Siang menuju sore, saat ini aku sedang duduk di salah satu kedai kopi seorang diri. Jarang sekali aku punya waktu sendiri di luar rumah. Bukan tanpa sebab aku sendirian saat ini. Hari ini jadwal yudisiumku. Hari yang kunantikan sejak pendaftaran waktu itu. Hari ini aku resmi menjadi pengangguran (lagi). Yang jadi soal jadwal yang tertera pada rundown meleset, acara yang seharusnya selesai pukul 16.00 ternyata selesai 2 jam lebih awal.
Masalahnya kelas kami ada rencana makan bersama pukul 17.00 jadi mau tidak mau menimbang kemacetan Bandung yang masih diguyur hujan rasanya tak mungkin aku bolak balik 21km untuk killing time. Bersantai sejenak rasanya pilihan tepat. Aku dapat mengisi baterai sosialku yang sudah menipis yang sudah kugunakan sejak pagi tadi.
Hari ini rasanya aku terlalu lelah, perasaan bahagia dan sedih seperti kutub yang berlawanan arah sedang memaksimalkan energi terhadap polarnya masing-masing. Pagi tadi rasa sedih menghampiriku, berita kematian salah satu rekan orang tua yang kukenal baik meninggalkan kami, berpulang meninggalkan kami yang masih diberi waktu di dunia. Siangnya rasa bahagia memelukku, rasa bangga pada diri sendiri serta semua beban yang sudah diemban selama masa perkuliahan lepas saat ini. Sore ini akan kucoba melepas satu persatu lonjakan emosi yang sedang kurasakan untuk melepas lelah.
Dimulai dari saat bangun tidur, ramainya notifikasi WA tidak wajar. Tanpa kecurigaan apapun ku baca dari bawah. Berita duka datang dari sahabat kami. Kata orang, orang-orang baik selalu mendahului kami yang masih mencari arti. Kata orang, orang-orang baik berada di tempat singgah hanya sesaat mereka akan bergegas ke tempat yang seharusnya tanpa berlama-lama. Kata orang, orang-orang baik mengajarkan kami yang ditinggalkan untuk bersyukur lebih banyak. Pagi tadi langit kelabu dan hujan turun seakan ikut berduka atas kepergian sahabat kami.
Sebelum datang ke acara yudisium aku singgah ke rumah duka, suasana sepi rupanya pihak keluarga masih berada di RS, almarhum dimandikan di sana agar pulang dengan keadaan terbaiknya. Aku dan orang tua murid lain menunggu seraya memanjatkan doa. Waktuku menipis aku harus segera pergi ke tempat yudisium. Berpamitan dengan keluarga, rupanya saat menjenguk di RS kemarin menjadi momen terakhir aku bertemu beliau sambil melambaikan tangan. Selamat jalan sahabat sekarang telah hilang rasa sakitmu beristirahatlah dengan tenang.
Sesampainya aku di tempat, teman-teman seperjuangan sudah menunggu dengan senyuman. Saling memberikan selamat atas pencapaian kami, berfoto bersama, berbincang dan tertawa. Begitu riang mereka, perbedaan usia kami tak jadi soal. Kami akrab seperti kawan lama yang jarang bertemu. Proses yudisium berjalan lancar, sangking lancarnya acara selesai 2 jam lebih awal.
Beberapa dari mereka pulang ke hotel tempat menginap, beberapa dari mereka melanjutkan obrolan yang belum tuntas, aku memilih berjeda di sini.
Dari 21 hari, mulai dari awal tahun 2025 begitu banyak pilihan hari yang dapat dipilih menjadi hari yang berkesan. Namun bukan tempatku mengatur apa yang dapat terjadi setiap hari. Hari-hari yang diisi rutinitas biasa, hari-hari yang diisi oleh emosi netral. Hari yang diisi kejadian besar dengan emosi yang berat. Pikirku 3 jam waktu “kosong” ini bukan semata-mata tanpa sebab. Ini merupakan jalan semesta memberikan waktu untuk aku berjeda, mengurai semua kejadian hari ini. Mengosongkan wadah yang penuh dan tidak beraturan.