Mata saya sudah mulai meredup dan tidak henti-hentinya menguap. Hari ini cukup melelahkan walau terus terang lumayan menyenangkan karena seharian penuh kesibukan. Pagi hari saya mengantar Nina ke rumah sakit untuk post-op appoinment dengan dokter bedah. Ternyatadi sana hanya dilayani oleh seorang perawat, hanya sekitar 15 menit saja karena hari ini lepas jahitan.
Namanya kepas jahitan (kalau di Indonesia) tapi di sini entah apa namanya sebab luka bekas operasi nina yang ternyata setelah saya ukur sekitar 20 cm itu, tidak dijahit, tapi menggunakan stapler. Jadi luka sayatan itu disatukan kembali dengan stapler. Nah hari ini stapler yang entah jumlahnya berapa, mungkin sekitar 50 buah itu dilepas satu demi satu. Lutut Nina masih terlihat bengkak jadi tentu saja masih sangat sensitif, tentunya sama sekali tidak nyaman. Saya hanya bisa menyaksikan dan merasa kasihan melihat Nina mengeluh kesakitan sesekali. Untungnya beberapa menit kemudian selesai.
Dari rumah sakit saya mengajak Nina makan siang. Ada restoran Chinese food yang cepat saji, jadi kami kesana dan membeli 3 doos makan siang untuk kami bertiga. Tiba di rumah Kano sudah mulai bersiap-siap berangkat kerja yang beberapa menit kemudian saya antar. Seperti biasa Kano makan didalam kendaraan. Ini sudah jadi kebiasaan dia sejak masih kecil. Dulu ketika dia masih sekolah di Smipa juga begitu, sambil berangkat ke sekolah dia makan di mobil. Ternyata kebiasaan itu masih terus berlangsung hingga sekarang.
Saya berjanji akan menyiapkan sate untuk pesta sahabat saya akhir pekan ini. Jadi saya belanja beberapa kebutuhan seperti timun, untuk acar dan sebagainya. Lalu sorenya saya mulai memotongi daging lalu saya rendam dengan bumbu. Saya hitung kemungkinan akan bisa membuat hampir 300 tusukl. Besok daging itu baru akan saya tusuk-tusuk dan akan saya antarkan ke rumah sahabat saya itu karena dia memiliki lebih dari 1 kukas. Saya tidak punay tempat. Baru hari Sabtu saya akan bakar di rumahnya.
Selama musim panas di sini, banyak sekali buah peach. Entah mengapa saya tidak pernah tertarik utuk makan atau membuatny. Baru tahun ini saya mencoba membuat. Sagat mudah membuatnya, persiapan yang paling lama justru mengupas buah itu lalu memotong-motongnya. Sisanya sangat sederhana. 2 hari yang lalu untuk pertama kalinya saya membiat, ternyata laris manis! Kemarin malam semua sudah ludes bahkan Kano dan Nina minta saya membuat lagi. Nah siang ini juga saya membuat lagi.
Buah peach saya kupas, lalu saya potong-potong. Kemudian dimasak dengan brown sugar dan sedikit garam hinga gula meleleh dan buah peach menjadi lebih lembut dan tersalut gula. Kemudian saya diamkan. pada saat itu saya panaskan oven dan pinggan untuk memanggang saya beri mentega dan saya biarkan meleleh di dalam oven sementara saya membuat adonan.
Adonannya juga sangat sederhana, hanya tepung terigu, baking powder, garam dan gula pasir. Saya aduk sampai rata lalu saya masukan susu sehingag menjadi adonan yang kental lalu saya tuangkan ke dalam pinggan yang sudah berisi mentega cair. Sesudah itu buah peach yang tadi saya masak saya tuangkan ke dalam pinggan dan langsung saya panggang selama 30 menit. Selesai! Tinggal disantap hangat-hangat dengan es krim vanilla. Rasanya sangat luar biasa.
"I can use some peach cobbler right now." Kata Kano ketika dia masuk mobil seusai kerja.
"Sure. I just made some more." Kata saya tersenyum.
"Really? Oh Thank you!" Kata Kano semangat.
Kano biasa mandi berlama-lama hingga seringkali ketika selesai kamar mandi seperti steam room, alias penuh dengan uap. Tapi malam ini tidak. Mungkin hanya sekitar 10 menit, dia sudah berada di bawah lagi langsung ke dapur mengambil mangkok, memotong peach cobbler lalu dimasukkan ke microwave selama sekitar 30 detik. Dia mengambil es krim dari freezer lalu duduk di sebelah saya sambil menikmati makanan favorit barunya ini. Saya hanya tersenyum-senyum. Ya, apalagi yang lebih menyenangkan daripada melihat orang lain menikmati hasil jerih payah saya dengan begitu nikmatnya? Rasa capek hari ini terbayar sudah! Saya bahagia!
Foto credit: ohsweetbasil.com