Kemarin anak-anak kelas 5 diajak Kakak kelasnya outing ke Pasar Sarijadi. Misinya: berbelanja bahan makanan yang akan mereka masak secara berkelompok. tidak lebih dari 100 ribu rupiah. Sebelumnya mereka diberi tugas individual mencari menu masakan yang bisa mereka buat sendiri, menggunakan bahan-bahan yang bisa dibeli di pasar dengan uang 100 ribu untuk empat orang. Disertai catatan: makanan sehat yang memenuhi unsur kecukupan gizi. 😊
Ah, jadi teringat sekarang aku jarang sekali menginjakkan kaki di pasar tradisional. Untuk kebutuhan harian, kami lebih banyak berbelanja di pasar swalayan dan sesekali melalui marketplace. Saat kehabisan sayuran, aku biasa membeli di warung dekat rumah atau sekolah. Untuk keperluan yang lebih banyak, biasanya aku tinggal mengirimkan WA pada tukang sayur keliling pada malam hari, dan akan ia antarkan keesokan paginya. Rutinitas harian membuatku jarang berbelanja di pasar, meskipun sekali dua kali aku masih mampir ke pasar sekadar membeli buah-buahan. Biasanya ini kulakukan di sela waktu menunggu anak-anak berkegiatan, yang kebetulan lokasinya berdekatan dengan sebuah pasar tradisional.
Mempunyai rumah dekat pasar, merupakan suatu kemewahan tersendiri. Ini pernah kurasakan saat aku kecil dulu. Rumah kami hanya berjarak sekitar 200 meter dari pasar. Ibu sering mengajakku berbelanja ke sana. Pada hari libur, aku sering menawarkan diri untuk berbelanja. Di kelas 4 atau 5, aku sudah 'dilepas' ke pasar sendiri. Berbekal selembar kertas berisi catatan belanjaan beserta estimasi harga dan uang secukupnya, aku pergi membawa kantong belanja.
Dulu, sayur mayur dan barang dagangan lainnya diletakkan begitu saja di lantai beralas terpal. Pembeli harus berjongkok saat memilih sayuran. Sekarang pun, di beberapa pasar kita masih menjumpai hal seperti itu, meskipun sebagian besar lapak sudah memakai meja sebagai etalasenya. Berbagai ilmu memilih sayur diajarkan Ibu kepadaku, seperti bagaimana memilih wortel dan buncis yang masih muda, sehingga tidak keras sewaktu dimasak. Hal paling menyenangkan saat belanja di pasar kala itu adalah jika uang belanja masih tersisa saat semua barang dalam daftar sudah terbeli. Karena... artinya aku bisa membeli jajan pasar! Cerita tentang jajan pasar ini akan kuceritakan di posting terpisah, ya. 😁
Walaupun aku senang jika diajak ke pasar, aku tidak pernah suka kalau diajak ke segmen daging. Aku tak suka bau ikan dan daging di pasar. Baunya selalu membuatku menahan napas. Ajaran Ibu tentang cara membedakan daging segar kerap kujawab dengan anggukan kepala, antara tidak mengerti dan ingin cepat berlalu dari situ, haha... Apalagi saat melewati penjual sapi, tanpa sungkan aku memencet hidung karena tak tahan dengan bau prengus-nya. Eh iya, kebetulan Ibu tidak pernah membeli daging di pasar dekat rumah, karena kurang baik kualitasnya menurut beliau. Jadi, kami selalu ke pasar di kota jika ingin membeli daging dan ikan serta makanan laut lainnya. Meski begitu, aku selalu makan dengan lahap jika daging dan ikan yang dibeli di pasar telah terhidang di meja makan kami.
Kemewahan mempunyai rumah di dekat pasar ternyata juga dimiliki ayah dan ibu mertua. Di usianya yang sudah menginjak 80 tahun, beliau selalu berjalan kaki ke pasar setiap hari, kecuali di hari Minggu dan saat pasar tutup. Beberapa tahun lalu aku pernah menanyakan alasan mengapa beliau ke pasar tiap hari. Bukankah cukup 2-3 kali seminggu, karena bahan-bahan yang dibeli bisa dimasukkan ke dalam kulkas? Jawabannya, karena ke pasar telah menjadi rutinitas yang dilakukan setiap pagi selama berpuluh-puluh tahun. Rasanya ada yang kurang jika sehari saja tidak ke pasar. Beliau pergi ke pasar bukan hanya ingin berbelanja saja, melainkan juga karena senang berinteraksi dengan para pedagang di sana. Tak heran, beliau mengenal dengan baik bapak tukang pisang, ibu tukang sayur, serta penjual lainnya. Dan sama sepertiku, saat kecil suami pun suka menemani ibunya ke pasar dengan satu tujuan: karena pulangnya dibeliin kue basah! 😆