Masih harus mengejar 3 esai yang tertinggal. Sebetulnya sudah mau beranjak untuk istirahat, tapi mengamati kakak2 pada posting dengan tema Marah. Saya menduga pasti ada sesuatu. Membaca posting kak MJ, ternyata kak Leo biang keroknya, membuat tantangan buat kakak2 untuk menuliskan esai dengan tema Marah... Hahaha... lucu juga, dan pancingannya berhasil. Ada kak Mpit, kak Pungky, kak MJ, kak Mamat, kak Tesa, hmm siapa lagi ya, semua menulis tentang marah...
Kebetulan saya ga dapet WA dari kak Leo, jadi saya akan menulis tentang Ramah - supaya enerjinya lebih seimbang. Hehe.. Kalau boleh disebut sebagai antitesis dari marah, ramah mestinya punya enerji yang lebih positif. Karena tadi siang, kita semua belajar bahwa segala sesuatu adalah enerji. Sempat ada kakak yang menulis juga dan mempertanyakan apakah kita tidak boleh marah? Ya boleh aja, ga ada yang ngelarang. Kembalikan aja ke kesadaran, apakah marah itu ada gunanya. Kalo ga ada gunanya, nyapain disimpan, dibuang aja. Dalam pengertian ya ga perlu marah kan?
Kembali ke apa yang dipelajari tadi bagaimana kita berjarak dengan pikiran dan emosi kita. Kalau berjarak, ga ada yang bisa bikin kita marah, karena kita ga akan kesentuh secara langsung apa yang mengganggu diri kita. Bukannya jadi tanpa emosi, berjarak itu kan membuat kita bisa memandang lebih jernih apa yang terjadi. Ini yang namanya kesadaran. Kalau bikin marah ya dilepaskan, tapi sebaliknya kalau kita bisa ramah, ya kenapa tidak. Kesadaran. Jadi kendalinya ada di kita.
Kalau sudah begini kita yang mengendalikan emosi kita - bukan emosi yang mengendalikan kita. Kalo udah bisa begini asik kan? Kita bisa memilih untuk menjadi ramah alih-alih menjadi marah. Salam.
Photo by Bekka Mongeau from Pexels
✊😂 solusi marah ada pada ramah ya K