Akhir-akhir ini saya terlalu banyak diam secara fisik karena tugas saya adalah menjaga. Sesekali ketika beliau terjaga saya menampakkan diri, hanya sekedar menunjukkan bahwa beliau tidak sendirian, bahwa saya hadir kapanpun beliau membutuhkan. Biasanya saya masuk kamar dengan menyiapkan wajah ceria, penuh senyum bahkan tawa. Saya tahu, hal positif itu menular, tidak kalah dahsyatnya dengan yang negatif. Saya ingat beberapa hari lalu ketika merasa sepertinya hampir kehilangan beliau, sempat tersedu-sedu, sebuah perasaan yang sulit dibendung. Dan untuk pertama kalinya beliau menunjukkan emosinya dengan menyentuh tangan saya serta menggenggam erat-erat. Sepertinya itu titik balik, sejak saat itu beliau berangsur-angsur membaik. Tidak menolak minum bahkan minta lotek serta gado-gado hahaha.. Dan hari ini sebuah keajaiban terjadi. "Mau duduk!" Katanya. Dengan sangat bahagia saya membantu beliau duduk di tempat tidur lalu pindah ke kursi singgasana favoritnya. Saya segera membersihkan tempat tidurnya, mengganti seprai dan semuanya. Sekarang semua tampak bersih dan harum sementara beliau asyik duduk makan siang sambil menonton televisi. Itu kejutan pertama, atau keajaiban pertama. Saya sesekali menengok beliau, makannya lambat-lambat dan saya bersihkan mangkuk serta piring kue begitu selesai. Ketika kembali, beliau sudah berbaring tanpa dibantu! Keajaiban kedua!
Di belahan bumi yang lain sahabat saya sedang menjalani hari ke 41 setelah operasi otak dan sekarang sedang menjalani rehabilitasi. Proses rehab seperti bootcamp katanya. Dari pukul 9-10 menjalani physical therapy, belajar menggerakkan anggota badan, belajar duduk, berdiri dan berjalan. Operasi otak adalah operasi yang sangat besar, mengganggu seluruh organ tubuh sehingga pasien harus berjuang antara rasa lelah, proses penyembuhan tetapi tetap dipaksa untuk bergerak. Pukul 10-11 belajar bicara, belajar berkomunikasi seperti mengidentifikasi benda, menirukan ucapan, nama benda, mengikuti perintah seperti membuka mulut, menyentuh hidung dan sebagainya. Lalu dari pukul 11 hingga 12 siang, sahabat saya belajar melakukan hal-hal sederhana seperti sikat gigi, kumur, membuka tutup pasta gigi, membasuh wajah dan sebagainya.
Sahabat saya itu jauh lebih muda dari ayah saya. Dua-duanya dalam perawatan. Saya mungkin kebagian yang jauh lebih mudah, tapi urusan perawatan orang yang mengalami masalah kesehatan memang beda. Di negara sana yang melakukan adalah tenaga medis karena ada asuransi kesehatan dan sebagainya. Yang melakukan adalah orang-orang profesional. Di sini karena resource yang terbatas, saya melakukan sendiri. Bukan tenaga profesional, tapi bedanya jauh sekali. Petugas profesional tidak ada ikatan emosional antara perawat dan pasien, di sini yang saya lakukan bukan merawat tapi mengungkapkan rasa cinta, rasa hormat, rasa terima kasih dan sebagainya. Ikatan emosional sangat lekat dan saya bersyukur saat ini ada di samping beliau.
Foto credit: wumbo.net