AES 2014 Kindness To Show Humanity
joefelus
Saturday October 12 2024, 8:19 AM
AES 2014 Kindness To Show Humanity

Saya banyak waktu menganggur di rumah sambil mengawasi proyek perbaikan, jadi saya banyak sekali bermain dengan HP. Ini merupakan suatu kegiatan yang dulu jarang saya lakukan karena tentu saja dahulu saya mempiliki banyak aktivitas yang produktif. Berbeda dengan sekarang, secara fisik saya banyak diam. Bahkan beberapa waktu yang lalu ketika berjumpa dengan kak Andy, saya mengatakan bahwa di Indonesia sulit sekali mencapai angka 10 ribu langkah. Seingat saya semenjak saya tinggal di Bandung, yang berarti hampir 2 bulan, hanya 4 hari saya dapat mencapai target 10 ribu langkah. Dahulu saya bisa menyelesaikan 10 ribu hanya dalam waktu setengah hari.

Tapi bukan itu yang ingin saya obrolkan. Yang saya tertarik untuk membahas adalah kondisi masyarakat di tanah air ini. Memang yang saya saksikan di HP hanya dari berbagai unggahan-unggahan anak muda yang istilah disini adalah Content Creator. Keren banget ya, terus terang istilah inipun baru saya pahami akhir-akhir ini, sebelumnya saya lebih mengenal youtuber, tiktoker, dan sebagainya yang nota bene ya sama saja, mereka menyajikan berbagai content dan kreativitas yang luar biasa luasnya. Saya menyaksikan bagaimana mereka menyajikan ulasan tentang tempat makan (ini tentu saja selalu menarik bagi saya), tempat-tempat wisata, relasi para creators dengan pasangannya, hal-hal yang jahil dan iseng seperti pranks, dan sebagainya.

Yang akhir-akhir ini menarik perhatian saya adalah di tanah air ternyata banyak sekali anak muda yang peduli pada masyarakat kelas bawah. Saya tidak peduli apakah mereka melakukan ini demi contents yang mereka unggah, atau untuk kepopuleran, untuk amal, atau bahkan untuk mata pencaharian mereka. Itu adalah urusan mereka. Yang ingin saya ketengahkan justru adalah kepedulian mereka akan kehidupan terbatas masyarakat kecil.

Sebelum panjang lebar dan membuat bingung yang membaca, saya ingin sampaikan bahwa yang ingin saya kupas hari ini adalah bagaimana para content creators ini berusaha membantu masyarakat kecil dengan memberikan semacam "kejutan" yang tentu saja sangat bermanfaat bagi para pekerja kalangan bawah ini.

Sebagai contoh, ada seorang anak muda yang keliling di berbagai kota, melihat padagang kaki lima yang sedang berjuang menjual dagangannya. Biasanya dia memilih yang sepi pengunjung lalu dia memborong semua dagangannya lalu memanggil orang-orang yang lewat untuk mampir dan makan bersama tanpa dipungut bayaran. Kegiatan semacam ini sangat membantu orang-orang kecil dan bagi saya, ini merupakan bentuk kepedulian anak muda akan kondisi masyarakat kita yang menurut saya masih sedang "sakit".

Saya juga mengenal beberapa teman-teman yang melakukan kegiatan amal semacam ini. Beberapa kali sebulan mereka berlkeliling memberikan makanan gratis bagi para pemulung dan orang-orang yang membutuhkan. Ada juga yang menjual makanan sangat murah sehingga sebenarnya "hampir" gratis. Ini juga merupakan kegiatan amal dalam upaya membantu mereka yang membutuhkan.

Saya juga tertarik akan sekelompok anak muda yang membantu rakyat jelata membeli sembako. Misalnya penyapu jalanan atau pengemudi ojol yang sepi pelanggan. Anak muda ini mentraktir mereka ke salah satu gerai yang menjual kebutuhan sehari-hari, memberi waktu pada penyapu jalan atau pengemudi ojol selama 2 menit untuk membeli apa saja yang mereka butuhkan sebanyak-banyaknya. Biasanya mereka memilih membeli beras, gula, minyak, mie instant, dan kebutuhan sehari-hari lainnya. 2 menit itu waktu yang lumayan lama, ada yang bisa mengumpulkan diatas sepuluh keranjang sembako! Ini akan sangat membantu mereka karena tidak perlu mengeluarkan uang untuk itu sebab content creator yang akan menanggung biayanya.

