AES 360 Roles
joefelus
Wednesday May 18 2022, 6:46 AM
AES 360 Roles

Modern education and modern economic life use to compel women more and more to leave the narrow sphere of the family circle and work side by side for the enrichment of society. She can be a member of any women’s organization and can launch various programs like literacy programs such as adult education, education for disadvantaged girls, etc.

Kutipan di atas merupakan salah satu fakta yang terjadi di masyarakat jaman sekarang. Peran perempuan sudah banyak meninggalkan pakem tradisional yang hanya terlibat dalam tugas seputar pekerjaan rumah tangga yang sudah absolete, sudah usang. Tapi tidak semua begitu, masih banyak contoh di masyarakat yang masih terikat pada tradisi, budaya yang sudah berlangsung entah sejak kapan.

Barusan saya melihat sebuah berita. Saya hanya melihat judulnya sebab seperti biasa jurnalis tanah air kalau menulis artikel atau berita, isinya seringkali sudah dirangkum di judul, jadi saya hanya cukup membaca judulnya lalu berita itu sendiri bisa dilewatkan. Judulnya saja merupakan sebuah kalimat yang berbunyi: "Duh! Foto Istri Pejabat Layani Tamu Penting Saat Makan Malam Bikin Netizen Geram". Saya yakin siapapun yang membaca judul ini cukup berhenti hingga di situ dan bisa cari artikel lainnya. Saya juga tidak mengerti mengapa berita itu tiba-tiba muncul di layar saya. Sudah sangat lama saya tidak membaca situs-situs berita semacam ini sebab hanya membuang waktu dan kebanyakan unggahan-unggahannya hanya berita receh, tidak berisi dan tidak mendidik. Tapi dari judul ini ada yang ingin saya garis bawahi: Peran Perempuan! Nah ini baru penting dan layak dibahas.

Banyak pembahasan dilakukan mengenai gender roles dalam keluarga. Saya mengerti sekali mengapa peran gender sampai dibahas, walau sebetulnya peran dalam keluarga menurut saya pribadi tidak bisa dikotak-kotakan berdasarkan gender. Butuh waktu yang sangat lama untuk sampai ke titik ini. Untuk sampai "dibahas" saja sudah harus melalui waktu yang sangat lama dan panjang sebab sejak ribuan tahun yang lalu kondisinya memang begitu. Tradisi, budaya hingga agama memang membahas peran gender. Saya tidak mau membahas mengenai agama, sebab itu bukan ranah saya dan tidak mau terjebak dalam pendapat yang saya sendiri tidak terlalu paham. Tradisi dan budaya mungkin lebih aman untuk disinggung. Ada ketimpangan dan ada pihak yang kurang beruntung jika membahas keseimbangan dan keserasian.

Peran dalam keluarga sudah berubah dari waktu ke waktu. Saya sangat bersyukur sebab sejak saya mengerti tentang konsep keluarga, saya sama sekali tidak setuju bahwa ibu bertugas di dapur dan bapak cari uang. Saya menyaksikan sendiri banyak ibu-ibu yang berkerja siang malam mengurus keperluan keluarga sementara bapak-bapak merokok di warung atau ngobrol dengan rekan-rekannya. Ini pemandangan yang sangat umum di kampung. Untung saja ayah saya tidak begitu, bahkan ayah saya jago urusan dapur! Sejak kecil saya sering menyaksikan ayah saya mencuci beras memasak nasi, dan jauh lebih jago membuat nasi goreng dibandingkan ibu saya. Mereka role models yang menurut saya jauh lebih "maju" daripada pembagian peran keluarga tradisional. Sebagai seorang anak yang menyaksikan pembagian peran dalam keluarga saya punya ide sendiri dalam membangun keluarga.

Sebuah pertanyaan besar: Mengapa pekerjaan rumah tangga harus dibagi berdasarkan gender? Apa alasannya? Saya begitu heran ketika orang-orang mengatakan bahwa perempuan harus jago melakukan pekerjaan dapur. Coba lihat ke restoran, laki-laki mungkin malah lebih mendominasi pekerjaan dapur. Coba lihat di India, ojeg motor dan pelayanan semacam "gofood" banyak dilakukan oleh perempuan. Sopir truk barang, trailer, tronton bahkan sekarang mulai banyak dilakukan oleh perempuan. Pembagian pekerjaan berdasarkan gender sudah usang!

Dalam hal membangun keluarga maupun membesarkan anak, jaman sekarang 62% pasangan suami istri berpendapat bahwa kedua belah pihak sebaiknya berbagi sama rata dalam melakukan tugas rumah tangga. Anak-anak harus bisa melihat orang tua, ayah dan ibu sebagai role model yang bekerja sama secara seimbang membangun keluarga. Bagaimana bisa seimbang jika yang di rumah hanya ibu sementara ayah sibuk bekerja di luar rumah. Ini sudah usang!

Hari Sabtu kemarin saya melihat ratusan orang demo dan berharap suara mereka didengar oleh Supreme Court di Amrika soal hak mereka untuk menentukan "nasib" yang berkenaan dengan tubuh mereka. Mereka berusaha melawan kelompok konservatif yang banyak mengacu pada pakem tradisional, agama dan pemahaman konservatif lainnya. Saya tidak mau membahas ini, tapi saya melihat banyak gerakan para perempuan dalam memperjuangkan hak-hak mereka terlepas dari apakah saya setuju dengan suara-suara yang mereka serukan.

Saskia beberapa kali menulis soal kegerahan yang dia alami berkaitan dengan peran perempuan. Di masyarakat banyak terjadi benturan-benturan antara tradisi serta kebiasaan yang sudah berlangsung sekian lama dengan gerakan pembaharuan dan sejauh ini masih timpang jika melihat perlakuan dan kebijakan yang berkaitan dengan hak perempuan. Kondisi sudah semakin membaik walau masih terlihat keseimbangan belum benar-benar terjadi di segala lapisan. Contohnya artikel di atas, istri pejabat (mentri) yang masih harus bergelut dengan tradisi.

Peran gender dalam keluarga adalah sistem yang kompleks yang terus berevolusi dari waktu ke waktu. Perlu dicatat bahwa tradisi, budaya dan norma yang berlaku di masyarakat memiliki pengaruh yang sangat kuat dalam kaitannya dengan peran yang dijalankan meskipun setiap keluarga dapat memiliki interpretasi masing-masing dalam menentukan sistem yang mereka jalankan. Dalam hal ini kita tidak bisa judgmental karena yang baik di mata kita belum tentu cocok untuk dijalankan oleh orang lain.