Perjalanan pergi dan pulang bersama anakku adalah satu hal yang membuatku bahagia, seberapa pun jaraknya setidaknya membuat kami bisa berbincang (cukup) banyak. Namun, berbeda dengan sebelumnya, kali ini aku lebih berhati-hati saat bertanya pengalaman apa yang ia dapat di hari itu? Aku merasa memang sudah saatnya untuk mengatur kadar ke-kepo-an biar gak terasa mengganggu.
Mengawali minggu ini sewaktu perjalanan pulang dari rumah belajar aku menyetel lagu dari album barunya Dere, entah sebenarnya ia peduli atau tidak dengan liriknya tapi sepertinya cukup berhasil membuat ia bertanya tentang bagaimana caraku bisa menikmati mengajar, sebab ia tahu betul kalau ibunya punya sisi introvert yang lebih kuat. Tanya "Tapi kok bisa?" Sebetulnya juga pernah menjadi tanyaku dan rasanya terlalu gampang kalau dijawab terpaksa. Maka aku tidak memilih jawaban itu, melainkan membawanya untuk menemukan sendiri keyakinan kalau semua pasti ada jalannya. Apapun itu. Semacam rumus pasti untuk mampu melewati segala cerita yang digulirkan hidup; yakni menjalaninya dengan penuh yakin.
Seperti kisah rubik yang diangkat Dere, perputaran dalam hidup itu sebetulnya menyenangkan, banyak gesekan namun memberi warna. Mungkin awalnya membingungkan, tapi pasti akan muncul pemahaman dari hikmah yang selalu hadir dalam setiap peristiwa.
Pernah suatu ketika anakku bertanya, "Bagaimana bisa sesuatu yang gak enak sekarang ini jadi hal manis dikemudian hari?" Dengan melaluinya jawabku saat itu. Ekspresi wajahnya menyiratkan rasa gak percaya? Masa iya? Atau mana mungkin? Aku menenangkannya dengan isyarat mari kita bersama-sama mencari hikmahnya dan jangan heran kalau baru bertemu maknanya setelah jauh berlalu. Bahkan mungkin bisa saja hikmah yang kudapat akan berbeda dari hikmah yang ia rasakan.
Begitulah rubik yang dikisahkan seperti liku hidup. Meski berkali-kali mengulang langkah yang sama, seringkali kita menyelesaikannya dengan tahapan berbeda. Ingin rasanya aku menjelaskan untuk bisa terus melangkah dibutuhkan sebuah tujuan. Dan dengan tujuan maka ia akan punya pagar yang membuat langkahnya lebih terarah.
Lalu tetiba ia teringat tentang puzzle, bagaimana keping demi keping ketika berhasil tersusun barulah menjadi sesuatu yang dapat dinikmati. ITU! Begitulah sebuah hikmah yang akhirnya mengutuhkan pemahaman kita akan jalan hidup yang harus dihadapi, dibersamai dan dijalani. Alhamdulillah, tak hentinya aku mensyukuri langkah-langkah kecil yang sedang ia coba susun di usia mudanya kini.
Dengan mengutip nasihat 'Uncle Ben'; "With great power come great responsibility." Kuakhiri tawa kami dengan meyakinkan kalau aku percaya akan kemampuan yang dimilikinya. Setiap orang pasti berubah, dan tentunya perubahan itu selalu diharapkan untuk menuju pada sebuah kebaikan, "Mari mulai dengan berani mengambil peran, Nak sebagai salah satu cara untuk melatih diri lebih bertanggungjawab. Dan semoga kami adalah insan yang Allah pantaskan untuk membimbingmu menjadi manusia yang bertanggungjawab."
Abdullah ibn Umar, may Allah be pleased with them both, reported: The Messenger of Allah ﷺ said, “Every one of you is a shepherd and is responsible for his flock. The leader of people is a guardian and is responsible for his subjects. A man is the guardian of his family and he is responsible for them. A woman is the guardian of her husband’s home and his children and she is responsible for them. The servant of a man is a guardian of the property of his master and he is responsible for it. Surely, every one of you is a shepherd and is responsible for his flock.” [Sahih Bukhari 6719, Sahih Muslim 1829]