Siapkan 500 gram harapan.
Waktu kecil, aku ingin sekali bisa terbang.
Taburkan secubit impian.
Seringkali, saat malam, aku mimpi tentang terbang. Dalam mimpiku, aku melihat dunia dari atas. Teman-temanku melambai-lambai dari bawah. Aku bisa menyentuh pucuk pohon tertinggi, mengambil layangan yang tersangkut di genteng.
Tambahkan 3 sendok makan dongeng.
Aku membaca tentang Tintin yang naik roket, tentang Smurf yang membuat mesin terbang, tentang sayap rancangan Daedalus, tentang Icarus yang terbakar matahari. Kisah Icarus begitu menangkap perhatianku. Setiap pergi ke perpustakaan atau toko buku, aku akan mencari kisah itu di bagian mitologi (biasanya ada) dan memperhatikan ilustrasi sayapnya. Aku begitu yakin bisa membuatnya sendiri di rumah.
Bahan utama yang dibutuhkan untuk membuat sayap adalah, tentu saja, bulu burung.
Kalau aku menemukan bulu burung di jalanan, aku selalu memungutnya. Aku menjaganya baik-baik, dan sampai rumah, disimpan. Di rumah, aku punya sebuah kotak bentuk kelinci berwarna hijau muda (dulunya berisi telur cokelat). Di sini, sudah banyak sekali terkumpul bulu burung. Kalau lagi bosan, dan orang tua tidak melihat, diam-diam aku mencabuti bulu kemoceng.
Campurkan semua bahan, kukus, dan tunggu sampai matang.
Suatu hari, kuceritakan rencana agungku kepada Ayah dan Ibu. Kata mereka, bagaimana cara menempelkannya? Kataku, pelan-pelan, mungkin dijahit, mungkin dilem. Kata mereka, memangnya kamu bisa membuatnya dengan rapi? Kataku, nanti kalau sudah besar, pasti bisa. Kata mereka, memangnya sampai besar kamu masih mau membuat sayap? Kataku, pasti! Kata mereka, memangnya bisa benar-benar terbang? Tapi aku tidak tahu.
Keluarkan dari kukusan dan nikmati apapun hasilnya.