Saya tidak mengalami yang persis seperti ini, walau sedikit-sedikit saya bisa membayangkan bagaimana rasanya sebab saya pernah juga tinggal di asrama bersama orang-orang yang tidak pernah saya kenal sebelumnya untuk memulai masa perkuliahan dan jauh dari keluarga.
Kenapa saya mengangkat topik ini? hahaha.. Karena 3 hari terakhir ini adalah moving days di kampus tempat saya bekerja. Ribuan mahasiswa baru masuk asrama. Tempat parkir penuh dengan kendaraan yang bongkar muatan membawa barang-barang pribadi para mahasiswa dibantu oleh sanak keluarganya. Ramai, penuh sesak. Begitu pemandangan yang biasa dijumpai di setiap awal tahun akademik. Tahun ini lebih ramai lagi karena rekor jumlah mahasiswa baru yang masuk asrama terpecahkan. Entah jumlah pastinya berapa, yang saya tahu banyak mahasiswa untuk sementara dimasukkan ke hotel karena banyak kamar di asrama yang belum siap.
Yang menarik saya perhatikan di beberapa hari terakhir ini adalah barang-barang "aneh" milik pribadi yang ikut masuk asrama. Ada mahasiswi yang membawa boneka raksasa yang sudah mulai dekil karena sudah lama dimiliki. Ada yang membawa bantal yang warnanya sudah kuning, dan sebagainya. Tadinya saya pikir, kok mereka tidak malu ya membawa barang-barang yang sudah usang ke tempat yang tidak dikenal. Di asrama mereka nanti akan tinggal sekamar dengan mahasiswa/i lain yang kebanyakan belum saling kenal. Tentunya kalau saya, akan memilih membawa barang yang sedap dipandang. Mereka sepertinya tidak peduli dan ketika saya baca-baca katanya benda-benda seperti itu dapat mengurangi efek dari "perpisahan" karena kebanyakan para mahasiswa ini baru pertama kali hidup jauh dari keluarga. Dengan adanya benda-benda yang "biasa" menemani mereka, maka rasa separation anxiety mereka jadi berkurang.
Saya ingat minggu-minggu pertama tinggal jauh dari keluarga begitu lulus SMA lalu hidup dengan orang-orang "asing" yang belum saya kenal tidak mudah. Baru berbulan-bulan kemudian saya mulai terbiasa walau rasa sedih, rasa kesepian bukan hal yang mudah dihadapi dan butuh waktu untuk bisa mengatasinya. Memulai kehidupan yang baru, memulai petualangan baru, membiasakan diri hidup dengan orang-orang baru tidak mudah. Belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan, dengan kelompok orang-orang yang tinggal satu asrama juga tidak mudah. Segala hal yang baru itu secara sekaligus terjadi pada saat bersamaan, jadi jelas sekali ini menjadi hal yang begitu overwhelming.
Untuk mempermudah masa transisi ini, di kampus tempat saya bekerja dibuat semacam sistem dan program yang menurut saya sangat baik. Di setiap sayap asrama ada RA, resident advisor yang tugasnya membantu para mahasiswa baru itu untuk menyesuaikan diri. RA ini adalah mahasiswa angkatan-angkatan terdahulu yang juga pernah mengecap kehidupan di asrama. Hari-hari pertama diisi dengan program orientasi. Kelompok mahasiswa 1 lorong berkumpul bersama, saling mengenal, melakukan kegiatan dinamika kelompok dan sebagainya. Hari ini saya melihat mereka berkumpul secara berkelompok di rumput melakukan kegiatan-kegiatan itu, lalu malam nanti ada semacam carnaval dengan berbagai permainan, musik dan sebagainya di lapangan kampus yang sangat luas. Kegiatan seperti ini terlihat di mana-mana di seluruh kampus karena asrama tersebar di berbagai pelosok kampus. Ada setidak-tidaknya selusin lokasi, belum termasuk 6 lokasi apartemen. Jadi memang bisa menampung ribuan mahasiswa. Setahu saya minimal 8000 mahasiswa tinggal di asrama dan apartemen. Jadi memang banyak sekali.