"Kok, bisa sih orang-orang keren!" di bawah langit senja yang merayap dan langit mengubur sisa cahayanya, sebuah kalimat bersinar begitu saja. Tiba-tiba. Menyilaukan, mengetuk kesadaran secara tergesa-gesa. Alih-alih masuk dengan perlahan, selembut asam dan pahitnya kopi yang diseduh manual dengan alat v60 buatan Jepang. Kalimat ini datang bukan sebagai tanya, maka kuletakkan tanda seru di belakangnya. Coba kita baca sekali lagi! Tidakkah kau temukan seruan di sana, daripada sebuah tanya?
Jadi begini, kalimat "perintah" itu datang (kusebut "perintah" karena diakhiri tanda seru), setelah kami bergantian membaca buku terbaru Post Editions. Menyandang judul yang terasa utopis di kala carut marut pengelolaan negara tengah membobardir pikiran, hati, dan perut "anak-anak" dan kita. MEMASAK HARAPAN. Bahkan setelah kutulis judulnya, bayangan langsung lahir dari resah yang menjadi dinding penahan bagi datangnya cahaya. Buku ini kembali mengangkat cerita-cerita usang, tak tersentuh, dan yang gersang dari lautan berita di media arus utama. Ialah sebuah majalah terbitan Gerwani di akhir 1950-an, Api Kartini. Serupa namanya, berisi cerita-cerita tentang perempuan, perlawanan, dan bagaimana mereka (nenek-nenek revolusioner kita) meletakkan bentuk-bentuk perlawanan ke dalam wajan intelektualitas, meramu resep topik-topik keseharian (pemikiran feminis, dan dekolonial, cara merawat diri dan orang lain, dan bangsa, karya perempuan di berbagai bidang, cara melihat keseharian secara politis khas perempuan di dapur), dan memanaskannya dengan rasa cinta terhadap bangsa dan kehidupan.
Oleh karenanya, kami dengan segera sepakat, bahwa, "Kok, bisa sih orang-orang keren!" ialah mereka. Mereka, nenek-nenek revolusioner kita. Adalah juga mereka, yang meramu ulang masakan (buku) ini dan menyajikannya ke meja-meja makan yang mestinya "lebih merdeka". Dari sini, lahirlah pertanyaan. Pertanyaan. Sebuah pertanyaan. "Jadi, mereka keren tuh, karena keleluasaan atau justru karena tekanan?"