tambah cengengesan, “Burhanuddin dikurangi Udin, jadinya Burhan!”
Tanpa mengurangi rasa hormat sedikit pun kepada Bapak ST Burhanuddin, atau Bapak-bapak Burhanuddin lainnya di luar sana, bagi saya selentingan itu sangat lucu. Saya ketawa, istri saya ketawa, anak saya lanjut ketawa lagi. “Burhan ditambah Udin sama dengan Burhanuddin!” Sungguh informasi yang sangat bermanfaat.
Entah apa namanya jenis lelucon yang tadi itu. Yang pasti, di tengah kondisi lalu-lintas yang selalu tak pasti, di tengah kemacetan yang tak kunjung beres, dan di tengah rencana-rencana persiapan berangkat sekolah yang kerap dibelokkan realitas, bisa tertawa bersama-sama di dalam mobil adalah kemenangan kecil yang patut diingat-ingat.
Terima kasih Ikra dan selamat untuk postingan perdananya di Ririungan. Asik banget juga tulisannya jadi inspirasi bagaimana bisa terus berkesadaran di tengah ruang yang esensinya kebosanan. Ditunggu tulisan berikutnya. Ijin colek @ratrikendra dan @joefelus... ada yang pecah telor lagi nih. ☝🏼🤗
Hihihi, banyak kejutan ya, Kak Andy.
Banyak pula komedi di dalam mobil kecil, yang terjadi sembari menunggu lampu hijau di perempatan tol Pasteur 😁
Sepertinya festlit tahun ini panen pecah telor ... Selamat untuk unggahan pertamanya dan ditunggu kisah-kisah berikutnya.
Sama-sama, Kak. Bersyukur Smipa bisa selalu mengadakan FestLit. Kita jadi bisa merayakan literasi bersama anak-anak, termasuk memfasilitasi kebiasaan menulis dan membaca.