AES 498 Atrraversiamo
joefelus
Monday October 3 2022, 3:24 AM
AES 498 Atrraversiamo

Saya duduk ditemani segelas Argentinian wine pemberian seorang teman beberapa waktu yang lalu. Sekarang saatnya beristirahat sesudah berpetualang seharian. Acara tidak berjalan semulus yang sudah direncanakan. Ketika kami bersiap-siap akan berangkat menjemput Simon, ternyata kendaraan tidak bisa distarter. Aki mati! Beberapa kali saya coba, gagal. Untung Simon bersedia membawa kendaraannya, dengan catatan saya yang harus menjadi sopir. Okay lah! Rencananya memang begitu, tapi meggunakan mobil saya yang saat ini mogok.

Sudah lama saya tidak mengendarai SUV, ternyata asyik juga. Perjalanan lumayan lancar, walau sempat terkena kemacetan sebab ada sekitar 2 miles di Interstate Highway 25 di tutup karena ada perbaikan, menyebabkan macet sekitar 35 menit dan jalan dialihkan. Tiba di pusat komputer 1 jam terlambat, makan siang juga terlambat, hingga tiba tempat parade mobil klasik terlambat. Tiba di sana, 30 menit kemudian badai turun. Parade bubar! Tidak banyak yang dapat kami lihat. Akhirnya kami memutuskan untuk pulang. Tiba kembali di rumah sudah malam, sudah gelap. Iseng saya mencoba menstarter mobil, eh.. dia hidup seperti tidak kekurangan sesuatupun. Aneh! Tapi tak apa, mungkin itu seperti tanda gejala sudah waktunya aki diganti, besok akan saya coba beli.

Saya mereguk sedikit wine, keharuman memenuhi rongga mulut lalu kehangatan mulai merayap di tenggorokan, rongga dada hingga ke perut. Saya langsung merasa rileks. Di TV ada sebuah film yang entah mulai diputar berapa tahun lalu, mungkin sekitar 10 tahun yang lalu. Saya punya novelnya, tentang seorang penulis yang berusaha mencari jati dirinya sesudah gagal dalam rumah tangga lalu berpetualang menikmati kelezatan makanan di Roma, Italia, kemudian belajar menemukan dirinya melalui meditasi di India dan menemukan cintanya di Bali.

Pengalaman traumatik dalam hidup memang seringkali membuat orang terlalu berhati-hati dan merasa takut untuk menyeberang karena khawatir akan jatuh lagi. Sejauh saya tahu, orang yang pernah mengalami sebuah situasi yang sulit akan berusaha menciptakan sebuah keseimbangan dimana dia akan merasa aman, jauh dari risiko yang akan kembali menghadapkan dia pada situasi yang tidak diinginkan. Hidup menjadi begitu terkontrol karena berusaha selalu berada digaris yang lurus dan nyaman, comfort zone. Pada saat itulah perjalanan hidup menjadi jauh dari adventurous. Seperti dua hari yang lalu ketika saya ngobrol soal petualangan dalam hidup, saya mengutip beberapa kalimat seperti misalnya, "Life begins at the end of comfort zone!" Jika kita hanya berlindung di zona aman, maka hidup kita akan seperti katak dalam tempurung, yang kita lihat hanya yang ada dalam lingkaran terdekat dan wawasan kita menjadi begitu terbatas.

Kutipan lain yang saya tulis di esai 2 hari yang lalu adalah ucapan dari Andre Gide, penulis yang berasal dari Perancis, pemenang Hadiah Nobel di bidang Literatur. Beliau mengatakan, "Man cannot discover new ocean unless he has the courage to lose sight of the shore." Kita harus berani melepaskan diri dari ketakutan kita, berdamai dengan kekhawatiran untuk dapat maju. Keseimbangan jika hanya mengikat kita untuk berada terus menerus di zona aman, maka keseimbangan yang kita rasakan hanyalah semu. Keseimbangan yang bukan sesungguhnya karena semua hanya berada dalam pikiran kita, keseimbangan yang kita ciptakan sendiri karena berusaha mengindari konfrontasi dengan kenyataan sebenarnya.

Nah untuk bisa maju dan hidup dalam kepenuhan, seperti kutipan Lao Tzu yang saya angkat kemarin, "Jika kita marah, kita hidup di masa lalu; jika kita khawatir, kita hidup di masa depan; namun jika kita merasa damai, artinya kita hidup di saat sekarang dimana semuanya menjadi make sense." Kita harus berani keluar dari batas yang kita ciptakan dari rasa khawatir dan rasa takut lalu, berdamai dengan kondisi saat ini serta berusaha menghadapi berbagai risiko. Untuk dapat hidup yang maksimal, kita harus menyeberang, let's cross over, attraversiamo!

You May Also Like