"Tua itu ketika anak-anak sudah tidak membutuhkan kita lagi." Kata saya
"Tua itu kalau jalan aja badan udah pada sakit." Kata salah seorang ibu yang sama-sama olahraga pagi.
"Tua itu kalau sudah ga boleh makan ini itu." Kata Bu Kristin sambil terus jalan kaki melewati kami yang sudah selesai dan sedang beristirahat.
Tubuh saya penuh keringat. Walaupun jika saya perhatikan hanya sekitar 6000-an langkah, karena incline yang lumayan tinggi, saya yang dahulu biasa melakukan high Intensity Interval training sekarang menggeh-menggeh juga. Yang sangat saya sukai dalam berolahraga kali ini adalah kelembaban di Bandung sehingga tubuh cepat berkeringat. Keringat bagi saya semacam rewards ketika berolahraga. Merasa ada hasilnya, begitu. Dulu di gym baru terasa keringat mengucur sesudah tubuh disiksa habis-habisan. Itu karena udara sangat kering bahkan tidak jarang tangan saya tersetrum ketika baru mulai berolahraga dan menggunakan mesin. Itu menunjukkan betapa keringnya udara di sana.
hari ini sepertinya obrolan bersama ibu-ibu berkisar tentang "merasa" dan menjadi tua.
Tiba-tiba salah seorang ibu berkata," Tua itu ketika teman-teman kita satu persatu mulai pergi ke alam baka."
Saya langsung tercenung. Yang tadinya merupakan gurauan, bagi saya menjadi sangat serius sebab pada saat ini saya kehilangan seorang teman yang sudah saya kenal sejak jaman SD, bahkan pada saat ini sahabat ini masih berada di rumah duka, menunggu saat-saat pemakaman.
Rasa kehilangan adalah sesuatu yang berat untuk dilalui terutama jika berkaitan dengan keluarga atau kenalan yang sangat dekat. Sahabat saya ini sudah saya kenal puluhan tahun dan menghabiskan masa kecil bersama, hingga ketika dewasa kami masih sering berkumpul dan bertutur sapa. Di kampung, lingkungan masyarakat kami tidak besar sehingga saling mengenal satu sama lain, pergi ke sekolah yang sama, bahkan bermain bersama. Satu kelas kami berjumlah tidak lebih dari 50 orang anak, dan hingga saat ini jika benar-benar dihitung, kami sudah kehilangan seperempatnya. Bayangkan, seperempat dari 50 (angka tepatnya kurang dari 50, saya lupa) itu buat kami yang merupakan kelompok kecil, sangat banyak.
Beberapa hari terakhir ini, kelompok kecil kami ini terus menerus saling bertutur sapa, saling mendoakan kesehatan masing-masing, juga mengenang masa masa kecil ketika misalnya kami berbondong-bongong ke sungai sepulang sekolah dan berenang. Masa kecil di kampung, sungai adalah semacam theme park, bisa belajar berenang dan bermain hahaha. Batang pohon pisang hingga roda mobil bekas bisa menjadi peralatan main di sungai yang seru. Seringkali kami bermain di sungai tanpa ijin orang tua, jadi ada salah satu pengalaman seru kami ketika ketahuan orang tua, dan ramai-ramai dihukum. Berenang di sungai itu berbahaya, karena sungai di kampung kami dalam dan besar, tanpa kehadiran orang dewasa ketika berenang merupakan sesuatu yang berbahaya dan dilarang, tidak jarang ada orang tenggelam. Ketika kami dewasa dan mengenang itu, apalagi sesudah betul-betul merasakan menjadi orang tua, kami sadar bahwa keseruan masa kecil itu bukan hal yang selalu mudah bagi orang tua kami semua.
Kehilangan salah satu teman sepermainan bukan hal yang kecil dan biasa-biasa saja. Dampak bagi kelompok kami sangat terasa apalagi karena kelompok kami ini terhitung sangat kecil. Jadi benar seperti yang dikatakan ibu-ibu tadi, kami jadi merasa tua dan merasa diingatkan untuk dapat hidup sehat dan mulai menjaga diri dengan lebih baik.
Foto kredit: myworldaba.com