AES 1504 A Lesson Learned
joefelus
Thursday October 30 2025, 9:17 AM
AES 1504 A Lesson Learned

Semalam saya sedikit menyinggung soal kebersamaan dan menulis dalam obrolan saya sesudah pulang dari kegiatan kumpul bareng seputar AES. Mengenal teman-teman secara langsung tidak kalah pentingnya walau kita semua akui bahwa kita jauh lebih saling mengenal lewat tulisan sebab ketika ngobrol secara langsung banyak boundaries yang kadang sulit disebrangi. Itu hal yang normal. Kemarin saya juga menyinggung sedikit soal "kesendirian" ketika menulis, saya malah mengutip ucapan Stephen King: "writing is a lonely job". Kami juga berbagi pengalaman hidup, keinginan mencapai sesuatu dalam hidup dan lain-lain. Lucunya pagi ini ketika saya seperti biasa memulai hari baru dengan sedikit membaca atau merenung, saya menemukan 2 unggahan. Dua-duanya disampaikan pada acara wisuda di dua sekolah yang berbeda. Satu disampaikan kalau tidak salah seorang komedian tentang 9 pelajaran hidup, dan satu lagi disampaikan oleh seorang lulusan terbaik tentang mengejar prestasi tanpa mengorbankan hal-hal lain.

Orang yang terakhir yang menyampaikan pidato atau oratio-nya adalah lulusan terbaik. Dia bercerita selama 4 tahun dia terus mengejar prestasi hingga akhirnya dia capai. Dia begitu senang dan bangga selama 15 detik, sesudah itu kosong. "Now what?" Katanya.

Pembicara yang pertama pada pelajaran hidup no.1 dari yang dia sampaikan mengatakan bahwa kita tidak perlu mempunyai mimpi. Jika memang punya, kejarlah, tapi semuanya itu berbicara soal waktu. Jika mimpi itu sangat besar, akan membutuhkan waktu yang panjang bahkan mungkin seumur hidup untuk mencapainya dan pada saat mencapainya, dan memandangi jurang kekosongan yang sangat dalam sesudah prestasi itu dicapai, kita akan sudah mendekati ajal, jadi tidak masalah.

2 hal yang saya baca itu memang agak nyeleneh, apalagi pembicara yang komedian itu. Lulusan terbaik mengungkapkan penyesalannya sebab telah mengorbankan banyak hal; seperti misalnya waktu, kesenangan serta relasi hanya untuk merasa bangga selama 15 detik, lalu detik ke-16 dia merasakan kekosongan dan mulai berpikir akan apa yang selanjutnya harus dilakukan.

Saya sangat mengerti gambaran yang dia paparkan dan sungguh mengalami walau tidak sekosong yang dia jabarkan. Ketika selesai sidang sarjana sambil menggemgam setumpuk skripsi saya duduk di angkot, mengenakan jas yang masih harum dan baru karena itu pertama kalinya saya kenakan. Merasa terasing dari sekitar karena saya mengenakan pakaian yang sangat berbeda dengan ibu-ibu berkerudung yang akan ke pasar, bapak-bapak yang membawa sayur segar dari Lembang untuk dijual, sementara saya bengong tidak tahu harus bagaimana karena tiba-tiba kehilangan sesuatu. Selama berbulan-bulan saya sibuk menulis, kadang malah tidak tidur karena saya nebeng di sebuah kantor yang memiliki komputer. Tiba-tiba semuanya usai dan saya tidak punya rencana ke depan. Emptiness! Untungnya selama kuliah saya mahasiswa badung yang hobby menginap di kampus dan kadang tidak pulang selama berhari-hari. Berteman seperti tidak ada hari esok, mendengarkan jazz bersama teman-teman seolah-olah penggemar nomor 1 kelompok band Level 42 atau Dave Coz, padahal hanya duduk mendengarkan perangkat pemutar kaset dengan amplifier sederhana. Tidak ada penyesalan selama kuliah, agak menyesal karena hari itu semua berakhir.

Pembicara yang ke-2 saya juga mengerti betul. Saya tidak pernah memiliki mimpi besar! Saya tidak pernah memetakan masa depan. Saya orang yang realistis. Ketika SMA saya tidak melihat kemungkinan untuk sekolah tinggi, saya sadar orang tua tidak mampu, tapi satu hal yang saya pegang teguh: I have to be better than my parents! Itu yang saya perjuangkan. Caranya? Saat itu tidak tahu! Kemana? Juga tidak tahu. Itu membuat saya menjadi seseorang yang micro-ambitious. Itu istilah yang pembicara ke-2 gunakan. Lah gimana mau ambisius wong jalanan didepan saya saja buram, kok!

Tundukkan kepala dan kerjakan dengan bangga apa yang ada di hadapanmu. Kita tidak pernah tahu apa yang akan muncul di depan, tapi hati-hati sesuatu yang sangat berharga untuk dikejar mungkin akan muncul tiba-tiba, oleh sebab itu jangan pernah bermimpi tinggi-tinggi karena jika fokus kita terlalu jauh, kita tidak akan bisa melihat sesuatu yang berkilau yang muncul di depan kita.

Itu yang dia katakan. Lagi-lagi saya bilang, "Loh itu gua banget!" Banyangkan saja sebuah perjalanan jauh. Kita berjalan perlahan-lahan, menikmati pemandangan sekitar. Ada padang yang indah, kita berhenti. Ada sesuatu yang menarik dan belum pernah lihat sebelumnya, kita datangi. Ibaratnya saya tidak pernah ingin mendaki gunung tertinggi dan fokus ke sana. Saya mungkin mendaki, tapi lebih banyak menikmati keadaan yang ditawarkan setiap saat. Syukur kalau sampai ke puncak, kalaupun tidak, perjalanan saya tertap sangat menyenangkan dan worth it. Saya tidak pernah ingin kaya raya dan punya istana, malah inginnya tinggal di desa kok hahaha. Perjalanan tidak selalu mudah, seringkali tersesat dan jatuh kesakitan penuh air mata, tapi saya selalu berkata, dan untuk kesekian kalinya berkata, I don't want to be easy, but I want to be worth it!

Ada yang pernah berkata, A lesson learned should be a lesson shared. Nah mungkin ini salah satu kegunaan AES yaitu berbagi. Eniwei, kalau kata saya mah, mungkin kita sebaiknya dalam hidup teh, focus on what matters. Itu aja sih. Ada yang berpendapat lain?

Foto credit: havingtime.com

murdeani
@murdeani   7 months ago
Kebahagiaan yang kita gantung di masa depan akan cepat pudar, karena kita sebenarnya menunda hidup. Padahal satu2nya waktu yg bisa kita hidupi sepenuhnya adalah saat ini. Selaras. Makasih refleksinya pak Jo..
You May Also Like