"How've you been? You look good!"
Pernah mendengar sapaan demikian? Jika pernah sekarang bayangkan jika ada orang menyapa kita demikian, apa yang kita rasakan? Menyenangkan bukan ketika ada orang yang mengatakan "you look good" Terlepas dari fakta yang sebenarnya. pada saat itu fakta menurut saya sama sekali tidak penting.
"Hallo. Waaah udah lama ya. Sekarang jadi gemuk ya."
Nah, sekarang bagaimana? Senang disebut gemuk? Hahaha.. Itu adalah percakapan yang sangat biasa dilakukan di tanah air. Kadang sapaan itu hanya sekedar bentuk keramah-tamahan, tapi tidak jarang kekejaman itu berlanjut. "Udah seumur kita harus jaga makanan, olahraga yang banyak dan diet!" Kebiasaan kita ini sudah terlalu latah untuk dilakukan tanpa memikirkan perasaan orang lain karena sudah dianggap lumrah. Tapi pernah kah kita berada di posisi orang yang kita sebut gemuk, perlu diet, dan kita nasihati untuk banyak olahraga?
Kebiasaan body shaming ini sudah lumayan lama dicetuskan untuk tidak lagi dilakukan, tapi berapa banyak diantara kita yang selalu ingat untuk tidak melakukan itu? Benar sekali, karena sudah menjadi kebiasaan maka kita sering lupa. Nah di sini kita harus bisa lebih peka dan berempati. Empati itu sesuatu yang harus dilatih. Empati itu bagian dari awareness, empati itu bagian dari mindful living! Dan kita sering lupa melakukan ini.
“Before you criticize or judge someone, walk a mile in their shoes.”
Pernah mendengar pepatah di atas? Ya! Itu adalah empati. Sebelum kita menghakimi orang lain, sebelum kita melabeli orang lain dengan predikat gemuk, kurus, pucat, loyo dan lain sebagainya, coba lah kita berusaha membayangkan menjadi orang yang bersangkutan. Janganlah kita bersombong diri memberi predikat pada orang lain karena pada dasarnya kita tidak pernah tahu apa yang mereka sedang atau sudah hadapi dalam hidup ini. Kita harus lebih peka bahwa setiap orang itu tidak sama, yang mereka hadapi belum tentu semudah yang kita kira atau sebaliknya yang kita hadapi dalam hidup belum tentu sepersepuluhnya apa yang mereka alami.
"Wah Jo sekarang jadi gemuk. Seneng ya hidup di Amerika!" Berapa kali saya mendengar sapaan ini. Tapi saya sudah siap, saya tahu kebiasaan "lokal" dan saya tidak mau ambil hati. Saya tidak perlu menjelaskan kepada mereka,"Kamu tahu tidak saya sudah susah payah mengatur makanan, menghitung kalori, berolahraga sampai berdarah-darah demi menjaga kebugaran. Tapi karena saya penyandang penyakit hashimoto syndrome dan kelenjar thyroid saya itu sangat tidak baik, maka sesedikit apapun makanan yang saya makan tetap ditimbun jadi lemak sehingga tubuh saya tambun!" Tidak, saya tidak perlu mengatakan itu. Apa yang teman-teman saya katakan itu saya terima sebagai bentuk sapaan akrab bahkan sebagai bentuk pujian karena orang dahulu katanya kalau gemuk itu hidupnya bahagia! Hahahaa..
Pernahkah kita melakukan ini:
"Before you say something, THINK if It is True, Helpful, Inspiring, Necessary, and Kind?"
Mungkin ini sebagai salah satu cara untuk melatih empati kita yaitu dengan THINK, sebelum mengatakan sesuatu. THINK adalah singkatan dari kata-kata tadi: True, Helpful, Inspiring, Necessary, dan Kind. Seandainya sebelum kita mengatakan sesuatu, kita berpikir sejenak apakah yang akan kita katakan pada orang lain itu merupakan sesuatu yang benar (tepat), apakah kata-kata itu akan membantu dia, apakah memberikan inspirasi bagi dia, apakah perlu untuk dikatakan dan apakah perkataan itu baik? Nah mungkin ini sangat perlu kita latih. Sambil berlatih tentunya secara otomatis kita juga melatih awareness dan juga menjalani hidup yang mindful. Kurang apa, coba?
Obrolan saya kali ini memang terinspirasi dari kejadian-kejadian akhir-akhir ini. Seandainya saja semua orang melakukan ini, tidak akan ada lagi perdundungan apalagi yang berakibat tragis.
Foto credit: apexlearningvs.com