Dari kegiatan iseng menonton unggahan-unggahan ini, saya lebih mengerti bagaimana rakyat kelas bawah berjuang untuk menopang keluarga mereka. Tadinya saya pikir mereka akan mudah mendapat penghasilan karena saya lihat ada jutaan pengemudi ojol di jalanan. Ini pekerjaan yang sangat diminati, jadi saya pikir tentunya merupakan karir yang baik. Tapi di berbagai episode konten yang para content creators itu unggah, ternyata banyak sekali diantara mereka yang harus membanting tulang habis-habisan sepanjang hari bahkan ada yang hingga tengah malam hanya untuk memperoleh hasil yang sangat minim.

"Sudah terima berapa order hari ini, pak?" Tanya seorang wanita muda.

"Baru 3, kak." Jawab pengendara ojol

"Sudah dapat berapa?" Tanya wanita itu lagi

"Yang pertama 8 ribu, yang kedua 12 ribu dan yang ketiga 10 ribu." Kata pengendara ojol lagi.

Hari itu sudah tengah hari, pengendara ojol itu sudah mulai bekerja sejak subuh dan hanya menghasilkan 30 ribu rupiah. Dari percakapan itu kebanyakan dari mereka hanya menghasilkan 100 ribu sehari bahkan ada yang di bawah itu sesudah dipotong biaya untuk bensin dan makan. Pertanyaan saya, bagaimana mereka dapat hidup?

Ada satu lagi yang menarik perhatian saya. Ini tidak terjadi di Indonesia. Di salah satu konten yang saya tonton ada seorang ibu-ibu yang berdiri disamping kendaraan tuanya, membuka dompet dan berusaha mengeluarkan uang kecil, koin dan beberapa lembar uang untuk membeli bensin. Sangat jelas terlihat bahwa ibu itu sedang kesulitan dan uangnya tidak cukup untuk membeli bahan bakar. Terlihat dari usaha dia menemukan koin dari dompetnya. Di sisi yang lain ada seorang wanita muda yang sedang mengisi bahan bakar dan memperhatikan ibu tua itu. Lalu diam-diam dia mengeluarkan kartu kreditnya dan mengambil alat pengisi bahan bakar lalu dimasukkan ke tangki kendaraan ibu tua itu lalu dia segera berlalu. Sang ibu tua terkejut ketika membalikkan badan dan melihat kendaraannya sedang diisi bahan bakar oleh orang yang tidak dia kenal dan sudah pergi entah kemana. Ibu itu menangis.

Fragmen-fragmen pendek itu selalu membuat saya terharu. Kepedulian pada masyarakat tidak mampu itu sangat menyentuh hati. Ini juga sekaligus membuat saya sangat bersedih bahwa potret kondisi masyarakat saat ini begitu mengenaskan. Tidak heran di jalanan banyak sekali orang yang beringas, tidak sabaran dan sikut menyikut karena mungkin mereka semua tertekan akan tuntutan kehidupan.

Jestur kebaikan yang disalurkan oleh orang-orang yang lebih beruntung menunjukkan nilai kemanusian yang mulia. Oleh sebab itu judul obrolan saya hari ini adalah kindness to show humanity, kebaikan yang menunjukkan nilai kemanusiaan.

Saya tidak peduli akan motivasi para content creators itu. Apapun intensi mereka, itu adalah urusan mereka sendiri. Yang saya perhatikan adalah betapa masyarakat kita banyak yang membutuhkan uluran tangan mereka yang mampu. Sedih sekali ketika menyaksikan orang-orang yang berkuasa diciduk oleh KPK dengan uang berkoper-koper sementara masyarakat jelata begitu menderita. Saya sangat setuju jika mereka ini, para orang rakus yang tidak memiliki hati nurani dan hanya peduli pada diri sendiri untuk dihancurkan dan dimusnahkan seperti ada di beberapa negara tetangga kita. Di sisi lain juga kita diajarkan untuk selalu bersyukur akan segala anugerah yang kita miliki saat ini dan juga didorong jika kita mampu untuk mengulurkan tangan menjamah mereka yang membutuhkan. Tidak perlu menjadi filantropis, kalau bisa itu akan sangat luar biasa, namun jika kita melihat sesuatu dan bisa sedikit berbagi, kenapa tidak? itu adalah bagian dari kemanusiaan kita.

Foto credit: armadatownsquare.com