
Kalau dipikir-pikir, saya punya pengalaman sangat lengkap sejak masa kecil sampai sekarang. Saya beruntung dibesarkan di kampung dan mengalami masa kecil yang sangat menyenangkan. Di belakang rumah penuh dengan berbagai macam pohon, ada banyak pohon mangga dari berbagai jenis (cengkir, harumanis, golek,dll), pohon pisang, pohon pepaya, jambu, kedondong, ciremai, lobi-lobi dan entah apa lagi. Walau dari keluarga sederhana, saya tidak kekurangan kalau urusan buah-buahan. Kalau dibilang bandel, ya mungkin saya termasuk anak bandel yang bercita-cita jadi Tarzan hahaha.. Jadi jangan salah kalau pulang sekolah saya akan bisa dijumpai di atas pohon seperti monyet atau sedang berenang di sungai! Saya kenyang makan buah-buahan, mau mangga tinggal naik pohon, tidak peduli pohon milik siapa (hahaha) dan saya akan duduk di atas salah satu cabang sambil makan mangga, dikupas dengan gigi lalu kulitnya saya jatuhkan ke bawah. Jaman itu belum ada istilah recycle, reduce, reuse, tapi saya sudah membantu pohon-pohon yang saya naiki dengan compost melalui kulit-kulit yang saya jatuhkan begitu saja! seperti codot pokoknya sih hahaha.. Bandel karena kalau saya lihat pisang yang sudah masak, saya akan panjat dan saya kupas pisang itu saya ambil isinya dan saya biarkan kulitnya tetap menempel. Suatu waktu pemiliknya mau memanen, setengah tandannya sudah tinggal kulitnya saja. Oh iya, saya lupa cerita, saya tinggal di lantai atas (loteng) keluarga lain tinggal di bawah. Saya tidak tahu pohon-pohon itu siapa yang menanam, seingat saya yang menanam ayah, tapi tetangga bawah rumah juga sering mengklaim sebagai pohon-pohon miliknya. Saya tidak mempermasalahkan itu, yang penting siapa cepat dia dapat hahaha.
Kedondong adalah salah satu buah kegemaran saya, pohon yang di belakang rumah sangat tinggi dan banyak buahnya. Saya akan bergelantungan sambil bermain dan memetik kedondong yang biasanya bergelantungan karena tangkainya lumayan panjang dan seringkali bergerombol buahnya. Cara makannya ya dibanting atau dijepit pintu! Kalau masih agak asam, saya curi garam dari dapur dan dimakan dengan garam! Nikmat! Ciremai enak juga tapi terlalu asam, seringnya saya buat manisan kalau punya uang untuk membeli gula, lalu saya jadikan sirup untuk merendam. Kadang saya buat manisan kedondong juga jika punya uang untuk membeli gula dan cabe. Sama dengan lobi-lobi.
Kalau sedang rajin, saya membuat sayur asin dari semacam tananaman perdu, di kampung disebut daun boboan. Karena kalau beli sayur asin itu mahal, saya buat sendiri dengan direndam air kepala. Oh ya, seingat saya dibelakang rumah juga ada pohon kelapa! Jambu yang paling saya sukai adalah jambu babi, lebih enak dari jambu kelutuk atau jambu batu. Jambu babi bentuknya lucu ada bagian menonjolnya di bagian bawah, dagingnya banyak tidak seperti jambu batu yag biji-bijinya lebih banyak.
Kadang saya pergi ketempat nenek. Nah di tempat nenek lebih asyik lagi karena lingkungan tetangga banyak sekali pohon rambutan. Nah sebelnya pohon rambutan selalu banyak semut. Tapi saya tidak peduli karena sangat menyukai rambutan, sehingga setiap pulang kerumah bibir saya bengkak karena digigit semut ketika makan rambutan sekenyang-kenyangnya. Dekat tempat nenek saya juga ada pohon kecapi, nah saya dengan beberapa teman suka berebut jika ada kecapi jatuh. Kecapi yang jatuh itu rasanya enak sekali dibandingkan dengan yang dipetik.
Dari masa kecil lalu menginjak remaja dan dewasa, jika saya membayangkan bahwa pohon-pohon itu sebagai sebuah keluarga besar yang hidup dimana-mana di seluruh dunia dan saling terkoneksi satu sama lain, maka keluarga pohon itu sudah menyaksikan kehidupan saya, pada saat berbahagia bermain dengan pohon kedondong, pohon jambu bahkan di masa remaja pohon mangga di samping gereja yang saya curi sampai beberapa karung! (hahaha.. sekarang ketahuan bandelnya khan?), oh saksinya banyak itu, beberapa teman SMP yang sekarang ada di Bandung, di Bogor bahkan di Australia dan Amerika!
Salah satu keluarga pohon di belahan dunia lain juga menyaksikan bagaimana saya menjalani kehidupan dari bawah hingga ke puncak, dari sendirian hingga berdua lalu membentuk keluarga. Pohon Banyan di lapangan dekat pantai yang akarnya menjuntai dari batang di atas hingga ke tanah, pohon Maple yang pada musim gugur berdaun merah menyaksikan saya mendorong kereta dengan seorang bayi yang baru bisa berjalan. Bahkan pohon palem yang juga menyaksikan si bayi yang pada saat itu masih dalam kandungan. Dan sekarang ribuan pohon pinus, blue spruce, Aspen, Ash, oak dan lain-lain menyaksikan si bayi itu sudah menjadi anak menjelang dewasa yang sudah melebihi tinggi badan bapaknya. Pohon pohon itu punya banyak cerita!

Mari kita jaga pohon-pohon itu karena mereka menyaksikan semua yang sudah kita jalani. Melihat air mata yang sudah tertumpah, ikut bahagia ketika kita tertawa. Mereka selalu menjaga dan menjadi saksi hidup kita! ***